Ayah

Ayah….

Terima kasih engkau telah memberikan ku sebuah nama

terima kasih kau menyayangiku

terima kasih kau menjagaku tiap aku terlelap dalam tidur

terima kasih kau memanjakan ku

Ya aku Ayah

padahal aku sering membuat mu marah

aku sering mengecewakan mu

akan tetapi itu semua tidak mengalahkan rasa sayang mu padaku

Ayah….

engkau ta henti” nya bekerja untuk kamii

engkau selalu tersenyum kepadaku

engkau menyembunyikan kelelahan mu didalam senyum mu

engkau ingin memberikan yg terbaik untuk ku..

Tapi aku Ayah

Aku selalu marah tiap kali kau panggil aku tara

Aku selalu cemberut ketika engkau menasehatiku

Aku selalu buatmu kecewa ayah..

Ayah …

aku rindu akan senyum mu , aku rindu kau panggil aku tara

aku rindu melihat punggungmu

aku rindu kau menemaniku tiap akan tidur

aku rindu akan pelukan hangatmu

https://images-blogger-opensocial.googleusercontent.com/gadgets/proxy?url=http%3A%2F%2F4.bp.blogspot.com%2F-Ct4cCLyLtDg%2FUionBaaWY2I%2FAAAAAAAAABU%2F3WIJOFDwuoU%2Fs200%2Fimages%2B(1).jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*

Aku ingin kau tau Ayah…

aku ingin bercerita tentang cinta pertamaku

aku ingin memperkenalkan nya padamu

aku ingin melihatmu tersenyum lagi….

Ada banyak cerita setelah engkau pergi yah

ada banyak masalah dikeluarga kita

ada banyak penglaman suka maupun duka yg ingin aku ceritakan padamu

Aku menyesal telah buatmu marah…,

aku harap engkau mau memaafkan anakmu ini yah ..

Aku menyesal tidak bisa membahagiakanmu

Aku belum sempat membuatmu bangga ayah

Aku sekarang hanya bisa mendoakan mu ayah

semoga kau tetap tersenyum disana , semoga engkau bahagia disana Ayah

Terima Kasih Ayah… ☺

Aku Sayang Ayah…. ☺

https://images-blogger-opensocial.googleusercontent.com/gadgets/proxy?url=http%3A%2F%2F2.bp.blogspot.com%2F-X2fd1daHH_U%2FUiooAYhDmWI%2FAAAAAAAAABg%2FrYayGR0yTjQ%2Fs1600%2Fimages%2B(2).jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*

 By: Zen’s

Mengkritisi perempuan sebagai “Konco Wingking (teman di belakang) – Nuzul solekhah

Perempuan merupakan makhluk yang dekat dengan kelembutan dan keindahan. Masyarakat mengidentikkan perempuan dengan bentuk fisiknya yang lekat dengan sifat feminim, ulet dan telaten. Dalam perjalanannya sampai era saat ini, perempuan selalu mengalami cerita unik  yang tidak dapat dilalui begitu saja. Perempuan dengan segala sifat yang melekat pada dirinya dihadapkan pada berbagai persoalan pelik mulai dari zaman penjajahan sampai zaman setelah reformasi ini. Jika di zaman kolonial perempuan sengaja ditinggalkan dari segi asupan edukasi, maka di zaman reformasi ini perempuan juga masih menghadapi situasi ketertinggalan dalam hal kesempatan dan peluang dibanding kaum laki-laki, meskipun hal ini terkesan sedikit laten dan tidak begitu tampak seperti di zaman penjajahan silam.

Pada hakikatnya, kekerasan dapat dimaknai sebagai segala tindakan yang dapat menghambat atau menghalangi seseorang untuk merealisasikan potensi yang ada pada dirinya (self realization) dan mengembangkan pribadinya (personal growth). Kekerasan mayoritas dipahami sebagai upaya pelanggengan kekuasaan. Seseorang yang melakukan segala upaya untuk mendapatkan, ataupun melanggengkan kekuasaannya dianggap melakukan kekerasan. Kekerasan itu sendiri terbagi menjadi dua, yakni kekerasan fisik dan kekerasan simbolik. Kekeraan fisik merupakan pelanggengan kekuasaan dan posisi dirinya dengan melakukan upaya yang melukai fisik orang lain, meliputi penggusuran dengan kekerasan, bentrok massa, teror dsb. Adapun kekerasan simbolik terjadi dengan lebih halus, yakni upaya permainan fakta melalui suatu wacana oleh seorang yang memiliki potensi untuk menguasai objek yang sedang dimanipulasi tersebut sehingga masyarakat dengan tidak sadar akan ikut kedalam giringan tersebut, akibatnya masyarakat akan mengalami kemandulan dalam berpikir kritis. Kekerasan ini bersifat lebih halus dan laten, sehingga dampaknya pun akan lebih berbahaya daripada kekerasan fisik. Kekerasan ini mayoritas dialami oleh perempuan melalui media massa.

Perempuan di zaman sekarang terkesan masih terbayang-bayang dengan pengalaman masa silam, dimana perempuan sengaja ditempatkan di belakang. Hal ini rupanya berimbas sampai saat ini dan menjelma sebagai konstruksi sosial dari masyarakat kita sendiri. Perempuan seolah-olah dihadirkan sebagai pelengkap penderita dalam kehidupan laki-laki. Sebagai contoh, dalam iklan parfum laki-laki misalnya, perempuan sengaja dihadirkan sebagai sosok yang melegitimasi kebenaran yang ingin disampaikan pembuat iklan. Perempuan seolah-olah dibuat terkagum-kagum terhadap ketampanan pria, maskulinisme pria, dan hal-hal yang melekat pada sosok pria. Begitu pun pada konteks sesama perempuan, secara sadar ataupun tidak, kaum  perempuan sedang dihadapkan pada suatu kondisi dimana idealisme mereka dikonstruksi sedemikian rupa dengan pola yang ditetapkan oleh pihak-pihak tertentu untuk membentuk suatu keadaan dimana kriteria akan suatu hal ditentukan berdasarkan “yang seharusnya”.

Seperti sebagaimana yang dialami oleh perempuan kita saat ini, bahwa untuk bisa dikatakan cantik adalah mereka yang memiliki tubuh kurus langsing, kulit putih, rambut lurus, mata sipit, bibir tipis dsb. Dengan konstruksi yang seperti ini, maka perempuan yang tidak termasuk dalam karakteristik tersebut akan merasa terpinggirkan, dan hanya mereka yang memenuhi kriteria tersebut yang dapat eksis dalam masyarakat karena masyarakat juga sudah terkonstruk dengan pandangan tersebut. Sehingga mereka yang berada diluar kategori tersebut akan berbondong-bondong untuk berusaha agar dapat menjadi seperti yang dikonstruksikan mengenai bagaimana figur wanita “yang seharusnya”. Akhirnya muncullah produk kosmetik dari negara X misalnya, yang saat ini sedang mewabah di Indonesia. Bersamaan dengan masuknya sampel bagaimana agent mereka yang dijadikan kiblat dunia. Sejalan dengan hal itu akhirnya mayoritas perempuan berbondong-bondong untuk berusaha tampil seperti kriteria artis yang menggunakan produk tersebut. Secara sadar atau tidak, dalam paparan kondisi ini perempuan sedang dijadikan sasaran empuk produk oleh sebagian oknum yang bermain peran di dalamnya. Perempuan dengan segala sifat, kelemahan, kelembutan dan kebutuhannya dijadikan sebagai objek perputaran ekonomi pihak tertentu yang sangat paham mengenai bagaimana mengelola realita yang ada pada perempuan.

Dalam hal ini, perempuan tidak hanya dijadikan sebagai objek sasaran produk asing, tetapi juga sebagai sasaran idealisme yang terbawa melalui produk itu sendiri. Seperti yang dipaparkan diatas, bahwa perempuan adalah mayoritas penghuni wilayah negeri ini, secara tidak langsung mereka sangat sesuai untuk dijadikan sasaran empuk produk dan idealisme yang dirancang sedemikian rupa untuk dijajahkan pada mereka.

Beralih pada kasus lain yang masih serupa membahas keterbelakangan perempuan, bahasan mengenai “partisipasi masyarakat” serasa tidak begitu representatif ketika perempuan sangat jarang dilibatkan dalam proses diskusi, ataupun musyawarah mengenai permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat. Misalnya ketika terjadi permasalahan di daerah yang rawan bencana. Pada umumnya, yang paling banyak memiliki kesempatan untuk berdiskusi membahas hal ini adalah kepala keluarga yang dianggap sudah mewakili mayoritas masyarakat yang ada disuatu daerah. Padahal jika kita telaah lebih dalam, perempuan lah yang paling banyak menanggung beban dari berbagai permasalahan yang sering terjadi. Misalnya ketika tempat tinggal mereka dekat dengan pabrik kimia ataupun pabrik tertentu yang dapat menyebabkan polusi udara. Perempuan akan sangat beresiko mengenai hal ini. Polusi udara dapat mengganggu kesehatan perempuan yang sedang hamil. Begitu pula ketika banjir ataupun bencana alam lainnya, kebutuhan perempuan akan sangat lebih kompleks, mereka akan membutuhkan asupan gizi yang sangat penting untuk ibu-ibu hamil dan menyusui hingga sampai pembalut bagi mereka yang sedang menstruasi. Hal-hal kecil seperti inilah yang kadang luput dari pengawasan kita. Mayoritas dari kita tidak menyadari betapa perempuan menanggung beban yang lebih berat ketika goncangan-goncangan terjadi pada daerah-daerah di seluruh belahan dunia. Misalnya ketika terjadi konflik, perempuan seringkali luput dari perhatian kita, terkadang kita lupa bagaimana kita memperlakukan mereka secara manusiawi. Hal ini terbukti dengan kasus pemerkosaan, kekerasan, pelecahan pada saat perang, atau bahkan pada saat ini, yang notabene  kita sudah mengatakan bahwa negara kita telah merdeka. Tetapi kemerdekaan perempuan masih patut dipertanyakan.

Dalam konteks yang lebih dekat dengan masyarakat kita, yang paling mudah dijadikan contoh kasus adalah bagaimana kaum laki-laki di sekitar kita lebih cepat mendapat informasi daripada perempuan. Realitas di masyarakat kita masih menganggap bahwa perempuan adalah sosok yang perlu dilindungi dan dijaga, hal ini yang salah satunya menjadi alasan mengapa wanita tidak patut berada diluar rumah berlama-lama. Pada satu sisi, hal ini merupakan bentuk kontrol sosial yang baik yang secara alamiah tumbuh dalam masyarakat,sehingga perempuan merasa terjaga dan dilindungi, meskipun pada kenyataannya tidak semua perempuan mampu memposisikan dirinya seperti itu. Kembali lagi pada bahasan awal, bahwa batasan-batasan ini rupanya menjadikan perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang berbeda dalam mendapatkan asupan pengetahuan. misalnya saja ketika para laki-laki berkumpul di warung kopi, maka mereka akan sangat mudah membuat forum-forum diskusi. Yang secara tidak langsung, hal ini merupakan tempat informal yang sangat memungkinkan mereka untuk berdiskusi kecil, membahas berita-berita hangat, isu-isu publik, atau bahkan memutuskan suatu perkara yang sebelumnya menjadi wacana. Hal inilah yang secara tidak kita sadari telah mendikotomikan antara perempuan dan laki-laki. Tanpa melibatkan perempuan, laki-laki lebih sering memutuskan perkara-perkara dalam situasi informal yang memungkinkan presensi mereka lebih besar dibanding perempuan, seperti di warung kopi tadi misalnya. Ketidak hadiran perempuan disini yang seringkali kita abaikan, sehingga perempuan menjadi identik dengan aktor dibalik layar.

Apa yang melekat pada diri perempuan adalah yang berkaitan dengan istilah “Swargo nunut, neroko katut” yang jika diartikan perempuan adalah sosok yang berada dalam bayang-bayang laki-laki(suami), jika suami masuk surga, maka istri juga masuk surga, sedangkan jika suami masuk neraka, maka istri juga ikut kena imbasnya, karena laki-laki adalah imamnya. Secara sepintas memang benar bahwa laki-laki adalah iman perempuan, tetapi tidak berhenti pada titik ini, kita juga harus kritis dalam memaknai hal ini. Bukan berarti hal ini dijadikan dalil untuk membenarkan segala yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. Bukan berarti laki-laki selalu benar karena dia adalah imam. Apakah jika suami mengajarkan untuk korupsi itu adalah benar hanya karena dia adalah seorang imam? Apakah jika suami berbuat kekerasan pada istri hanya karena terbawa masalah di tempat kerja adalah suatu kebenaran karena dia adalah imam? Apakah jika seorang suami memaksakan kehendak atas dasar egoisme adalah hal yang benar? Pada kenyataannya tidak semua yang dilakukan oleh seorang laki-laki adalah benar, tetapi tidak semua yang dilakukan oleh laki-laki adalah hal yang salah. Selama mereka masih memiliki alasan yang dibenarkan dan tidak melanggar hak asasi orang lain, serta memiliki kebijaksanaan dalam memutuskan perkara, tidak ada alasan bagi perempuan untuk tidak menerimanya, tetapi jika mereka hanya mendasarkan pada keinginan dan egoisme mereka semata, tanpa memiliki alasan dan kebijaksanaan yang kuat atas setiap keputusan, maka tidak ada alasan bagi perempuan untuk tetap menerima perlakuan tersebut. Perempuan bebas mengatakan aspirasinya ketika mereka terkait dalam konteks tersebut, ketika ada hal yang berkaitan dengan mereka, mereka bebas ikut serta dalam proses pembahasan tersebut. Tidak harus tunduk pada apa yang dikatakan oleh laki-laki, dan bukan berarti ketika laki-laki dianggap mewakili keberadaan perempuan maka hal itu dianggap representatf. Negara kita memiliki jumlah perempuan yang cukup banyak. Seiring dengan hal itu, masalah yang timbul pun akan semakin kompleks. Akankah perempuan tetap diam dan hanya menerima posisinya sebagai teman wingking (dibelakang layar) yang hanya berkecimpung di dapur, kasur dan sumur? Yang hanya dihadirkan sebagai objek pelengkap penderita atas segala permasalahan yang ada saat ini. Sedangkan perempuan itu sendiri tetap ikut andil dalam terkena imbas setiap persoalan yang ada.

Disatu sisi tingkat pengetahuan perempuan di masyarakat kita mengenai kesetaraan gender masih belum optimal diserap oleh mereka, apalagi para generasi tua yang masih sangat erat dengan warisan pengalaman masa lalu yang sebagian masih konservatif.  Berbeda dengan lingkungan yang benar-benar dikonstruksikan untuk membangkitkan semangat kesetaraan gender tersebut. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap seberapa jauh masyarakat menerima dan menerapkan hal tersebut pada kehidupan mereka. Adapun di Indonesia sendiri, kesadaran akan hal ini masih terbatas pada kalangan akademisi saja yang notabene mendapat asupan kognitif dalam lingkungan mereka. Sedangkan mereka yang notabene tidak memiliki kesempatan dalam hal ini bukan berarti berhenti sampai disitu. Mereka adalah jumlah yang lumayan besar yang seharusnya digiring oleh perempuan-perempuan yang sudah sadar akan hal ini. Mereka adalah aset besar yang seharusnya diikutkan dalam proses-proses pengambilan keputusan yang notabene menyangkut  sebagian besar kepentingan mereka. Tidak harus dengan berada dibidang akademis, ataupun bidang politis. Tetapi kesadaran ini perlu kita tumbuhkan kepada mereka agar tetap berkarya di bidang informal. Agar tetap dapat menyampaikan aspirasi melalui kesempatan-kesempatan yang mampu mereka jangkau. Misalnya melalui kreativitas mereka dalam menciptakan suatu hasil, baik itu berupa produk perekonomian kecil (UKM), tidak harus masuk ke dalam ranah formal, tapi mereka juga dapat ikut serta menggiring perkembangan melalui sektor informal, misalnya menciptakan diskusi-diskusi kecil ketika berkumpul dengan sesama perempuan dalam acara tertentu, seperti arisan, pertemuan PKK, dsb. Apalagi bagi perempuan yang memiliki posisi yang sangat dekat dengan seorang pemimpin, misalnya istri atau anak seorang kepala desa,  kepala daerah, dsb, maka salurkanlah aspirasi kalian wahai saudaraku perempuan sebangsa dan setanah air. Jadikanlah posisi kalian yang awalnya sebagai teman wingking menjadi suatu potensi yang tidak kalah hebat dengan aktor yang tampil di depan kalian. Bukan pamer jubah linguistik ataupun pencitraan yang kita cari, tetapi bagaimana kita ikut serta dalam menggerakkan peta realitas di masyarakat kita ini. Bukankah hal tersebut merupakan potensi yang dikaruniakan Tuhan untuk kita selama ini? Maka jangan biarkan situasi kita tertahan dalam ranah wingking yang tidak produktif dalam konteks yang lebih luas. Kodrat kita sebagai perempuan secara agama adalah sebagai sosok yang dipimpin oleh laki-laki, dan kita harus tetap patuh pada mereka selama yang mereka paparkan pada kita adalah hal yang benar, tetapi sebagai perempuan yang memiliki posisi rawan dan sering terabaikan, maka situasi ini tidak boleh memandulkan daya kritis kita terhadap realitas yang ada di masyarakat. Gunakanlah seberapa peluang yang kita miliki seoptimal mungkin. Tetapi jangan meninggalkan batas-batas keluwesan kita sebagai perempuan yang bermartabat. Jangan meninggalkan nilai-nilai kita sebagai perempuan Indonesia yang memiliki ciri khas kita sebagai bagian dari Indonesia. Jika bisa, kembalikan citra kita sebagai perempuan Indonesia yang memiliki ciri khas tersendiri, dengan keanggunan, kesopanan, kelemah lembutan dan kecantikan yang mencerminkan bangsa kita. Kita adalah perempuan yang terlahir di Indonesia, dengan warna kulit kita yang beragam, dengan budaya kita yang beragam, dan akan semakin indah jika kita memiliki kecerdasan yang tersembunyi dibalik keanggunan. Maka idealisme asing akan sulit menembus kekayaan perempuan Indonesia.

Jangan jadikan hari Kartini hanya berjalan secara simbolis pada perayaannya saja, tetapi hidupkanlah kehidupan perempuan yang telah diperjuangkan oleh perempuan pada masa silam. Kemudahan akses yang kita dapatkan saat ini harus dapat kita optimalkan sebaik-baiknya. Kita harus dapat mengkolaborasikan antara posisi kita sebagai teman wingking dan daya kritis kita sebagai perempuan yang hidup di era ini, dengan segala tantangan dan penyelundupan idealisme yang senantiasa dijejalkan pada kita karena kita adalah aset yang kaya akan keindahan dan juga kelemahan. Oleh sebab itu kita harus memahami siapa diri kita, dimana kita berada dan harus bagaimana kita dalam menghadapinya.

 

Sumber:

Kholifah, Siti. 2006. Kekerasan dan Media Massa dalam Matakuliah Sosiologi Komunikasi,  Universitas Brawijaya (tidak diublikasikan).

 

Tak Berjudul, Tak Apa-Apa

Jauh di ujung kenang yang menjadi momen rindu dulu

dibawah kuasa deras hujan ; ada petir sombong tetap menyambar.

Mangkuk soto bekas anak-anak makan pecah berserakan ; terkena angin yang tak mengenal ampun rasa kencang.

Jangankan pintu, jendela-jendela besar ini pun ditutup, gorden putih di lebarkan.

Tapi tetap saja angin mampu menerobos masuk, setia ditemani air yang turut berhembus, bukan mengalir.

 

bagi sebagian mereka, hujan kencang ini mengganggu, suara-suara menjadi sulit terdengar, dan lebih banyak menyebalkan.

Tapi tidak bagi segerombolan makhluk  laki-laki yang “terjebak sosiologi” dari berbagai angkatan ini,

Ditempat favorit, di bawah balkon, dibelakang gedung oren yang kadang menjulang sombong

Ada dentuman musik yang semakin kencang hujan, semakin kencang pula ia

Gitar, nada, suara, hujan, berpadu, saling melawan, hingga hujan mengalah, mereda.  Dan merekalah pemenangnya.

 

lalu, dari lantai tiga atas sana,

Dua orang laki-laki separuh baya dijendela memandang ke arah bawah,

Mereka ; dosen kita. Yang tidak bisa tersebut namanya, Pak Dani dan Pak Arif.

Tersenyum , geleng-geleng kepala, tapi tak marah , tak pernah.

Dan suara-suara “Manusia Setengah Dewa” di bawah makin kencang ,

Segerombolan laki-laki dari tiga angkatan

 

Turunkan harga secepatnya

Berikan kami pekerjaan

Pasti ku angkat engkau menjadi manusia setengah dewa

Masalah moral masalah akhlak

Biar kami cari sendiri

Urus saja moralmu urus saja akhlakmu

Peraturan yang sehat yang kami mau

Tegakkan hukum setegak-tegaknya

adil dan tegas tak pandang bulu

pasti ku angkat engkau

menjadi manusia setengah dewa.

 

Entah ditujukan kepada siapa, biar hujan, dan mereka yang merekamnya.

Rabu, 26 november 2014, sesaat sebelum Sosiologi menuju Together, sebenarnya sosiologi  sudah sering together.

 

HS- Dept. Jurnalistik HIMASIGI 2015