Keheningan Siang

Oleh : Desandy Budi

Lalu lalang tak penah henti

Masing-masing berjalan berlari

Mencari arti untuk kepuasan diri

Mengukir tapak untuk keangkuhan hati

Nyatanya memang seperti itu

Seperti debu yang hina

Jika bukan hina mungkin terabaikan

Dialah yang diam

Mengerti karena diam

Dialah yang hening

Merasa karena hening

Berjuta cahaya menerangi

Tapi dalam diam masih ada siang

Dan dalam siang ada keheningan

Dari mereka yang menyuarakan kebebasan

Dari mereka yang berharap pengertian

Dari mereka yang bisu sementara

Karena siang terlalu keras

Malam terlalu lama

Maka keheningan siang adalah kedamaian

Bahkan sebuah penipuan

Diantara indahnya siang

Diantara kerasnya siang

Diantara teriknya siang

Lalu di antara manusia hina dalam siang

Dia lebih memilih keheningan siang

Karena malam terlalu gelap

Terlalu lelah baginya

Malang yang Malang

Oleh: Rahaninda Putri A*

Global warming dipandang bukan hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga ekonomis. Harusnya global warming merupakan suatu isu yang harus didekatkan pada problem sosial, maka atensinya adalah bagaimana agar menekankan permasalahan tersebut mendapatkan atensi dan solusi di kemudian hari. Kerangka yang melandasi orientasi gerakan lingkungan, berbeda dengan apa yang kita pahami sebagai orientasi atas permasalahan sosial.

Menurunnya kualitas lingkungan di daerah Kota Malang salah satunya disebabkan oleh pembangunan kota kearah yang lebih modern yakni dengan mengedepankan industrialisasi tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan alam. Daerah Malang saat ini dipenuhi oleh bangunan yang berbasis industri, padahal Malang dahulu merupakan lahan hijau dan merupakan salah satu kota yang memiliki RTH cukup banyak.

[1]Teori dependensi merupakan salah satu yang diperkenalkan oleh Andre Gunder Frank. Teori ini didasarkan pada lambatnya pembangunan dan adanya ketergantungan negara dunia ketiga. Kapitalisme senantiasa menemani dan menyediakan segala barang-barang kebutuhan manusia yang bersifat efisien dan menguntungkan bagi kapitalis. Tujuan dari negara kapitalis adalah menciptakan trend dan prestise tertentu dikalangan masyarakat terhadap penggunaan barang-barang ciptaan kapitalis. Hal inilah yang menjadikan masyarakat indonesia mengalami ketergantungan dengan alat-alat kebutuhan tersebut sehingga secara sadar atau tidak, masyarakat indonesia akan selalu memerlukan dan menggunakan barang-barang kebutuhan tersebut.

Dengan adanya ketergantungan tersebut, tanpa sadar masyarakat telah menyumbangkan perannya dalam terjadinya pemanasan global pada saat ini. Misalnya saja kegiatan industri yang terus bergantung dengan mesin-mesin yang ada dari ketergantungan ini dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dari emisi yang dihasilkan dari beroperasinya mesin-mesin tersebut, selain itu pengalihan lahan pertanian dan RTH menjadi bangunan non-pertanian yang menunjang kegiatan industrialisasi sulit untuk mencegah terjadinya pemanasan di berbagai daerah.

Adanya ketergantungan masyarakat saat ini terhadap kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik industri turut menyumbangkan kenaikan suhu udara dunia. Sebagai contoh, gas CO merupakan racun bagi fungsi-fungsi darah, SO2 dapat menimbulkan penyakit sistem pernafasan sama seperti banyaknya pabrik industri yang bahan bakunya mempergunakan zat-zat kimia organik maupun organik. Sebagai hasil pengelolaanya selain menghasilkan produk-produk yang berguna bagi kepentingan kehidupan manusia juga mengeluarkan produk-produk yang tidak berguna berupa racun-racun. Produk-produk yang tak berguna ini jelas akan dibuang dan bisa merusak lingkungan berupa gangguan pada kehidupan dan kelestarian lingkungan tanpa pengendalian[2].

Malang menjadi salah satu kota yang saat ini dekat dengan global warming, seperti yang kita ketahui kota Malang selama ini menjadi alternatif keluarg baik yang berasal dari Jawa Timur ataupun kota-kota di provinsi lainnya. Selain itu, kota Malang menjanjikan suatu suasana yang sejuk dan asri, dikarenakan tempatnya yang dingin serta berada di antara beberapa gunung. Namun, hal itu seperti tergerus dengan sendirinya disebabkan oleh pembangunan yang tidak ramah lingkuangan yang dilakukan terus-menerus oleh pemerintah kota Malang. Bagaimana tidak, kota Malang selain untuk tempat rekreasi juga merupakan salah satu tempat kawasan industri terbesar di Jawa Timur.

Pada dasarnya, hal yang berubah dengan signifikan di kota Malang adalah keadaan lingkungannya. Mengapa demikian ? salah satu penyebabnya adalah emisi gas buang karbon dioksida karena pembakaran bahan bakar minyak. Kendaraan yang selama ini kita pakai adalah sumber penghasil emisi sekitar 33%, tentu ini menjadikan kota Malang mengalami perubahan suhu. Karena di kota tersebut, mengalami peningkatan kendaraan selama beberapa tahun terakhir dan juga perpindahan penduduk di luar kota Malang sendiri.

Kemudian melihat penyebab dari munculnya global warming dapat memberikan efek yang buruk bagi kelangsungan kehidupan manusia, diantaranya [3]kebakaran hutan, iklim tidak stabil, es yang meleleh dan tingginya permukaan air laut yang dikhawatirkan dapat menenggelamkan pulau-pulau kecil. Walaupun kemudian efeknya tidak dirasakan secara langsung di kota Malang akan tetapi hal itu akan berdampak secara global dan akan mengganggu ekosistem dunia. Dalam segi kesehatan pun, global warming mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit baru yaitu avian influenza, TBC, demam kuning, kolera dll. Sehingga, masyarakat pun harus waspada untuk tetap menjaga kesehatannnya.

Pengendalian untuk mengurangi global warming sebenarnya harus dilakukan sejak dini. Walaupun, global warming sendiri memang tidak bisa dihindari akan tetapi seharusnya masyarakat sadar akan menjaga keseimbangan ekosistemnya. Mulai dari kota Malang sendiri, seharusnya mulai di galakkan progam reboisasi untuk hutan kota di Malang yang mulai tergusur, pembenahan tata letak kota Malang yang semakin padat, pembatasan penggunaan kendaran bermotor bagi masyarakat kota Malang dan semakin gencar mengadakan progam Car Free day di beberapa titik di kota Malang.

Dari upaya dini tersebut, mulai mengglobal pencegahan untuk semua masyarakat dimanapun, yaitu mulai mengurangi penggunaan kertas karena kertas terbuat dari pohon. Semakin sering kita membuang kertas maka semakin banyak pula pohon yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan manusia. Mengganti bola lampu pijar menjadi bola lampu neon. Mengapa? hal ini dikarenakan energi yang dikeluarkan bola lampu pijar lebih boros. Dalam segi pertanian, gunakanlah pupuk organik yang tidak membahayakan. Menanan pohon untuk satu orang wajib untuk dilakukan, mengurangi penggunaan plastik karena plastik sangat sulit mengurai dan dibutuhkan waktu 1000 tahun untuk mengurai plastik. Hidup hemat energi, gunakan kendaraan umum dan cerdas berkendara.

* Koordinator Departemen eksternal Himpunan Mahasiswa Sosiologi UB 2013-2014.

Daftar Pustaka

[1] Teori Pembangunan dan Tiga Dunia-Hettne B, Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia – Suwarsono & A.Y.So,
[2] Lingkungan Hidup dan Kelestariannya ( Bandung, Dr.I.Supardi, 1985 ), hlm 24
[3] Diakses pada world wide web at http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10063582 pada tanggal 20 April 2013 pukul 22.03

KONTROVERSI KEBIJAKAN SATU ARAH

oleh : Vina Dwiyantari*

Dilihat dari sisi manapun, kebijakan One way tidak pernah lepas dari bulan-bulanan massa. Hal ini terjadi karena, kebijakan yang tertuang dalam Perwal No. 35 Tahun 2013 ini ternyata membawa dampak serius bagi kehidupan warga yang kompleknya berada di seputar jalur satu arah. Warga Jl. Panjaitan, yang berprofesi sebagai penjual bensin di tepi jalan misalnya, mengaku omsetnya menurun akibat penerapan One way (baca: HalloMalang.com / Sabtu,11/10/2014). Begitu pun pedagang-pedagang yang lain. Padahal, Wali Kota Malang menegaskan di awal pemberlakuan One way, bahwa kebijakan ini tidak dapat diganggu gugat. Dengan mengkaji berbagai masalah kemacetan bersama dengan Forum Lalu Lintas Kota Malang, Moch Anton pun berkesimpulan bahwa jalur satu arah memang wajib untuk diterapkan (baca: Malang-Post.com / Selasa,17/12/2013).

Sebagai bentuk penolakan warga atas kebijakan satu arah, perlawanan pun mulai dilakukan. Dengan menggerakkan sebagian besar massa dan memblokade jalan, mereka pun mulai melakukan demonstrasi. Sebelumnya, warga juga sempat membuat kecaman-kecaman kasar berupa pamflet-pamflet serta banner-banner yang dipampang sepanjang Jl. Panjaitan, namun ternyata tidak ada tanggapan dari Pemkot sama sekali. Alhasil, demontrasi lah jalan terakhir yang mereka pilih. Selain warga, ada pula sopir angkot, mahasiswa, dan juga LSM, yang tergabung dalam aksi demo tersebut. Mereka dengan gencar menebarkan isu penolakan satu arah, hingga sempat mengancam bahwa Ketua RT dan RW akan mengundurkan diri dari jabatannya. (baca: surabaya.tribunnews.com / Kamis, 06/10/2014)

Beberapa kali proses demonstrasi dan musyawarah dengan Dinas Perhubungan Kota Malang dilakukan, namun belum juga mengarah pada kesimpulan dua arah. Hal ini terjadi karena tidak ada satu kalipun tatap muka yang bisa dilakukan bersama dengan Walikota Malang untuk membicarakan permasalahan ini (baca: malangtimes.com, n/d). Karena kemarahan warga Kelurahan Penanggungan semakin mencapai titik klimaks. Dari yang satu arah 24 jam menjadi satu arah 12 jam, mereka tetap menginginkan kembali dua arah 24 jam. Alasan ini terdengar logis, karena perekonomian warga (pedagang) yang menurun, juga karena bahaya kematian yang mengintai akibat penyalahgunaan jalan sebagai area kebut-kebutan. Akhirnya, tepat pada tanggal 27 Oktober 2014, warga pun melakukan aksi blokade jalur Lingkar UB, yang menurut penulis bermakna, “Kesabaran kami sudah habis” (baca: antarajatim.com, Senin,27/10/2014).

Terkait gerakan sosial, isu kebijakan satu arah ini masuk dalam ciri gerakan reformis, dimana gerakan yang dilakukan termasuk klasifikasi gerakan protes, yang berupaya untuk memajukan masyarakat tanpa banyak mengubah struktur dasarnya. Gerakan seperti ini biasanya digunakan untuk menuntut adanya kebijakan baru. Tujuannya murni hanya untuk reformasi, bukan untuk merombak ulang seluruh masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh warga Kelurahan Penanggungan. Penolakan dan demonstrasi yang mereka lakukan merupakan upaya untuk mengubah kebijakan jalur satu arah menjadi dua arah. Pertimbangannya adalah karena faktor ekonomi masyarakat dan sopir angkot, kepadatan jalan dalam perkampungan, hingga keselamatan warga sendiri. Selain itu, jika dikaji dalam perspektif Smelser, faktor yang memicu gerakan ini merupakan jenis mobilisasi para peserta dan juga structural strain. Mobilisasi para peserta berarti, perilaku kolektif terwujud saat khalayak dimobilisasikan oleh pimpinannya untuk bertindak, baik utuk bergerak menjauhi situasi berbahaya atau untuk mendekati orang yang dianggap sasaran tindakan, sedangkan structural strain berarti, semakin besar ketegangan struktural maka semakin besar pula peluang terjadinya perilaku kolektif.

            Jika dilihat dari kacamata Habermas, fenomena demonstrasi ini muncul akibat kurangnya upaya konsensus yang dilakukan antara masyarakat dengan Walikota Malang. Karena seperti yang disampaikan oleh juru bicara warga Kelurahan Penanggungan, Ferri Alkaffi, bahwa Walikota Malang tidak pernah bisa menyempatkan waktu untuk bermusyawarah, sehingga akhirnya, kesepakatan pun belum juga diperoleh. Padahal, jika Walikota mudah ditemui, maka masalah justru akan lebih mudah dicari jalan keluarnya. Habermas (2004) berkata bahwa landasan dalam dunia diskursus adalah situasi percakapan ideal dimana kekuatan atau kekuasaan tidak menentukan argumen mana yang menang, sebaliknya, argumen yang lebih baik lah yang akan muncul sebagai pemenang. Setelah menelusuri fenomena gerakan sosial ini, maka dapat disimpulkan bahwa selama ini, komunikasi yang terjadi antara warga Kelurahan Penanggungan dengan Pemkot Malang hanya satu arah, yakni dari Walikota Malang ke masyarakat. Meski seringkali dilakukan upaya musyawarah dengan Dinas Perhubungan, tapi karena kepentingan mereka sangat kontras berbeda, maka jalan keluar pun tidak dapat dilakukan.

            Dengan adanya petisi yang digarap oleh warga bersama mahasiswa, dua arah pun mampu dijalankan kembali. Dengan diterbitkannya surat penundaan jalur One way selama 4 bulan dari DPRD Kota Malang, menjadikan warga Kelurahan Penanggungan seakan mendapat angin segar. Namun keputusan ini ternyata belum dibicarakan dengan pihak Pemkot malang, yang berarti belum ada perencanaan yang jelas terkait pengaturan jalanan lingkar UB untuk selanjutnya. Bisa jadi, ketika 4 bulan ini telah usai, akan muncul kebijakan baru yang akan memicu terjadinya pertentangan antara Walikota Malang dengan warga masyarakat, sehingga akan terjadi gerakan-gerakan baru seperti “Gerakan Masyarakat Anti Wali Kota Malang”, dan membuat tidak hanya aktivis saja yang ikut berpartisipasi dalam demonstrasi, melainkan juga saya serta rekan-rekan mahasiswa Universitas Brawijaya Malang untuk bersama-sama menuntut diturunkannya Abah Anton dari jabatannya. –Sekian-

NB: Kata (baca) bukanlah kutipan, hanya merupakan saran penulis untuk memperjelas alur pemikiran yang ingin disampaikan dalam tulisan ini.

Daftar Pustaka

Annonymous. (2014). Senin, Demo dan Blokir Jalan Panjaitan Tolak Satu Arah. Retrieved from: http://halomalang.com/news/senin-demo-dan-blokir-jalan-panjaitan-tolak-satu-arah.
Annonymous. (2013). Jalur Satu Arah Sudah Permanen. Retrieved from: http://www.malang-post.com/tribunngalam/jalur-satu-arah-sudah-permanen.
Annonymous. (2014). Ketua RT, RW, dan LPMK Penanggungan Resmi Mengundurkan Diri. Retrieved from: http://surabaya.tribunnews.com/2014/10/16/ketua-rt-rw-dan-lpmk-penanggungan-resmi-mengundurkan-diri.
Annonymous. (2014). Anton Mau Musyawarah, Selesai Masalah. Retrieved from: http://malangtimes.com/tag/one-way?print=print-page.
Sukarelawati, Endang. (2014). Kapolresta-Dandim “Rayu” Warga Buka Blokade Lingkar UB. Retrieved from http://www.antarajatim.com/lihat/berita/144075/kapolresta-dandim-rayu-warga-buka-blokade-lingkar-ubKapolresta-Dandim “Rayu” Warga Buka Blokade Lingkar UB.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. (2004). Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
Yasin, Putri Tiani. (2013). Gerakan Sosial. Retrieved from: http://putritiarniyasin.wordpress.com/2013/04/18/gerakan-sosial/.
Annonymous. (2014). Kembali Dua Arah, Dishub Belum Mengubah Marka Jalan di Lingkar UB. Retrieved from: http://www.tribunnews.com/regional/2014/10/29/kembali-dua-arah-dishub-belum-mengubah-marka-jalan-di-lingkar-ub.

*Bendahara Himasigi 2014