Satu atau Lebih Banyak?

Oleh Resdian Febrio

Teknologi. Penulis yakin kalian yang membaca tulisan ini, pastilah memiliki satu buah gadget canggih yang setiap harinya kalian andalkan dalam kehidupan kalian. Benarkah? Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa lepas dari apa yang namanya teknologi. Apapun itu. Dimulai dari saat terbangun tidur oleh alarm handphone atau jam weker yang penulis yakin sudah tidak banyak yang memakai jam weker. Beraktivitas kemana-mana dengan kendaraan yang memudahkan. Membuat janji dengan pesan pendek melalui handphone, dan lain sebagainya yang setiap harinya ada keterlibatan dari satu alat canggih kita yang memudahkan bernama teknologi. Dimulai dengan Revolusi Industri dimana ditemukan mesin uap sebagai penggerak mesin berat, industri menjadi sangat berkembang yang menandai dimulainya kemajuan teknologi dalam peradaban manusia. Perkembangan peradaban manusia membawa manusia dalam era modern dimana adanya teknologi diciptakan untuk memudahkan kaum kapitalis meningkatkan produktivitas yang secara otomatis dapat mengakumulasi modal.

Teknologi memang membuat keberlangsungan hidup manusia menjadi lebih efektif dan mudah. Akan tetapi, banyak dari kita yang tidak sadar dampak yang ditimbulkan oleh teknologi dan kemudahannya. Sadarkah kita bahwa teknologi membuat kita menjadi kasar dan jahat? Contoh kecil saja dalam kehidupan sehari-hari kita yang menggunakan kendaraan pribadi menuju kampus atau berpergian. Tidak sadarkah kita bahwa tidak hanya kita saja yang menggunakan kendaraan pribadi menuju kampus? Ada ratusan manusia yang juga menggunakan kendaraannya untuk mencapai tempat tujuan masing-masing, yang secara otomatis mengakibatkan jalanan menuju kampus sangatlah padat akan kendaraan. Kepadatan jalan yang ditimbulkan oleh kendaraan seringkali membuat kita terlambat masuk kuliah. Ya tidak? Penulis pun mengalaminya. Dan tidak jarang saat terjebak kemacetan, kita seringkali mengeluh dengan kendaraan di sekitar yang secara tidak kita sadari bahwa kita juga terlibat dalam menyebabkan kemacetan tersebut atau penuh sesak oleh kendaraan. Tak jarang pula kita temui adu mulut antar pengendara dijalan karena menerobos atau tidak sengaja menyenggol kendaraan orang.

Kemacetan pun mulai menjadi masalah di setiap kota kota besar. Tidak sadarkah kita bahwa macet adalah masalah yang kita timbulkan sendiri? Banyak sekali kebijakan-kebijakan yang diberlakukan demi mengurangi kemacetan. Seperti penerapan jalan satu arah di kawasan kampus Universitas Brawijaya Malang (jalanan dinoyo, panjaitan, veteran, sumbersari). Akan tetapi justru menyebabkan masalah baru, jalanan kampung menjadi alternative jalan cepat bagi masyarakat. Jalanan kampung yang awalnya tidak ramai pengendara kini pun mulai ramai dan seringkali didapati macet. Bagi penulis, kemacetan jalan tidak akan berhenti sampai kita mau memulai dari diri sendiri. Kalau jarak kampus dekat dengan rumah, kenapa tidak kita coba untuk berjalan kaki saja menuju kampus? Jika jarak kampus jauh dari rumah, kenapa tidak kita mulai untuk menggunakan kendaraan umum saja? Penulis yakin hal itu tidaklah mudah untuk kita lakukan, karena banyak alasan dibalik kenapa lebih memilih naik kendaraan pribadi dibanding jalan kaki ataupun naik kendaraan umum. Kenapa? Karena kita sudah terlena dan tergantung denngan kemudahan yang ditawarkan teknologi.

Kecanggihan alat telekomunikasi kini pun juga tak lepas dari perhatian penulis saat ini. Banyak sekali kita jumpai di sekeliling kita bahwa handphone yang dulunya berfungsi sebagai alat komunikasi telepon dan pesan tulispun kini sudah memiliki banyak fitur menarik di dalamnya. Bahkan bentuknya pun kini semakin beragam, bahkan semakin ringan. Kini handphone tidak lagi berfungsi sebagai alat komunikasi saja, akan tetapi sudah mulai dirambah oleh beberapa aplikasi yang menarik. Mulai dari kamera, musik, radio, video player, games atau permainan yang semuanya itu bisa diakses dengan mudah melalui handphone. Seringkali kita jumpai disekitar, banyak anak sekolah dasar bahkan anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak sudah fasih bermain tab atau handphone. Lucu memang ketika kita lihat anak anak sekarang lebih care dengan hewan peliharaan virtualnya daripada mahkluk hidup disekitarnya. Kenyataannya hidup tak hanya seluas layar gadget, akan tetapi kita seringkali mengacuhkan sekitar kita ketika sudah asyik dengan gadget kita masing-masing. Dalam kondisi sedang nyangkruk pun, kita lebih banyak menunduk menatap layar gadget masing-masing daripada ngobrol ngalor-ngidul yang esensinya lebih berkualitas.

Tentang teori One Dimensional Man yang dikemukakan oleh Marcuse, penulis sangat sepakat bahwasanya masyarakat sekarang adalah masyarakat yang berdimensi satu, dimana banyak orang yang terlalu larut dan mengikuti saja dalam kemajuan teknologi. Lalu bagaimana kita harus menyikapinya? Tentunya tidak terlalu berlebihan dalam menggantungkan diri pada kemudahan yang ditawakan teknologi. Menggunakan seperlunya dan sesuai kebutuhan adalah cara cerdas dalam menyikapi kemudahan dari teknologi. Teknologi ada karena memang untuk memudahkan manusia, bukan untuk membuat manusia kehilangan sisi humanisnya. Tidak ada solusi yang ajeg memang untuk menangani masalah teknologi, akan tetapi sikap kritis haruslah tetap ada dalam diri kita dalam menggunakan apapun bentuk kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi. Menurut penulis menjadi multi dimensional man lebih menarik sepertinya daripada hanya terkungkung dalam satu dimensi saja. Bagaimana menurut kalian?

Di Antara Gedung

 Oleh: Ayu Septy Wardah*

Di antara gedung-gedung menjulang ini

Ada sepetak tanah yang masih kosong

Di antara rumah beton bergaya modern ini

Ada sepetak tanah kosong belum terjamah

Di antara bangunan baru ini

Ada sepetak tanah untuk sebuah penghidupan

Dia masih bertahan

Meski terhimpit oleh beton dan semen

Dia masih cantik saat matahari terbit

Meski mulai tak terlihat keindahannya

Dia masih indah saat sore menjelang

Meski mulai sulit menemukannya

Tetaplah cantik, tetaplah indah

Meski cepat atau lambat kau akan berubah

Berubah menjadi bangunan beton dan semen

*Koordinator Departemen Pengabdian Masyarakat dan Advokasi 2013-2014

Teori Kritis dan Post-Modern

Oleh: LigarAbdillah*

Eksistensi Mahzab Franfurt dalam modernisasi pada dasarnya banyak memberikan kritik terhadap apa yang terjadi pada masa tersebut. Mahzab Frankfurt merupakan sebuah aliran yang memberikan perhatian lebih dan memberikan kritik terhadap kondisi-kondisi akibat berlangsungnya modernisasi, mahzab ini dikenal sebagai gerakan aliran kiri atau New Left. Aliran kiri inilah yang sebetulnya menyadari bahwa modernisasi berjalan tidak sesuai yang diharapakan, mereka menyadari bahwa modernisasi hanya menguntungkan bagi orang-orang tertentu. Marcuse merupakan anggota dari aliran Frankfurt yang mengkritisi modernisasi dari sisi kapaitalis yang menurut saya hanya meneruskan pola pikir dari Karl Marx. Akan tetapi Marcuse menyumbangkan beberapa hal yang sedikit berbeda yaitu pola piker terhadap masyarakat modern yang menurut Marcuse akan menjadi manusia satu dimensi. Teori Marcuse mengenai manusia satu dimensi menurut saya sangat berhasil dan tetap berlaku sampai saat ini, dimana manusia dikuasai dan dituntut untuk menjadi penikmat teknologi yang sama. Akan tetapi jalan keluar yang diberikan oleh Marcuse terhadap masyarakat modern belum begitu terlihat, karena sejauh ini kehidupan manusia sangat terlena oleh modernisasi dan belum mampu melakukan perlawanan terhadap kapitailsme modern.
Jauh sebelum Marcuse, sebetulnya telah ada beberapa tokoh yang mengkritisi tentang kondisi-kondisi sosial masyarakat yang hidup dalam nuansa modernisasi. Durkheim merupakan salah satu tokoh yang memberikan kritik terhadap modernisasi, akan tetapi Durkheim ini menelaah modernisasi dari sisi solidaritas masyarakat. Meskipun Durkheim tergolong dalam tokoh Teori Sosiologi Klasik, namun sumbangsih pemikirannya telah banyak diberikan kepada kondisi modern, dimana nantinya akan dijumpai banyak pembagian kerja pada mayarakat modern. Padahal semakin banyak dan semakin spesifik pembagian kerja, maka akan sangat berpengaruh terhdap integritas masyarakat. Pembagian kerja masyraklat praindustri sangat sedikit dan memiliki integritas yang tinggi, hal tersebut dinamakan solidaritas mekanik. Sedangkan pembagian kerja pada masyarakat industri sangat banyak dan begitu spesifik, sehingga memberikan dampak semakin menurunnya integitas dan solidaritas masyarakat, kondisi seperti ini disebut sebagai solidaritas organik.
Weber juga merupakan salah satu tokoh yang melakukan kritik terhadap modernisasi. Akan tetapi dia lebih menekankan pada sisi birokrasi pada masyarakat industri, dimana birokrasi tersebut secara tidak langsung sangat mengekang dan mempersulit masyarakat dalam mendapatkan pelayanan.Maka, yang terjadi adalah hanya orang-orang tertentu saja yang mampu memutuskan garis birokrasi atau mendapat pelayanan yang tak berbelit-belit. Kondisi seperti ini menurut pandangan saya masih tetap terjadi sampai detik ini. Faktanya, birokrasi bukannya mempermudah masyarakat untuk mendapatkan pelayanan justru semakin mengekang dan semakin mempersulit masyarakat dalam memperoleh pelayanan. Birokrasi yang saya maksud biasanya bergerak pada bidang non-manufaktur seperti, pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pelayanan jaminan sosial. Jadi saat ini masih banyak orang-orang yang terjebak oleh rumitnya birokrasi, dan hanya orang-orang yang memiliki kedekatan dengan birokrat saja yang mampu mendapatkan pelayanan dengan begitu mudah.
Permaslahan-permasalahan yang timbul akibat modernisasi juga dikritik oleh Karl Marx dari segi kapitalisme. Pada kondisi ini terjadi perbedaan kelas yang begitu terlihat antara kaum proletar atau buruh dengan kaum kapitalis atau pemilik modal. Marx melihat adanya eksploitasi tenaga manusia yang dilakukan oleh kapitalis demi mendapat keuntungan yang besar. Sejak itulah para pemilik modal seakan-akan menjadi penguasa peradaban yang mampu mendapatkan apapun dengan begitu mudah. Oleh karena itu Marx menghendaki adanya kesadaran kelas pada kaum buruh atau proletar agar mereka mampu melakukan perlawanan terhadap kapitalis dan terwujud kehidupan yang sosialis.
Jadi, pada dasarnya kesadaran kelas tak kunjung terwujud sehingga mendorong Marcuse untuk ikut andil dalam melakukan kritik terhadap modernisasi. Akan tetapi Marcuse menilai bahwa teori Karl Marx mengalami kegagalan, dimana kesadaran kelas dan kehidupan sosialis tidak terwujud. Meskipun demikian Marcuse tetap beranjak dari pemikran Karl Marx dalam melakukan kritik terhadap modernisasi karena kehidupan modern tetap dikuasai oleh sistem kapitalisme yang semakin menjadi-jadi. Oleh sebab itu marcuse disebut sebagai tokoh Neo-Marxisme.
*Koordinator Departemen Eksternal 2014 HIMASIGI

 

Rekreasi Pikiran

Oleh: Andry Dwi Ramdhani*

rekreasi pikiranPasti lo semua pernah berimajinasi, kan?Kalau jawabannya nggak, mungkin ada yang salah dengan otak lo (hahaha becanda kok becanda :D). Menurut gue, berimajinasi itu adalah salah satu hal terpenting dalam hidup ini. Apakah ada hal negatif kalau kita sering berimajinasi? Selama nggak mengganggu orang lain ya sah-sah saja. Lagipula juga nggak bayar alias gratis… tis… tisss….

Mungkin masih banyak temen-temen (kebanyakan cowok dan statusnya masih jomblo :p) yang berpikiran negatif kalau mendengar kata imajinasi. Sebelumnya gue jelasin nih, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan (angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dsb) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Imajinasi atau gue sering menyebutnya dengan “rekreasi pikiran” bisa membuat hal yang nggak mungkin menjadi mungkin. Misalnya nih ya, lo pengen punya uang banyak. Nah… lo tinggal mikirin saja deh tuh pengen punya uang sebanyak apa dan pengen dihabisin buat apa. It’s very fuckin’ easy, dude!

Kalo jasmani capek, tinggal istirahat habis itu seger lagi. Kalo rohani capek, tinggal berdo’a dan minta dikuatkan oleh Sang Khalik. Lah, kalo pikiran yang capek terus harus gimana? Maka dari itu, pikiran juga butuh rekreasi nggak cuma jasmani dan rohani aja. So… jangan pernah lelah untuk berimajinasi, karena dengan berimajinasi lo bisa jadi “Tuhan” untuk diri lo sendiri. Kesimpulannya, tidak ada orang yang tidak memiliki apa-apa di dunia ini, karena setidaknya mereka masih mempunyai mimpi.

Sekian dulu pembahasan tentang “rekreasi pikiran” kali ini. Kalo ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalo ada waktu senggang, boleh kita menulis lagi. See you soon, guys! :))

Best Regards,

*Departemen Internal Penanggung Jawab Minat dan Bakat HIMASIGI 2014

Sepak Bola, Masyarakat, dan Budaya

Oleh : Nur Huda*

Sepak bola merupakan salah satu olahraga favorit yang sangat digemari oleh banyak orang, mulai dari Indonesia bahkan dunia. Di dalam sepak bola saat ini juga terdapat beberapa makna yang terkandung di dalamnya misalnya religiusitas, fanatik, pemersatu bahkan pembeda. Sepak bola dijadikan media atau alat untuk mempersatukan suatu bangsa-bangsa di dunia. Hal ini terlihat dari dibentuknya timnas (Tim Nasional) untuk mewakili negaranya. Namun, sepak bola sering kali menjadikan suatu masyarakat buta. Saya ambil contoh kasus Hillsbrogh yang ada di tanah Inggris. Tragedi Hillsbrogh ini sendiri terjadi pada saat pertandingan semifinal piala FA yang mempertemukan antara Liverpool dengan Shellfield United. Di mana para pendukung kedua kesebelasan terjadi aksi dorong yang menyebabkan beberapa dari supporter mereka meninggal dunia. Dengan meninggalnya beberapa dari supporter kedua kesebelasan tersebut seakan-akan semua publik isi stadion terdiam hening dan merasa tidak percaya atas kejadian tersebut.

Oleh karenanya setiap Liverpool bertanding kostum bertanding pada lengan kanannya yang dikenakan oleh para pemain Liverpool di beri pita atau handband berwarna hitam sebagai bentuk penghormatan atas tragedi Hillsbrough silam. Dari kejadian tersebut secara tidak langsung membuktikan bahwa sepak bola di masyarakat menjadi pembeda sekaligus pemersatu. Pembedanya berada pada rasa fanatik yang dimiliki oleh supporter masing-masing klub dalam mendukung timnya bertanding sedangkan pemersatu berada pada pengalaman setelah kejadian tersebut para supporter maupun klub menjadi bersatu agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Jika saya tadi sudah memberikan penjelasan di atas maka saya akan menarik konteks sepak bola di Indonesia. Jawa Timur misalnya, perseteruan supporter antara aremania (kelompok suporter Arema Malang) dengan bonek mania (kelompok suporter Persebaya Surabaya), yang kita tahu sebagai musuh atau rival abadi, di lapangan maupun di luar lapangan. Mulai dari para pemain kedua kesebelasan, jajaran pelatih bahkan para pendukung fanatiknya. Para pendukung kedua kesebelasan bahkan mempunyai mindset bahwa klub yang mereka dukung haram kalah jika bermain tandang (di luar kandang) apalagi jika bermain kandang (tuan rumah). Seakan-akan hal tersebut telah menjadi pemandangan yang biasa dan dianggap oleh sebagaian masyarakat di Indonesia sebagai budaya yang identik. Artinya ketiga hal tersebut yaitu sepak bola, masyarakat, dan budaya tidak bisa dilepaskan antara satu dengan yang lainnya.

*Penanggungjawab Advokasi

Antara Bangga atau Tidak Sama Sekali

Oleh : Ardyan Fahmi*

Sudah berjuta-juta tahun saya tidak membuka blog saya pada tanggal 25 Mei 2014, saya teringat pada tulisan saya yang belum rampung. Sebuah tulisan iseng yang berawal dari tugas salah satu mata kuliah ini menginspirasi saya untuk melanjutkannya ke bentuk yang lebih enak dibaca. Tulisan ini mengenai “BATIK BOLA”, yang populer pada tahun 2012. Tulisan saya ini memang masih banyak kekurangan, dan saya akan senang dan memberikan ucapan terima kasih jika dilain waktu ada kalian yang mau menyempurnakan tulisan ini. Tanpa banyak kata, batik bola ini menjadi populer dikarenakan banyak faktor (menurut survey saya pada waktu itu) yakni, motif yang beragam, warna yang lebih cerah dibandingkan dengan pakaian bermotif batik pada umumnya dan multifungsi (bisa dibuat nonton bareng sepakbola dan bisa dipakai pada acara nikahan).

          Pakaian, yang pada umumnya dan pada normalnya digunakan sebagai penutup tubuh, merupakan salah satu penanda dari sekian banyak penanda dari penampilan luar[1]. Dengan demikian, pakaian tidak hanya digunakan sebagai penutup tubuh, pakaian adalah penanda identitas seseorang. Berbicara mengenai identitas, batik bola men-transformasikan 2 (dua) identitas yang kemudian menjadi suatu bentuk perpaduan yang unik. Pada tahun 2012, pakaian bermotif batik-bola menjadi trend masa kini, gaul, keren dan dianggap cocok bagi remaja, yang kemudian seakan-akan menjadi lumrah, biasa dan bukan masalah. Namun bagi saya itu mungkin menjadi awal masalah, khususnya bagi warisan budaya Indonesia yang kesekian kalinya terseret aliran deraswesternization[2]. Mungkin sudah kita ketahui bersama bahwa motif batik terdapat makna yang berbeda disetiap daerahnya dan terdapat makna-makna simbolis yang terkandung didalamnya, batik Madura, batik Yogyakarta, batik Solo dan lain sebagainya. Namun dalam motif batik bola hal ini tidak berlaku, yang berlaku adalah motif batik yang menarik pembeli. Hal ini yang kemudian saya sayangkan dan saya anggap perlu untuk diperhatikan dan ditanggapi. Perlu banggakah kita? perlukah kita lestarikan? atau perlukah kita kembangkan? itu semua terserah pada kalian.

Sementara itu dilain pihak ada yang berpendapat seperti inihttp://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/04/120429_batikbola.shtml. Perkembangan industri sepakbola saat ini telah merambah pada kebudayaan, dimana krisis identitas kebudayaan pada masyarakat disusupi dengan identitas lain. Hal ini yang mungkin terjadi pada batik bola ini, entah dalam waktu dekat atau waktu yang akan datang, persaingan dalam pembentukan identitas akan dimenangkan oleh siapa. Jika dalam tulisan saya sebelumnya, teori hibriditas dari Homi K. Bhabha yang saya pilih untuk menganalisis fenomena ini. Dimana terminologi dunia pertama dan dunia ketiga menjadi kata kunci dalam teori ini[3]. Bentuk perlawanan dari dunia ketiga dan adanya kepentingan dari dunia pertama memperjuangkan dua hal, yakni mendominasi atau didominasi. Batik bola ini mungkin menjadi bentuk kecil dari strategi dari dunia pertama, dengan masuk lewat celah kebudayaan.

Bagaimana kita harus menanggapi hal ini ? Meski batik bola pada saat ini tak semarak yang dulu, namun kita tak semestinya berbicara mengenai dulu, sekarang atau nanti. Dunia tak berhenti bernafas, begitu juga pada kehidupan masyarakatnya yang tak berhenti berkembang. Semoga hal ini menjadi titik yang dapat diteruskan menjadi huruf dan dirangkai menjadi kata sehingga dapat dirangkum menjadi kalimat yang lebih baik. Dari kekurangan ataupun kesalahan, semoga dapat dibenahi dan menjadi tulisan yang lebih baik lagi. Sekian, salam satu nyali ! Wani!

* Koordinator Departemen Internal Himpunan Mahasiswa Sosiologi UB 2012-2013.

[1]Pakaian dapat digunakan sebagai pembeda antara seorang yang satu dengan yang lainnya yang pada gilirannya diidentifikasi sebagai sebuah kelompok tertentu. Baca Kees Van Dijk. 2005. “Sarung, Jubah, dan Celana Penampilan sebagai Sarana Pembedaan dan Diskriminasi” dalam Nordholt, Henk Schulte (ed.). Outward Appearences. Yogyakarta: LKiS. hal 57

[2]Bagaimana kemudian arus perubahan kebudayaan pada masyarakat Indonesia dapat dilihat pada Koentjaraningrat. 2007. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

[3]Lihat Bhaba, Homi K. 1994. The Location of Culture. New York: Routledge

Generasi Semangat (baru) Indonesia

Oleh : Aris Widyantoro

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya” himbauan ini sering kali kita dengarkan dan sering dalam rutinitas mengikuti acara upacara baik dalam upacara atau hari nasional. Kegiatan ini dilakukan untuk menjaga Indonesia dengan beragam budayanya dan kaya akan sejarah yang dimilikinya. Cara tersebut merupakanuntuk menghimbau agar rasa nasionalisme tetap tumbuh dalam lubuk hati sanubari.

Jika melihat realitas kiniuntuk menentukan identitas yang sesungguhnya bahwa siapa Indonesia dan bagaimana budaya yang dijadikan kekhasan dari suatu bangsa menarik bagi saya untuk memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya yang ingin dipahamkan terlebih dahulu bahwa saya adalah Indonesia. Karena secara kesadaran yang dianut yang diterapkan dalam memahami saya adalah Indonesia, tidak memiliki nilai lebih dalam mengucapkan lisan untuk dirasakan dalam hati dan fikiran untuk memahami. Hal ini tentunya perlunya adanya suatu kesadaran dalam individu. Seperti yang dikatakan oleh Gidden kesadaran ini termasuk dalam kategori kognisi tak sadar[1]. Hingga seseorang harus menyadari serta mengerti apa yang seharusnya akan dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan demi menjaga nama baik bangsa.

Kesadaran ini nanti akan sangat mempengaruhi dalam prosesnya. Sebagai contoh pendidikan bernegara hanyalah suatu ilmu terapkan dalam suatu mata pelajaran bagaimana siswa hanya berusaha mengerjakan suatu tugas demi mendapatkan nilai sekolah. Siswa tidak mampu menyadari nilai lebih yang diajarkan tersebut. Bukti jelas seperti kejahatan anak dibawah umur hingga kasus maraknya berbagai perkelahian antar pelajar. Peristiwa ini tentunya menjadi suatu bukti mulainya terjadi pergeseran rasa nasionalisme.

Kondisi ini diperburuk ketika seseorang mulai beralih dalam institusi perguruan tinggi. Seseorang tidak mengerti wawasan kebangsaan itu dirasa wajar karena dengan alasan sudah tidak pernah diajarkan dan dilafalkan dalam lisan. Padahal, seharusnya mahasiswa juga paham benar apa yang harus dijadikan kewajiban dalam memahami bangsanya sendiri sebelum mereka disebut-sebutsebagai Agent of change[2] dalam masyarakat. Sifat pragmatis sering saya jumpai ketika seseorang mau untuk melihat kebenaran hingga mengharuskan seseorang mau untuk bangkit dari posisi stagnan yang mereka miliki. Mereka memilih untuk berhenti karena takut dan muak terhadap realitas serta membiarkan mereka ditarik dan membiarkan dirinya dalam lingkaran kesadaran palsu. Kekalahan batin ini membuat seseorang menjadi pesimis akan dirinya sendiri untuk bangkit. Karena kesadaaran serta keyakinan itu bisa muncul ketika seseorang memahami benar bahwa apa yang harus dilakukan untuk negeri ini. Banggalah bahwa kita ini merupakan bangsa Indonesia, meskipun perlu dikaji ulang dari mana dan untuk siapa Indonesia itu dapat ditelusuri lebih lanjut, tetapi tataplah menjadi bangsa Indonesia ini sebenarnya masih memiliki masa depan yang cerah ketika kita sadar benar kita yang merupakan masa depan dan menjadi pemilik bangsa ini. Serta berani membuka mata untukmelihat segala permasalahandan memberikan solusi ditengah-tengah begitu plularnya yang ada di negeri ini.

Dengan keplularan budayayang kita miliki tentunya akan semakin membuat banyaknya suatu pemikiran yang berbeda tergantung dari mana melihat suatu pandangan masing-masing. Kemunculan ini membuat sulit menjelaskan mana budaya yang merupakan budaya asli Indonesia. Secara historis sangat berpengaruh ketika jaman kolonial para pedagang seperti para gujarat masuk ke Indonesiamulai merebah masuk dan mulai mempengaruhi budaya yang ada di indonesia. Banyak pola pemikiran yang tentunya akan berpengaruh pula dalam budaya lokal (Local Wishdom) dalam Indonesia. Salah satunya pewarisan pemikiran sistem birokrasi nasional contohnya keberadaan sistem paling dasar yaitu birokrasi tingkat kecil Ketua RT. Budaya ini yang menjadikan kita harus condong serta mengkiblat bagaimana seharusnya suatu negara terhadap perubahan dari semua faktor dengan faktor kunci yang mereka sebenarnya targetkan dalam etika ekonomi-politik.Nyatanya pola pemikiran eurosentrisme (beroerientasika barat) yang berbasis pada pembangunan fisik itu lebih mendominasi.

Ketika bangsa ini takhluk dalam ideologi yang dibuat dalam retorika pemikiran mereka negara yang didamba-dambakan negara maju yang paling dirugikan adalah bangsa kita yang terlalu menggantungkan dengan negara lain pernyataan ini sangat bertolak belakang dengan perencobaan bangkit dengan kaki sendiri seperti yang dikatakan oleh pak Soekarno saat itu “berdikari” atau berdiri di atas kaki sendiri. Negara harus yakin dengan kekuatan serta potensi yang di miliki Indonesia. Kesulitan permasalahan akan lebih rumit apabila tetap arah pembangunan ditujukan kepada para pemilik modal yang besar hingga menghegemoni negara sendiri. Melihat berbagai permasalahan yang merundung kerapuhan banyaknya sifat apatis dari semangat para pemuda saat ini dan bertanya-tanya siapa sebenarnya identitas bangsa Indonesia ini hingga memunculkan sifat pesimis mempertanyakan apakah bisa untuk berdiri kembali.

Ketika kita sebagai generasi muda itu merasakan dan mulai mempertanyakan hal tersebut yang berhasil adalah para mereka yang mencoba membelah identitas kita rasa bangga kita terhadap bangsa Indonesia. Tetapi perlu disadari adalah mereka memanfaatkan keplularan budaya kita denganmenggesekan antar ras di negeri ini. Mulai dari memberikan gencaran informasi untuk membicarakan dari berbagai pandangan muncul dengan pandangan bagaimana konflik itu muncul dan mencari letak posisi siapa yang bersalah hal itu lebih menarik dari pada bagaimana bangsa ini memberikan solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Anehnya kita tidak melakukan apa-apa ketika bangsa indonesia yang lain merasakan “sakit”. Lantas bangsa Indonesia sebenarnya dibuat untuk hanya melihat dan terdiam sertasaling berusaha melemparkan siapa yang seharusnya tanggung jawab ketika kita sebut saja masalah bermunculan kasus Freeport, Lapindo,serta Perminyaan Cepu.

Ditengah banyaknya pergeseran identitas dengan ketimuran di era globalisasi menjadikan bangsa ini tidak memiliki pilihan selain menghadapi kenyataan dan mempererat ikatan serta menjaga kearifan lokal (Local Wishdom) jangan sampai lepas untuk ketika perbedaan ini menjadi mulai kearah suatu perpecahan. Seharusnya dengan perbedaan ini sebagai alat untuk saling melengkapi dan kita sebagai generasi muda harus paham benar apa yang lebih dibutuhkan saat ini bukan hanya menyalahkan kondisi kemiskinan struktural tetapi yang harus dilakukan adalah berani membuka mata inilah kenyataanya dan harus memberikan sumbangan pemikiran dan pergerakan memberikan solusi masalah yang dihadapi negeri ini. Ketika berani melihat kebenaran seharusnya kita merasakan gelora dan rasa bangkit yang seharusnya ditorehkan dalam suatu perilaku sehari-hari supaya negeri Indonesia kalau boleh mengatakan memiliki identitas yang baru dengan semangat nasionalis ditengah rasa sakit yang dialami negara tercinta ini. Mulailah berfikir serta tataplah dan secepatnya melakukan sesuatu untuk negeri ini pukul mereka yang berusaha menjadikan bangsa ini semakin kelam. Jangan pernah ragu untuk melakukan gerakan mulia karena saya sangat yakin bukan hanya saya yang merasakan sakit serta kebencian yang terjadi. Jangan hanya menjadi pewaris menjadi pengeluh dan menyalahkan kondisi yang ada. Jangan sampai generasi penerus nanti harus juga merasakan dampak dari rasa perih buruknya kondisi yang kita alami. Saya yakin pasti akan ada muncul tandingan semangat nasionalis yang dimiliki oleh pahlawan perintis negeri ini yang menyebutkan akan menjadi 10 orang yang dikatakan oleh Ir. Soekarno akan menjadi generasi yang membawa bangsa ini menjadi lebih baik. Jadi marilah kitaharus bersemangat inilah yang sebenarnya menjadi identitas sesungguhnya yang dimiliki Indonesia. Semoga tujuan yang baik ini dapat dipahami segenap pembaca generasi pemuda Indonesia.

Hingga dengan lantang mengatakan “SELAMAT DATANG SEMANGAT BARUKU UNTUK INDONESIA”…

[1] Lebih merujuk terhadap potensial bagi tindakan, ketimbang cara (mode) hal yang dilakukan oleh agen. Motif yang berkaitan langsung dengan tindakan dalam situasi yang tidak biasa.Teori Strukturasi Giddens (sosiologi.fisip.unair.ac.id)

[2] Seorang penulis terkenal berkata,”Jika anda ingin mempunyai musuh, adakanlah sebuah perubahan!” ucapan ini mengandung kebenaran. Sejarah membuktikan, perubahan-perubahan menomental diilham dan dicetuskan oleh La Piere disebut geniusatau self-made eccentric (LaPiere,1965, 127). Tokoh yang demikian itulah yang lazim disebut agen pembaharu atau Inovator. Dalam Drs.Taliziduhu Ndraha.1987, 10.

Lompat Pagar

Oleh: Muhammad Rizal*

Pembahasan tentang lompat pagar ini sebenarnya terinspirasi dari tindakan yang dilakukan Ferdinand Sinaga setelah selesai melakukan pertadingan amal antara timnas vs Asean All-Star yang akhirnya dimenangkan Indonesia dengan skor 1-0. Tindakan Sinaga yang spontan ini saya rasa cukup beralasan, walau pasti akan selalu terdapat 2 pandangan berbeda akan tindakan Sinaga ini. Entah dari sisi Sinaga yang menganggap para suporter yang berbaju The Jakmania kurang menghargai para pemain Persib yang membela tim nasional. Tapi dilain sisi pula, sikap Sinaga yang merupakan pemain profesional+timnas ini menjadi beban tersendiri untuknya.
Namun, jika dipahami secara sederhana dalam sisi kemasyarakatan yang berkarakter suporter seperti The Jak dan Bobotoh, semestinya para suporter memahami “shock therapy” yang diberikan oleh Sinaga. Bahwa, sekelas pemain Sinaga yang terkenal temperamen pun dapat memahami pembeda antara bermain di klub dan bermain untuk tim nasional Indonesia. Dilematis memang memahami sikap Sinaga, namun saya lebih dilematis memahami suporter yang kurang cerdas dalam memahami level pertandingan yang berbeda ini.
Lucu tapi, melihat tingkah Sinaga. Bagaimana para suporter yang awalnya berteriak-teriak ketika para pemain Persib memegang bola. Tapi diam seribu bahasa ketika Sinaga melakukan tindakan lompat pagar. Akhirnya muncul pertanyaan dari saya untuk kalian para mahasiswa semua, apakah kita selama ini menjadi pelaku pelompat pagar atau hanya suporter yang suka berteriak tapi diam ketika ada para pelompat seperti Sinaga?

“PELOMPAT PAGAR” WUJUD MELAWAN STANDAR
Tindakan Ferdinand Sinaga ini bisa muncul dalam analisa saya itu karena suasana yang terbentuk didalam stadion tidak membuat Ferdinand Sinaga nyaman. Saya lupa tanggal pastinya kapan, namun Bepe atau Bambang Pamungkas yang sudah didaulat jadi kapan tim nasional pun pernah mendapatkan perlakukan yang sama dari Viking atau Bobotoh (suporter Persib Bandung), yaitu diteriaki atau diolok-olok oleh suporter Persib ini, walaupun tidak sampai naik pagar saya diolok-olok. Ketika itu tim nasional melawan Maladewa seingat saya. Tapi catatannya sama, suporter yang mengolok-ngolok adalah suporter yang kurang cerdas.
Tindakan Sinaga yang sampai melompat pagar ini mungkin adalah wujud kekecewaan tertinggi dia dari para suporter yang kurang respek terhadap dirinya serta pemain Persib lainnya. Selain itu, tindakan yang melompat pagar ini merupakan wujud baru dari tindakan pemain yang kecewa akan sikap kekanak-kanakan suporter yang kurang cerdas itu. Tapi, jika Sinaga saja bisa seperti itu ketika membela dirinya sendiri dan Persib, bagaimana jadinya ketika membela tim nasional? Kadang, memang suporter kita terlalu termakan euforia klubnya masing-masing, sampai melupakan keindonesiaannya.
Pelompat seperti Sinaga ini, bagi saya pribadi ini patut dihargai. Karena dia melawan standar akan adanya blok-blok suporter besar yang kita semua tahu semakin kesini semakin mengkhawatirkan. Ada Viking-Bonek, Aremania-Jakmania dan blok lain yang bagi saya penikmat bola biasa malah merasa terganggu. Apa yang lain tidak terganggu? Saya rasa terganggu pula, bagaimana ketika saya ke surabaya lalu memakai mobil berplat N ada kekhawatiran mobil yang kita tumpangi akan digrebek atau ditumpas oleh suporter-suporter kurang cerdas dari Surabaya dan masih banyak kasus lain yang perlu diungkap. Maka ada baiknya, para “pelompat pagar” yang berasal dari kalangan mahasiswa Bandung, Jakarta, Surabaya dan Malang mampu menjadi “pelompat pagar” yang bisa merubah keadaan dan mendiamkan para suporter kurang cerdas itu, sehingga mampu memahami sepakbola dan olahraga pada umumnya sebagai sebuah sarana sportivitas dan ajang ujung gigi. Bukan ajang pamer diri dan kuat-kuatan suporter belaka. Saya juga suporter, anda juga suporter. Mau jadi penonton seperti kemarin yang mati kutu atau “pelompat pagar” perubah keadaan?
*Mahasiswa Sosiologi 2011

Mana Dulu yang Harus Didahulukan? Alam atau Manusia?

Oleh: Aisyatus Sholehah*

Terpicu oleh diskusi kelas, saat itu kita sedang berdiskusi tentang manusia, alam dan kerusakan lingkungan. Lingkup diskusi saat itu sedang asyik-asyiknya membahas kerusakan-kerusakan yang terjadi pada kehidupan, entah itu tataran alam, manusia, sampai pemikiran-pemikiran beresiko yang terjadi di kehidupan yang saling bergantung ataupun saling berhubungan antara alam dan manusia. Salah satu dari banyak pembahasan yang terlintas saat itu adalah kerusakan lapisan ozon. Ada yang berpendapat bahwa kerusakan ozon dikarenakan kentut manusia setiap hari di muka bumi, ada yang menyangkal kalau itu karena disebabkan kentut semua sapi di muka bumi ini. Konyol memang, ya itu lah kelas kita. Hahahaha. Membuat sedikit menahan tertawa dosen yang menanyakan pertanyaan yang berujung dengan diskusi ‘lalu yang seharusnya diselamatkan itu manusianya atau alamnya dahulu? Saat itu terbagi dua kubu untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada kubu ‘sushi’ dan kubu ‘steak’. Ya bisa dikatakan begitu lah.
Kubu ‘steak’ mengatakan bahwa manusia yang harus diperbaiki terlebih dahulu, entah itu pemikiran, idiologi, mindset, pengetahuan serta apapun yang dimiliki manusia agar generasi selanjutnya dapat berkembang lebih baik dan dapat lebih sadar daripada sebelumnya. Dengan berbagai referensi dan solusi-solusi yang diberikan kubu ‘steak’ ini memprioritaskan pada apa yang telah Tuhan berikan pada otak dan kemampuan manusia, “manusia ini otaknya harus dipanggang dulu, dimasak dulu, disadarkan dulu baru bisa hidup” itu yang sepertinya Saya tangkap dari pernyataan-pernyataan kubu ‘steak’ ~

Berbeda dengan Kubu ‘sushi’, mereka berpendapat bahwa yang harus di utamakan adalah menjaga alam dahulu dengan kesadaran-kesadaran yang telah kita miliki atas apa yang telah kita perbuat untuk alam. Kita tidak dapat hidup tanpa adanya alam, seharusnya kita tidak menggunakan tekhnologi agar tidak merusak tatanan alam yang sudah seindah itu Tuhan rangkai. Apa yang kita miliki sekarang untuk dapat bertahan hidup itu semua berasal dari alam, kenapa tidak kita mendahulukan alam terlebih dahulu? “seharusnya kita melihat saat zaman purba dahulu, mengolah makanannya dengan cara tradisional tanpa menggunakan tekhnologi yang ujungnya tekhnologi itu yang meracuni kita? Dan peralatan tekhnologi itu juga dari alam kan? Kita terlalu mengambil alam” yaaaaah meski terlalu panjang tapi itu lah yang Saya ringkas dari kubu ‘sushi’ ~

Namun, entah kenapa Saya mengangkat tangan dan mencoba berpendapat dengan malu takutnya mengambil jalan tengah “kalau menurut saya, alam dan manusia merupakan dualitas. Tidak dapat di utamakan yang mana terlebih dahulu harus diselamatkan. Kita (manusia) saling berhubungan dengan alam, juga sebaliknya. Karena kita saling membutuhkan, ya biasa kita menyebutnya simbiosis mutualisme” itu yang terlintas saat mencoba masuk dalam diskusi mengambil apa yang menurut Saya seharusnya memang begitu.
Namun saat jawaban itu terlintas dalam percakapan mereka, waktu berkata lain dan jam kelas ternyata sudah usai dan tak terlanjut atas pendapat jalan tengah itu. Namun menurut Saya itu lah yang seharusnya kita lakukan. Kita harus menghormati alam dengan menjaga dan merawat alam, dengan begitu alampun mungkin akan mendengar kita (manusia) dan dapat menerima kita (manusia).

Mungkin jika alam dapat mengatakan dan apa yang dikatannya tersebut dapat dengan mudah ditangkap oleh kita (manusia) mungkin Alam telah lelah, selalu disalahkan atas terjadinya apa yang mereka sebut bencana alam. Kita tak sadar bahwa dia (alam) sedang menunjukan bahwa dia bersua bersama kita (manusia), dia ingin mungkin menunjukan bahwa juga ingin dilindungi serta dijaga agar dia dan kita dapat saling bersamaan, saling hidup dan saling ada sampai saatnya sang Maha Satu menghentikan semua.

Jangan hanya menjadi penikmat seperti manusia kekinian sekarang! Jagalah, rawatlah dan lindungilah juga meskipun bukan sesama manusia! Kita ini sama, sama-sama hidup, sama-sama ingin dijaga, sama-sama ingin dirawat, sama-sama tidak hanya ingin dinikmati saja! Ya kan?

Kalau menurut kalian? 🙂

*Anggota Departemen Internal Himpunan Mahasiswa Sosiologi. Angkatan 2012. Dikutip dari http://si-sholeh.blogspot.com/2014/05/mana-dulu-yang-harus-didahulukan-alam.html?m=1