Dibangun si Kecil, Dijatuhkan si Penguasa

Penulis : Arbok

Kongsi jahat yang dibangun penguasa serakah klub-klub sepakbola besar di dunia belakangan ini menggemparkan publik pencinta sepakbola melalui breakaway competition-nya, yang diberi nama European Super League (ESL). Betapa tidak, terobosan yang dibuat oleh 12 pemilik klub besar ini mencoba untuk mendobrak gaya atau format bermain dari sebuah kompetisi olahraga. Ya.. format yang menang ya menang, yang kalah yaa kalah, selayaknya kompetisi gitu lho. Namun, ESL ini di awal kemunculannya nampak seperti ingin mengambil kembali “hak”-nya sebagai klub “besar” untuk muncul di kompetisi besar. Ia merajuk selayaknya anak kecil yang kehilangan menit kebahagiaannya dan menuntut kepada sang induk untuk memberikan perhatian dan kasih sayang lebih lagi.

Alih-alih mendapatkan perhatian ataupun kasih sayang, justru publik melayangkan hujatan keras  terhadap kedua belas klub yang merajuk itu. Mayoritas publik menolak penyelenggaraan bualan macam ESL ini. Menurut kebanyakan orang, sepakbola adalah kompetisi yang bukan hanya dimiliki dan atau dapat diprivatisasi oleh segelintir kelompok yang mengklaim dirinya besar, tetapi ini dimiliki oleh semua yang mampu bertahan dan menunjukkan tajinya di atas lapangan. Makanya, tidak heran ketika fans klub besar yang sudah sedari kecil mendukung timnya tanpa pamrih—penulis menjadi bagian dari kelompok fans itu, menyebut klub kesayangannya sebagai klub yang memalukan. Klub tersebut telah membelot dan mengkhiati perasaan para fans.

Tentunya penulisan opini ini berdasarkan pikiran dan pandangan subjektif dari penulis sendiri. Tetapi, penulis mempersilahkan pembaca untuk memahami alasan demi alasan  yang dihantarkan para founding founders ESL ini. Silahkan pula menyeleksi alasannya yang menunjukkan keberpihakan pada keindahan sebuah kompetisi. Para perakit ESL yang diantaranya adalah Manchester United, Manchester City, Liverpool, Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur, Atletico Madrid, Barcelona, Real Madrid, Ac Milan, Internazionale, dan Juventus pada dasarnya kehilangan sumber pemasukan dan membutuhkan keuntungan lebih. Ya, alasannya adalah ada di finansial atau UANG. Katanya melalui media-media, ini demi keberlangsungan sepakbola dan kesenangan fans. Tahi kucing! Mana ada fans yang senang ketika melihat garis historis dan tradisi sepakbola dibelokkan hanya demi menyenangkan dan mengenyangkan “klub besar”?! Tipu muslihat ini sudah pasti ditolak mentah-mentah oleh kita. 

Penulis agak tersenyum ketika membaca bahwa nyatanya Arsenal dibentuk dari kelompok pekerja Inggris, Manchester United dibentuk dari buruh pabrik pula, Liverpool pun demikian samanya, dan beberapa klub lainnya yang tergabung dalam pendirian kompetisi semu buatan kapitalis ini nyatanya berawal dari si kecil. Mereka semua di mulai dari golongan kecil yang berjuang untuk mendapatkan posisi di mata dunia. Si kecil berubah menjadi besar karena usaha bukan karena uang saja, bro. Izin mengutip slogan Arsenal nan sakral Victory Through Harmony, sebenarnya sudah menunjukan bahwa kemenangan dan kejayaan (jelas) diraih dari sebuah keharmonisan, bukan semata-mata karena keuangan. Meskipun demikian bobroknya konsep dari turnamen ini, nyatanya sang induk yakni UEFA dan FIFA, sama korupnya. Mereka pun sama-sama mengincar keuntungan yang lebih dari klub yang tergabung di dalamnya. Makanya, ESL terstimulus karena kondisi tersebut pula. Data dan tulisan lainnya mengenai UEFA dan FIFA yang menjadi koperasi terkorup di dunia sepakbola sudah banyak bersebaran di internet. Penulis sengaja tidak menyajikan data tersebut karena penulis hanya ingin menggaris bawahi bahwasanya sepakbola sekarang sudah berubah menjadi komoditas ekonomi. Semua kembali kepada UANG hehe. 

Hahaha, melalui fenomena aneh ini setidaknya kita menjadi sadar bahwasanya  sepakbola yang dibentuk untuk menjadi hiburan masyarakat kecil sudah diusahakan menjadi mesin penghisap darah layaknya vampir. Mereka yang berkuasa tidak perlu lagi melihat tradisi  dan sejarah yang sudah dituliskan bahkan dengan darah fans-fans yang lalu sejarah itu tertulis. Melalui ESL, UEFA, dan FIFA menunjukkan sebenarnya itu hanyalah arena bermain orang-orang kaya yang gila harta. Kita penonton di luar garis lapangan, yang mendedikasikan diri kepada sepakbola dan klub kebanggaan kita, hanya bisa bertepuk tangan seraya dihisap pelan-pelan oleh penguasa. Kita yang menjadi roda dan mesin penghasil  uang untuk industri sepakbola ini, hanya bisa hancur dibawah kendali sang pengemudi.

 Apakah sejarah dan tradisi dari sepakbola telah jatuh? Penulis menyerahkan kembali kepada pembaca karena penulis sendiri kurang tahu.  

Kalung Emas dan Sebuah Siksa dalam Secarik Surat

Karya: Alifiah Nurul Izzah

Yangon, 15 Maret 2021

Sudah seminggu bapak telah tiada, semakin hampa saja rasanya. Sejak kecil, hanya bapak yang bertanggung jawab atas hak hidupku di dunia ini. Ibuku? Kukira beliau hanya lelah sesaat. Namun, aku tahu beliau tidak akan kembali bahkan setelah bapak wafat. Hidupnya mungkin sudah bahagia entah di mana, dengan siapa. Aku hanya memiliki bapak, seorang supir taksi tua yang semangatnya tak pernah habis dan terus membara.

Kuning pekat dan sedikit berkarat, itulah kalung emas peninggalan bapak satu-satunya yang masih tersimpan di dalam kotak merah ini. Bapak tidak akan melupakan ibu sampai kapan pun, sebab hadirnya aku adalah anugerah yang tiada artinya tanpa peran seorang ibu 18 tahun yang lalu. Aku tahu, ibu hanya lupa membawa kalung ini ketika beliau hendak pergi. Masih tergambar raut wajahnya yang seakan-akan telah tersihir bujuk raut pengusaha kaya dari negeri seberang. Di malam yang gelap, tak segan dirinya untuk keluar dari rumah, dan melupakan aku, anak satu-satunya yang masih terjaga ketika kegaduhan itu terjadi.

Pekerjaan bapak memang tidak keren. Tidak ada yang bagus di mata ibu ketika bapak gagal dengan bisnisnya kemudian berakhir tragis di mobil sedan bekas.  Berbekal uang seadanya, bapak sulap mobil itu menjadi semacam taksi gelap. Tiada lagi pakaian berdasi, bapak berubah menjadi pria berkaos dan bercelana lusuh.

Sedikit demi sedikit, bapak tiriskan uang untuk biaya sekolahku. Masih kuingat juga, seragam lusuh sekolahku yang bapak belikan baru dengan senyuman. Wajah sumringahnya sangat cerah di mataku, ketika bapak belikan pula ibu sekalung emas berliontin bulat cantik dan mahal sambil berkata, “Tolong bantu bapak jaga ini baik-baik, Nak. Kalau ibu sudah tiada, suatu saat kalung ini pasti jatuh di tanganmu.”

Saat itu rasanya aneh. Bapak tiba-tiba memberikan ibu kalung yang mahal. Lebih anehnya lagi, perkataan tersebut ternyata didengar apik oleh Tuhan. Benar saja, ibu pergi melupakan keluarganya tak lama setelah kalung itu diberikan bapak. Namun, Tuhan, kenapa bapakku Kau ambil juga ke atas surga?

Bapak yang kala itu sedang menyetir taksinya bersamaku, harus meregang nyawa ketika ia berhenti sebentar untuk menolong sekelompok pemuda mahasiswa yang terluka. Ternyata, negaraku sedang tidak baik-baik saja. Pihak militer negara berusaha mengambil paksa kekuasaan resmi pemerintahan. Ya, sampai semua orang tiba-tiba harus mau untuk tunduk dengan kekerasan. Demonstrasi pecah. Banyak warga yang melawan, termasuk bapak dan taksinya yang berubah menjadi mobil ambulance darurat. Nahas, bapakku ditembak tepat di dadanya oleh seorang prajurit pembawa sial itu di depan mataku sendiri.

  Aku selamat berkat mahasiswa-mahasiswa yang bapak tolong sebelumnya. Walaupun dengan tangannya yang terluka, salah satu dari mereka itu terpaksa langsung menancapkan pedal gas, ketika tahu di dalam mobilnya terdapat aku yang masih berseragam sekolah. Dengan berat hati, aku dan kakak-kakak itu merelakan jasad bapak di pinggiran jalan, tergeletak bersimbah darah. Sambil menangis, kakak-kakak itu memelukku erat seraya mengucapkan kata maaf bertubi-tubi. Demikianlah dosaku yang paling besar itu, meninggalkan bapakku dengan cara yang sangat tidak pantas.

Seminggu berlalu, kalung itu kini sudah berada di leherku. Kalung yang menjadi satu-satunya harta bapak yang tersisa dari laci kecil mobilnya. Kini, aku menjadi seorang gadis sebatang kara yang terlanjur pasrah dengan nasib hidupnya. Hidup di tempat tak bertuan dan makan seadanya setelah berpisah dengan kakak-kakak mahasiswa. Aku tahu, bapak tidak pernah mengajarkanku untuk merepotkan orang lain. Biarlah mereka tetap berjuang membela kebenaran di negeri ini.

Di gedung tinggi yang tak lagi berpenghuni ini, aku ingin berbicara dengan Tuhan. Berbicara bagaimana hidupku berjalan seperti tiada harapan. Aku yakin, perjuangan bapak sangat mulia di mataNya. Namun, mengapa rasanya rindu ini tak dapat kubendung lagi? Akankah Tuhan mau mengampuniku dan memberikanku kehidupan yang bahagia setelah aku pergi nanti? Yang kupikirkan saat ini hanyalah keinginan untuk bertemu bapak dan membawa kalung ini kembali ke tangannya.

Tidak ada lagi waktu untuk berandai-andai. Sampai jumpa dunia. Tunggu aku di kehidupan baru yang jauh lebih indah dari yang kurasa sekarang. Toh, aku hanya ingin bertemu bapak dan Tuhanku dengan sebentar.

UTBK: Kisah Impian dan Bisnis Bimbingan

Oleh: Fabian Rangga Putra

Momentum bulan Maret hingga April merupakan tanggal yang penting sekaligus mendebarkan bagi siswa kelas dua belas SMA. Bagaimana tidak? wong pengumuman seleksi SNMPTN dan dibukanya pendaftaran SBMPTN itu deket-deketan. Mereka yang telah lulus melalui jalur SNMPTN pastinya lega untuk saat ini, namun beda ceritanya dengan mereka yang tidak lolos SNMPTN atau bahkan tidak masuk list penjaringan kuota SNMPTN. Mereka yang tidak lulus mayoritas harus banting stir untuk mempersiapkan diri dalam UTBK untuk SBMPTN. Layaknya game battle ground tanpa pintu (dibaca Free Fire), mereka harus bergelut matian-matian menghadapi ratusan hingga ribuan siswa untuk mendapatkan satu kursi di kampus dan jurusan impian mereka. Uniknya di UTBK ada beberapa materi yang tidak pernah diajarkan di kurikulum SMA, contohnya logika kuantor atau bentuk soal Panda yang sempat viral pada UTBK 2020 silam. Dengan adanya materi yang tidak diajarkan tersebut ternyata menimbulkan efek kepada banyak siswa yang mencari tempat bimbingan belajar selain di sekolah. Bimbingan belajar ini pun hadir dengan konsep online maupun offline dengan patokan harga yang bervariasi, mulai dari harga yang sangat terjangkau hingga mematok harga sampai ratusan juta karena memiliki garansi kelulusan. Fenomena inilah yang akan kita bicarakan disini. Lembaga bimbingan belajar kini seolah-olah menjadi ladang bisnis baru yang menjanjikan cuan besar dan tetap eksis hingga tahun ke tahun. Tapi pertanyaannya apakah ini menjadi hal yang baik bagi siswa? atau malah menjadi pemeras kantong siswa dan keluarganya?

Seiring semakin canggihnya zaman kini bimbingan belajar telah berkembang menjadi dua varian mencengangkan yaitu bimbel online dan bimbel offline. Keduanya bersaing saling adu strategi dalam menjaring siswa agar bergabung dengan mereka. Bak penjual provider kartu Smartfren, banyak sekali promosi yang dilakukan pihak bimbel menuju sekolah-sekolah guna menggaet para pelajar baru. Pertama kita akan membahas tentang bimbel offline terlebih dahulu. Bimbel offline sendiri yang kita ketahui bersama sudah malang melintang di Indonesia, bahkan jauh sebelum bimbel online menjadi trending baru-baru ini. Soal biaya, bimbel offline lebih mahal dari bimbel online karena memang fasilitas yang didapat cukup banyak mulai ruang kelas ber-AC, buku, konsultasi langsung, hingga merchandise. Tak tangung-tanggung, mereka pun dengan lantang berani memberi jaminan lulus dengan konsekuensi uang kembali bila tidak lulus. Masalahnya disini adalah branding tersebut. Pihak bimbel offline pasti akan mem-branding dirinya seakan mereka bimbel terbaik, bahkan dalam proses pemasarannya ke sekolah-sekolah terkadang seorang sales sampai sedikit “menyindir” bimbel pesaing lain. Terkadang juga sampai meminta nomor telepon siswa dan setelah mendapat nomor didapat mereka akan melakukan promosi melalui nomor tadi yang bagi sebagian orang merasa terganggu dengan pesan mereka. Dengan adanya promosi yang masif ini, pertanyaannya sekarang ialah apakah menjadi hal yang etis ketika mem-branding bimbel dengan sedemikian masifnya dan menawarkannya kepada siswa-siswa yang tentunya pada waktu itu sedang menghadapi fase dilema, tertekan, dan takut dalam menghadapi UTBK? Dampaknya adalah siswa menjadi semakin bertambah beban fikirannya untuk memikirkan pilihan bimbel yang tepat ditengah beban-beban fikiran lainnya seperti materi yang diujikan, pilihan jurusan, nilai di sekolah, dan sebagainya. Menurut hemat saya, disini bukannya semertea-merta melarang kegiatan promosi. Namun, dengan melihat sebegitu masifnya maka seakan terlihat tidak etis apalagi memiliki dampak pada siswa.

Kemudian kita beralih ke bimbel yang sifatnya online. Bimbel online mulai digemari baru-baru ini dengan munculnya aplikasi bimbel online yang bisa diunduh via smartphone. Biaya yang ditawarkan pun cukup beragam, biasanya disesuaikan dengan durasi berlangganan. Branding-nya pun kurang lebih sama seperti yang dilakukan lembaga bimble offline pada umumnya. Pembedanya terletak pada bimbel online lebih sedikit mempromosikan fiturnya karena memang hanya berbasis digital, tidak ada kelas atau buku-buku yang ditawarkan. Promosi yang dilakukan jangkauannya lebih luas tak hanya di sekolah-sekolah bahkan sampai iklan di TV, YouTube, dan media sosial banyak berlalu-lalang iklan-iklan tentang bimbel online. Efek yang ditimbulkan pun sama akan membuat siswa bingung memilih dan menambah beban pikiran mereka, meskipun ada beberapa aplikasi bimbel online yang menyediakan free-trial. Poin saya pun disini sama halnya dengan sebelumnya, apakah etis melakukan branding sedemikian masifnya dan menyodorkannya pada siswa yang pada saat itu tengah berada pada fase gelisah, takut, dan galau menghadapi UTBK, atau bahkan sedih karena ada masalah pada hidupnya. Bayangkan bagaimana bila pihak bimbel menawarkan produknya tadi kepada siswa yang notabenenya berasal dari ekonomi kebawah dan dia tahu bahwa dia tidak mampu ikut bimbel tersebut namun tetap “diteror” oleh pihak bimbel guna sarana promosi. Betapa tertekannya dia ditengah ekonomi yang sulit, kesulitannya meraih impiannya, dan ditambah promosi-promosi datang yang dia tahu dia tidak mampu membelinya.

Menteri Pendidikan kita saat ini pernah mengatakan bahwa UN sebagai salah satu bentuk diskriminasi kepada siswa, di mana mereka yang memiliki ekonomi lebih akan memiliki chance lebih besar untuk memiliki nilai tinggi karena mampu membeli bimbel. Sedangkan mereka yang ada di ekonomi menengah ke bawah tidak punya biaya untuk bimbel menghadapi UN. Lalu, apa bedanya dengan fenomena UTBK? Framing yang seakan-seakan pula mengharuskan seorang siswa ikut bimbel untuk menghadapi UTBK karena terdapat materi yang tidak diajarkan di sekolah. Poin saya disini bukan untuk meminta agar UTBK dihapus, tetapi apakah tidak ada modifikasi kurikulum yang bisa dilakukan oleh pemerintah, terutama Kemendikbud agar sekolah bisa sedikit mengajarkan materi-materi UTBK agar ketergantungan siswa terhadap bimbel, baik online maupun offline menjadi bsedikit berkurang. Selama ini pelajaran di SMA terutama kelas dua belas hanya terfokus pada bagaimana bisa menghadapi Ujian Sekolah sehingga yang terjadi adalah saat seorang siswa memulai persiapannya menghadapi UTBK, ketergantungannya terhadap bimbel menjadi sangat besar. Ketergantungan inilah yang dimanfaatkan oleh pihak bimbel untuk meraup siswa dan keuntungan sebanyak-banyaknya. Pada akhirnya yang terjadi bukanlah proses belajar, melainkan “its all about business”. Hingga pada akhirnya kita sampai pertanyaan pamungkas yaitu “apakah sekolah juga menjadi ladang bisnis saat ini?”.

Book Of The Month : “Hujan Bulan Juni” (Review oleh Farrel, Sosiologi 2018)

Judul : Hujan Bulan Juni

Pengarang : Sapardi DJoko Damono

Penerbit : Grasindo

Tahun Terbit : 1991

Tanah air kembali kehilangan penyair rendah hati, Sapardi Djoko Damono pada Minggu (19/7) pagi. Kepergiannya membuat para pembaca terutama penggemar yang sering membaca karya-karya beliau memposting kembali puisi – puisi yang ia tuliskan pada buku berjudul Hujan Bulan Juni. Buku ini berisi kumpulan sajak puisi Sapardi Djoko Damono yang paling fenomenal, salah satunya yang terkenal dengan judul “yang fana adalah waktu”. Terdapat 102 kumpulan puisi karya yang ditulis bapak Sapardi dari tahun 1964 sampai dengan 1994. Buku karya bapak Sapardi ini sangat direkomndasikan karena dapat membuat anda yang belum mengenal karya beliau dapat mengenal karya-karya puisi beliau yang begitu hebat dan dapat belajar bagaimana bapak Sapardi ini menyampaikan puisi-puisinya yang begitu khas.

PERJALANAN TIKTOK DI INDONESIA, DULU DICEKAL SEKARANG DIPUJA ( Oleh : Deandra Adine, M. Faiz Mumtaz )

Aplikasi yang muncul pertama kali pada tahun 2016 disebut, Douyin, di negara asalnya, Cina. Douyin merupakan aplikasi video pendek yang dikeluarkan oleh perusahaan Cina, ByteDance. Akibat dari banyaknya pengguna aplikasi di negeri bambu ini, ByteDance melakukan perluasan jangkauan aplikasi menjadi aplikasi yang dapat di akses secara global dengan nama Tiktok. Seperti Youtube, yang mendukung kreativitas generasi muda, Tiktok juga memiliki misi memberikan fasilitas video pendek untuk banyak orang agar dapat mengekspresikan kreativitasnya. Zhang Yiming, sosok dibalik Tiktok, mengatakan bahwa di industri konten, teks dan gambar telah berkembang menjadi video, dan konten banyak yang berasal dari pengguna. Hadirnya tiktok dilakukan untuk menjawab kebutuhan di ranah industi tersebut.

Pada tahun 2018, Tiktok hadir di Indonesia sebagai aplikasi hiburan yang menarik perhatian warga net. Di tahun yang sama, Kementrian Kominfo memblokir aplikasi asal Cina, yang dianggap membawa konten negatif untuk anak-anak seperti pornografi, pelecehan agama, dan lain sebagainya. Keputusan pemblokiran ini mendapat respon dari headquarters Tiktok. Mereka terbang ke Indonesia untuk memenuhi persyaratan terkait keamanan dan penyaringan pada kualitas konten. Pemenuhan syarat itu berbuah hasil sehingga Kementrian Kominfo membuka blokir sampai akhirnya aplikasi tersebut dapat digunakan di Indonesia, bahkan sampai sekarang. Tahun 2020, dimana terjadinya pandemi virus corona tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di seluruh dunia, mengharuskan tiap warga negara untuk melakukan karantina dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Konten-konten seperti imitating, tutorial memasak, atau dance yang disuguhkan oleh Tiktok dapat menjadi upaya untuk menghibur diri di kala karantina.

            Tiktok menjadi media platform yang paling viral saat ini di Indonesia. Tak sedikit para selebriti, influencer, para tokoh penting hingga kalangan remaja tanggung tak luput dari demam Tiktok. Jika kita flashback pada tahun 2018, salah satu nama yang akan terngiang-ngiang jika mendengar kata Tiktok maka kita akan tertuju pada sosok Bowo Alpenliebe. Dengan gaya nyentriknya, Bowo mengaet penggemarnya lewat video unggahannya di Tiktok hingga melakukan meet and greet “berbayar” dengan para penggemarnya. Tak jarang, orang-orang pada saat itu memiliki stigma terhadap Tiktok ini. Namun, fenomena Tiktok seakan akan mejadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan modern saat ini. Melalui konten-kontennya, Tiktok menjelma sebagai media platform yang paling banyak digunakan. Bahkan telah diunduh lebih dari 700 juta pengguna pada 2019. Head of User and Content Tiktok Indonesia, Angga Anugrah Putra menyebutkan khusus pengguna Tiktok Indonesia memiliki karakter unik yang senang berbagi dan menggunakan beragam fitur unik dengan ragam kreatifitas.

Movie of The Month : Joker (Review oleh Farhan, Sosiologi 2018)

Judul: Joker

Sutradara: Todd Phillips

Genre: Thriller, Drama

Durasi: 2 Jam 2 Menit

Tahun Produksi: 2019

Rilis pada tanggal 4 Oktober 2019, film yang dibintangi oleh aktor-aktor ternama seperti Joaquin Phoenix sebagai aktor utama, Robert De Niro dan Brett Cullen ini menceritakan tentang seseorang bernama Arthur Fleck yang merupakan warga Gotham dimana hari-harinya selalu dipenuhi oleh kesialan dan juga masalah dimana-mana. Arthur, panggilan sapaannya juga diketahui memiliki penyakit kesehatan mental yang sering membuatnya tertawa sendiri sampai harus mengonsumsi obat-obatan untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut. Di sisi lain, Arthur juga merupakan seorang pekerja keras yang tidak menyerah meskipun harus di PHK berkali-kali dan juga merupakan seorang yang setia dan penyayang kepada ibunya sehingga sampai terjadi pada suatu kejadian yang merubah drastis kepribadian dan kehidupan Arthur.

Film Joker tersebut merupakan salah satu film paling laris di tahun 2019 yang juga menuai banyak pujian dari khalayak masyarakat dan juga mendapatkan popularitas dan rating yang sangat tinggi. Pemeran Joker yaitu Joaquin Phoenix juga dianggap sukses memerankan karakter Joker melebihi para pendahulunya seperti Jared Leto di film Suicide Squad (2016), Heath Ledger di film The Dark Knight (2008), Jack Nicholson di film Batman (1989), dan Cesar Romero di serial TV Batman (1966-1968).

Alur film ini diawali dengan kehidupan kota Gotham yang amat suram, konflik dimana-mana, dan suasana yang tidak aman bagi masyarakat. Arthur yang hidup hanya berdua dengan ibunya harus berjuang untuk tetap hidup di kota tersebut. Arthur mengisi hidupnya dengan menjadi badut di jalanan sampai badut di rumah sakit demi mecukupi kebutuhannya dan mencoba melewati rintangan dan ancaman yang muncul terhadap dirinya meskipun diselingi dengan penyakit kesehatan mental yang dialaminya. Sehingga pada suatu kejadian, dirinya menyadari bahwa dia tidak harus berpura-pura untuk bahagia dan juga menerima realita yang sebenarnya terjadi padanya. Film ini cukup berbeda dengan film-film dan komik yang dibintangi karakter Joker sebelumnya dimana diperlihatkan Joker yang terkesan “gila” justru di film ini Joker dibuat terlihat lebih tenang dan dingin tentunya dengan karakter psikopatnya. 

Dari segi cerita, alur serta penokohan, film ini sangat bagus untuk ditonton, tetapi film ini tentunya berlabel dewasa sehingga perlu didampingi orang tua bila menonton film tersebut dibawah umur. Sepanjang film tersebut kita akan disuguhkan adegan kekerasan dan adegan emosional yang dapat menggugah hati kita dan tentunya kita juga akan menemukan kejadian tak terduga di film Joker tersebut sehingga film ini semakin menarik untuk ditonton. Film ini juga banyak mendapat penghargaan sampai menyabet 11 Nominasi dan sang tokoh utama, Joaquin Phoenix juga sukses meraih penghargaan sebagai Best Actor sekaligus di Piala Oscar 2020.

Book Of The Month : “DISGUISED-Sang Penyamar” (Review oleh Shila, Sosiologi 2019)

Judul               : DISGUISED-Sang Penyamar

Pengarang      : Rita La Fontaine de Clercq Zubli

Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama

Kota Terbit    : Jakarta

Tahun Terbit : 2009

Tebal Buku    : 384 halaman

            Buku karya Rita La Fontaine de Clerq Zubli ini dituturkan berdasarkan kisah nyata kehidupan penulis pada saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda. Di dalam buku ini mengisahkan tentang seorang anak bernama Rita La Fontaine de Clerq Zubli yang harus melakukan penyamaran sebagai sosok anak laki-laki. Penulis mengangkat beberapa tokoh dalam karyanya yaitu ayahnya Victor, ibunya Paula, tantenya Tante Suus, dan kedua adiknya laki-lakinya yang bernama Ronald dan Rene. Perebutan kekuasaan terhadap Hindia Belanda yang dikuasai terlebih dahulu oleh Belanda membuat Jepang menggunakan strategi licik dengan menahan para keturunan Eropa termasuk Belanda. Rita sendiri merupakan seorang anak keturunan Indo-Belanda. Penahanan yang dilakukan oleh Jepang berlangsung cukup lama. Di dalam buku ini menceritakan bagaimana Rita dan beberapa tokoh lain yang turut ditawan bertahan dari perilaku bangsa Jepang. Cerita dari bab ke bab disampaikan dengan cukup baik dan terkesan memasukkan pembaca ke dalam dimensi masa itu. Penggunaan bahasa campuran berupa Belanda, Jepang, Indonesia serta beberapa istilah lain membuat buku ini tersaji dengan baik dan menambah wawasan pembaca. Kisah nyata yang disampaikan oleh penulis seakan membuat pembaca semakin tertarik karena berdasarkan sudut pandang pelaku sejarah pada saat itu. Klaim buku mengenai memoar masa perang cukup terasa sampai-sampai pembaca yang menghayatinya akan merasakan atmosfer masa itu. Namun sisi kesejarahan buku ini mungkin bagi beberapa orang yang memiliki dasar ketidaksukaan pada sejarah mungkin akan merasa sedikit bosan. Buku ini memang cocok untuk para penggemar sejarah bangsa terutama yang ingin mengetahui bagaimana kehidupan di masa transisi kekuasaan Belanda dan Jepang. Akan tetapi buku ini menyajikan sudut pandang yang cukup pro Belanda, karena itu buku ini dianggap memiliki tingkat subjektivitas pada tokoh utama yang cukup tinggi intensitasnya.  

Berita Terkini : Menuju Kenormalan Baru

Oleh Raihan Hikmatullah (Sosiologi 2019)

Dikutip dari Kompas.com (27/05/2020) Indonesia bersiap untuk menyabut era new normal atau fase kenormalan yang baru. Rencana ini masih akan terus disusun bersamaan dengan sosialisasinya nanti hingga vaksin ditemukan.  

Presiden Joko Widodo mengisyarakatkan bahwa Indonesia harus tetap produktif tetapi tetap menjaga diri agar aman dari wabah Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) ini. Alasan utama yang kemudian dijadikan landasan pemerintah mengambil kebijakan ini adalah pemulihan ekonomi yang sudah tergerus selama pemberlakuan PSBB.

New normal  sendiri dapat diartikan sebagai perubahan perilaku manusia setelah wabah COVID-19 dengan tetap melakukan protokol resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah ataupu World Health Organization (WHO) dalam menjalani aktivitas. Adapun protokol yang harus dilakukan masyarakat dalam menjalani kondisi kenormalan yang baru ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengenakan masker. Protokol ini kedepannya akan menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh masyarakat dan akan diawasi ketat oleh pemerintah.
  2. Batasan Interaksi Sosial di tempat umum. Ruang publik yang dibuka kembali nantinya harus memberikan batasan interaksi sosial guna menghindari penyebaran virus.
  3. Pola hidup bersih. Mencuci tangan, tidak menyetuh wajah ketika tangan belum bersih, serta menerapkan etika batuk dan bersin.

Jika ini terlaksana, harapannya roda pertumbuhan perekonomian yang terpuruk dapat berjalan lagi sebagaimana mestinya. Selain itu juga, pemerintah berharap kebijakan ini dapat meningkatkan atau membangkitkan kembali produktivitas dari masyarakat dengan tetap memperhatikan protokol pencegahan COVID-19.

Opini: Kesetaraan Atau Kesamaan Gender Oleh A Sep

Jadi akhir-akhir ini aku punya hobby baru buat jadi perempuan beneran, karena kata mereka sih aku “kurang cewek”. Sekarang makin aku menyelami hal-hal berbau perempuan, makin aku sadar bahwa jadi perempuan itu bukan dari tampilan fisik tapi dari hati dan akal budi. Nah terus aku nemuin secercah cahaya (yaelah) namanya Equality Gender. Beruntungnya lagi equality sohib banget sama Feminisme, isme yang butuh perjuangan besar buat exist di negeri patriarki ini.

Lalu obrolan tentang kesetaraan gender pun di mulai, dari pas di warkop sebelum corona menyerang, chatan random malem-malem, sampai-sampai pas nongski online di g**gle meet setelah ngerjain UAS teori yang subhanallah bikin tegang satu angkatan dan pas banget di malem jumat. Random emang teman-temanku ini. Dengan ampas UAS yang masih anget di otak, tiba-tiba muncul pertanyaan:

Kenapa ada gerbong khusus wanita di KRL?

Katanya kesetaraan gender, tapi kok ngebelainnya cewek doang?

Kalo di sosmed cewek centil ke cogan boleh, tapi giliran cowo kok dibilang pelecehan?

Mungkin ga sih gerakan feminis yang sekarang malah mendominasi balik, gantiin patriarki?

Aku bakal coba bahas di sini karena belum semua pertanyaan mereka terjawab, walau sedikit ngampas, dengan ngejawab perosalan yang paling dasar. Apa bedanya kesetaraan dan kesamaan gender?

Kesetaraan itu memperjuangkan sesuatu sesuai porsinya, koridornya, untuk mendapat kesempatan yang sama dan menjadi dirinya sendiri tanpa paksaan atau diskriminasi oleh orang lain dalam memenuhi hak dan kewajibannya, jadi adil. Sedangkan kesamaan cenderung membagi sesuatu secara rata, tidak memandang porsi dan kebutuhan masing-masing. Ibaratnya pake baju gimanapun bentuk tubuhmu akan dikasih ukuran L semua, padahal belum tentu pas. Sampe sini faham?

Yaudah yuk lanjut, jadi kenapa di KRL ada gerbong khusus perempuan? Yuk balik lagi ke paragraf sebelumnya, kan kesetaraan sesuai porsinya. Contohnya ibu hamil, ibusui, atau membawa anak kecil. Kebayang ga sih kalo di kereta desak-desakan mereka ga dapat tempat duduk? Apalagi kalo ketemu orang yang pura-pura tidur kalo dikodein buat ngasih kursi prioritasnya, rasanya pengen dihantam biar sekalian ga bangun lagi. Oh iya jangan lupa sama perempuan yang lagi datang bulan. Nggaksembarangan loh ya sakitnya, awas aja kalo pas baca ini bilang “yailah cowo kan juga sunat, sakitan mana?”. Kene tak tapok cangkemu! Coba aja kamu rasakan sunat tiap bulan. Itulah makanya kesetaraan sesuai porsinya, bukan berarti perempuan lemah dan laki-laki kuat, atau malah bilang laki-laki kan juga lelah seharian kerja, masa duduk aja gaboleh.Terserah deh, no komen.

Lalu kaum-kaum kepala batu saat baca ini akan bilang, tuh kan bela cewek terus, double standard nih. Nanti dulu belum selesai Malih. Justru kesetaraan gender ini mendukung hilangnya standar maskulin dan feminim juga. Sadar nggak sih selama ini laki-laki juga dikendalikan standar patriarki? Laki-laki gak boleh menangis, harus kuat, agresif, maju duluan, dan kelihatan lebih “tinggi” daripada perempuan. Laki-laki dipaksa untuk gak boleh kalah supaya wibawanya gak jatuh di hadapan perempuan, memendam semua emosi sendirian. Kasihan. Jadi jika perempuan boleh jadi petinju, montir, atau bodyguard, maka laki-laki juga boleh jadi koki, desainer, atau MUA. Jika ibu boleh berkarier, maka ayah juga boleh jadi stay at home dad, why not?

Dan lagi yang terpenting, pada tiap korban kekerasan dan pelecehan seksual baik itu lelaki ataupun perempuan tetap harus mendapat perlindungan dan pertolongan yang terbaik. Begitupun pelaku pelecehan, dimulai dari catcalling seperti kasus di sosmed itu. Cowok-cowok yang berkomentar vulgar dinilai tidak pantas, begitupun cewek-cewek yang bilang “rahimku anget mas”, “sama dede aja yuk bang”, dan komentar sejenis yang udahlah ga usah dilanjutin nanti kalian gumoh wkwk. Hal seperti ini seharusnya juga tidak pantas diucapkan untuk menggoda laki-laki. Ada juga statement yang bilang perempuan diperkosa karena gabisa jaga diri, lalu gak berharga, sampah. Sedangkan laki-laki kalo diperkosa namanya rezeki. Gak gitu konsepnya Malih. Trauma gak kenal gender.

Jadi apakah dengan kesetaraan gender ini bakalan mendominasi balik patriarki? Mungkin iya, atau nggak. Jadi inget doi bilang ini sama kayak teori kelasnya Marx, kesetaraan intinya menciptakan dunia tanpa kelas dimana laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, atau sebaliknya. Tapi bagaimanapun suatu konsep, teori, atau bahkan isme pasti punya mazhabnya sendiri-sendiri. Kalo teori Marx yang dikembangkan Lenin bisa sebegitu kerasnya, maka Feminisme juga bisa jadi sebegitu kerasnya melawan patriarki. Tapi aku tetap percaya dan berharap layaknya Marhaenisme (Marxisme yang disesuaikan Bung Karno dengan kondisi Indonesia) maka feminisme juga disesuaikan dengan budaya Indonesia, kurang lebih kita udah pelajari itu sebagai emansipasi wanita ala Kartini. Jadi aku harap kembali pada tujuan awalnya untuk memperjuangkan keadilan gender, maka proses kesetaraan ini akan mendamaikan polemik laki-laki vs perempuan menjadi laki-laki dan perempuan.

Artikel Program Kerja: Buletin Vol. 13

[ BULETIN HIMASIGI VOL. 13 ]

– Covid x Kita –

Halo teman-teman sosiologi!👋🏻
Gimana kabarnya? Sehat? Sehat dong pastinya!😅

Buletin vol. 13 kali ini terbit dengan kumpulan-kumpulan karya dari teman-teman sosiologi. Buletin vol.13 mengusung tema seputar pandemi covid-19 yang menjadi perhatian khusus di tahun 2020.

Seperti apa buletin vol.13 kali ini? Penasaran kan? Yuk baca dan cek dibawah ini ya!😉🎉