Wanita, “diet” dan orang-orang

Oleh: Widy Usmalla*

Belum juga ukuran kecantikan itu hilang dari peradaban, wanita sudah sibuk melirik celah indikator cantik lainnya. Seolah memang tak ada habisnya, mereka dikelabui kapitalis. Sebelumnya, penulis menyebut wanita sebagai obyek bukan tanpa alasan. Sepanjang pengetahuan penulis, wanita bisa diibaratkan sebagai sosok yang merujuk pada ukuran kematangan baik itu kedewasaannya maupun dari segi usianya. Diandaikan, wanita memiliki kepekaan yang lebih tajam akan perubahan dirinya yang baru di masyarakat, khususnya dalam memandang kecantikan. Agaknya, bisa dibayangkan bagaimana cerianya dunia gadis kecil yang gendut menggemaskan, sambil selalu tak pernah lepas dari makanan tinggi kalori kesukaannya tanpa memikirkan apa itu cantik atau apa itu seksi. Jadi, terlepas itu dari sebutan lain seperti perempuan, wanita dianggap cocok memvisualisasikan tulisan ini.

Kini cantik bukan sekedar putih, tapi juga – beratnya lagi – harus kurus. Ya… Kurus!! – bisa jadi pengertiannya tidak gendut, tidak bergelambir – atau entahlah. Kurus disini, tidak tiba-tiba muncul menjadi primadona baru bagi wanita, tapi sudah terkonstruksi dalam setiap sendi-sendi kehidupan kita sehari-hari. Cukuplah kita bicara soal kemampuan dan kekuatan media massa yang gemar sekali mengeksploitasi tubuh wanita. Tak terhitung sudah hegemoni ukuran kecantikan yang direpresentasikan demi kepentingan produk kecantikan komersial di media massa.

Pada akhirnya, secara perlahan namun pasti hal itu melekat dan mempengaruhi nilai-nilai dan cara pandang baru di masyarakat. Sebagai contoh kecil, misalnya, saya atau bahkan kita jarang sekali menemukan produk pakaian online yang berukuran besar. Seperti percakapan yang seringkali kita dapati di akun social media antara penjual dan calon pembeli “Sis, ini ukuran bajunya apa?” “Fit to L sis”. Fit to L maupun All Size – meskipun pada kenyataan masih memiliki batas ukuran – tidak asing lagi bagi wanita yang gemar belanja online. Lagipula, onlineshop juga cenderung menggunakan model yang identik dengan tubuh yang ideal untuk menambah nilai jual. Seketika, dunia menjadi sangat diskriminatif bagi wanita yang tidak masuk kualifikasi kecantikan semu itu. Akhirnya banyak wanita yang mengidam-idamkan tubuh langsing, dengan cara melakukan diet dari yang wajar hingga ekstrem. Miris.

Tentu saja kesempatan ini tidak dilewatkan oleh perusahaan yang ingin mengembangkan atau merintis usahanya di bidang kecantikan. Berbagai produk-produk pelangsing yang menawarkan berbagai hasil dan estimasi waktu perubahan tubuh yang bervariasi, muncul menghiasi iklan-iklan di media massa. Belum lagi, muncul pusat-pusat kebugaran tubuh dan produk konsumsi makanan sehat dengan paket-paket tertentu juga banyak digandrungi. Meskipun dengan cara-cara yang kadang tidak instan dan dengan alih-alih kesehatan atas kecantikan. Sayangnya, tidak semua wanita memaknai diet dengan baik, sehingga berimplikasi pada cara-caranya pula. Di beberapa kasus, wanita berdiet justru  hampir tak ada bedanya dengan menyiksa sejenis dengan praktek bunuh diri dengan cara halus.

*Sekertaris Himasigi 2013-2014

MASIHkah

Oleh: Dwi Lestari*

Terima kasih untuk kesempatan dan dorongannya untuk belajar menulis sebuah kenisbiaan dari seorang manusia. Mungkin tak layak untuk dibaca bahkan dimengerti oleh manusia sebesar apapun. Ya harapku hanya aku yang paling mengerti dalam tulisanku. Tidak sekalipun kau yang mahir mengertian. Aku menulis bukan untuk dimengerti bahkan untuk difahami. Karena ini bukan sinopsi novel yang selalu memiliki aktor dan alur yang melankolis. Tapi ini hanya untuk penghilang kegelisahan. Karena ada sesuatu yang tak bisa tergambarkan lewat teman, sahabat, kawan bahkan kekasih sekalipun. Apakah aku cuhat? Mungkin iya. Aku tidak bisa menulis yang seperti layaknya sebuah pujangga. Aku hanya bisa menulis sms untuk jarkom teman dan sahabatku bahkan kekasih mungkin.
Ku awali dengan sebuah waktu. Waktu yang telah lupa untuk aku ingat kapan itu?. Waktu yang selalu ingin aku lupakan. ya mungkin waktu yang paling hening dalam hidupku. Hening namun kadang ada sebuah bisikan, yang mampu membuatku merasa sesak. Tak ada keriangan waktu itu. Yang ada hanya sesak. Mungkin sesaat, namun itu terasa puluhan tahun. Prustasilah yang ada, tak ada yang mengerti. Hanya nyir-nyir. Yang dimengerti bahwa akulah manusia yang penuh dengan kenisbiaan dan tolol. Cukup terimasih lah ya. Mungkin masa itu sangat pilu.
Sekalipun aku bisa melangkah lari seperti apa yang ku mau. Mungkin semua tak akan berlarut. Tapi ku yakin tuhan pun membuat neraka karena tuhan terlalu cinta dengan hambanya. Kenapa aku harus berlari. Inilah kenyataan pahit, manis getir dan akan selalu ada keindahan yang tak terduga. Andai aku tahu hari yang nanti-nanti, maka aku lebih memilih untuk menjadi dungu saja. Indah tak selalu bisa dilihat dengan segala yang kau punya. Kadang keberdaan tidak selalu terasa. Kelak ketika sesuatu yang ada, telah tiada maka saat itulah baru terasa iya dulu seyogyana memang ada.
Aku sama sepertimu. Biarlah kau sebut aku bayang semu. Aku yang hanya mengikuti, dan hanya bisa terlihat jika siang hari, tidak di malam hari bahkan disemak. Ya hanya bayangan. Tak ada kehidupan tanpa cahaya. Biarlah oh biarlah ku sebut diriku sama denganmu. Sama tidak mengerti sebuah penghianatan. Ya yang ku tahu hanya sama, maka sekali pun tak ada secuil untuk melangkah keluar dari sesuatu ikatan bahwa kita sama. Sekalipun aku bayang semu yang angkuh, bajingan seperti yang kau nyir-nyir waktu itu. dan kau tertawakan ketika suara ketololanku bersua. Tapi sungguh itulah bahagianya bayang semu.
Bairkanlah ketololan selalu menemaniku. Dialah kesetiaanku padamu. Biarlah kau sebut tolol sebuah pendustaan bahkan menistakanmu. Namun tau kah kau? Setia tidak selalu sama. Setia tidak selalu mengikuti kehendak lain. Setia selalu memiliki cara tersendiri untuk tetap bersama. Tidak perlu ditanyakan seberapa besar. seberapa dalamnya. Karena kesetiaan tidak bisa diukur, bahkan kebaikan sekalipun tidak bisa menembus ukuran bahwa itu sebuah kesetiaan.
Jika kau selalu berfikir segalanya dengan kepintaranmu semua yang baik akan selalu kau sebut setia. Dan dia yang buruk tidak kau sebut setia. Cobalah kini berfikir dengan tolol biarpun semua orang menertawakanmu. Tapi sungguh dia juga setia walau dengan bentuk lain. Jika kita ingin bersama maka tidak ada sebuah ukuran kebaikan, bahkan kepintaran, untuk melihat bahwa dia setia, dia ideal, dia Keren untuk bisa melanggengkan sebuah kebersamaan. Karena setia sebuah rasa yang tidak bisa terungkapkan namun perlu diperjuangkan walau beda cara tapi memiliki tujuan kebaikan sama.
Cukup ku ucapkan terima kasih dan berhentilah berfikir dengan kepintaranmu karena dunia tak seindah yang tergambarakan dalam angan kepintaranmu. jika ingin melihat dunia yang apik tak perlu kepintaran tapi hanya perlu dengan kebodohan dan ketololanmu.

*Penanggung Jawab Pengabdian Masyarakat