Sri dan Malang ( oleh : yuni )

Namanya Sri, gadis gendut, lugu yang pandai berbicara dengan tatapan tajam dan memiliki muka bundar seperti tampah, yang orang lain biasa katakan. Usianya sekitar 16 tahun saat berjalan dengan membawa ijazah SMA yang ia tenteng keluar dari gerbang sekolah berwarna biru muda dengan sepatu hitam polos bertali. Matanya memandang berkeliling, menatap setiap jengkal tempat yang sudah ia habiskan bersama rekan seperjuangannya selama tiga tahun itu. Dengan masih mengenakan Rok abu-abu dan atasan putih lengkap berdasi dan kerudung putih yang berenda pinggirnya, ia siap memancal sepeda motornya pulang ke rumah.

“aku mau ke Malang minggu depan mak” katanya selepas menyantap bubur ketan di sendokan yang terakhir.

“loh memangnya sudah waktunya daftar ulang?” Tanya wanita yang duduk di depannya sambil menjahit celana hitam kain yang sobek pada bagian selakangannya.

“sudah. Tadi barusan ambil ijazah mak, buat persyaratan pendaftaran.”jawabnya kembali

Wanita itu menghela nafas panjang, membicarakan beberapa hal kecil, dan hanya ditanggapi sri dengan helaan nafas panjang dan beberapa kalimat singkat tanda ia mengerti.

“apa lagi sekarang ?” Tanya Sri dalam suatu malam saat ia mulai kebingungan menyusun beberapa lembar kertas yang akan ia masukkan ke dalam map warna merah jambu.  Kembali ia mengobrak abrik map-map lainnya yang sebelumnya sudah ia susun sedemikian rupa untuk dimasukkan kembali dalam laci lemari. Matanya hampir menangis, menahan perasaan gelisah dan emosi.

“apa lagi yang kurang?” Tanya lelaki berusia 39 tahunan yang memiliki wajah sangat mirip dengannya.

“aktanya nggak ada pak. Tadi itu disini, sudah tak susun. Tapi sekarang nggak ada.” Jawabnya dengan keras. Ayahnya yang sering ia panggil dengan panggilan babe itu melonjak kaget. Tidak mengira anak sulungnya bisa membentak hanya karena masalah sepele.

“yo, bapak itu nggak tau! Makanya kalau buth apa-apa itu langsung disiapin, ggak usah bikin orang lain ikut bingung kayak gini.” bentak ayahnya dengan keras.

Ah, kelabu, biarkan bulan menangis, merintih mendengar setiap lara. Esok matahari kan benar-benar membakar setiap kulit yang mencari rejeki, menerpa setiap nyawa yang berteduh di gubug tepi kali. Oh, badai, datanglah saja mala mini, jangan esok pagi. Ucapkan salam perpisahan, karena esok perjalananku dimulai…… begitulah sepoton tulisan yang Sri tinggalkan di lembaran terakhir buku diarinya. Perjalanan hidupnya akan diawali kesok pagi. Menginjakkan kaki di kota orang yang akan ditempatinya empat tahun mendatang.

Sri masih menangis, mengingat bentakan kasar yang ia lontarkan pada ayahnya. Saat itu, diperjalanan menuju terminal Cepu, ia memeluk pinggang ayahnya dengan erat sambil mengucapkan maaf. Tak sadar, beberapa butir air mata yang sudah disimpannya sejak sholat fajar itu meleleh begitu saja.

“nggak papa nduk, yang penting kamu disana belajar yang rajin, jangan lupa sholat, jangan kebanyakan main, jadi orang pinter ya, biar bisa ngangkat derajatnya bapak ibukmu yang Cuma lulusan SD ini” kata bapaknya menenangkan.

Keduanya hening kembali,. Malang, kan tetap kuingat pesan bapakku. Jadilah perantauan yang menyenangkan, kan kunikmati setiap detikku beramamu, dengan segala impian yang ayah dan ibukku torehkan, bersahabatlah denganku.

Sri dan Malang

Namanya Sri, gadis gendut, lugu yang pandai berbicara dengan tatapan tajam dan memiliki muka bundar seperti tampah, yang orang lain biasa katakan. Usianya sekitar 16 tahun saat berjalan dengan membawa ijazah SMA yang ia tenteng keluar dari gerbang sekolah berwarna biru muda dengan sepatu hitam polos bertali. Matanya memandang berkeliling, menatap setiap jengkal tempat yang sudah ia habiskan bersama rekan seperjuangannya selama tiga tahun itu. Dengan masih mengenakan Rok abu-abu dan atasan putih lengkap berdasi dan kerudung putih yang berenda pinggirnya, ia siap memancal sepeda motornya pulang ke rumah.

“aku mau ke Malang minggu depan mak” katanya selepas menyantap bubur ketan di sendokan yang terakhir.

“loh memangnya sudah waktunya daftar ulang?” Tanya wanita yang duduk di depannya sambil menjahit celana hitam kain yang sobek pada bagian selakangannya.

“sudah. Tadi barusan ambil ijazah mak, buat persyaratan pendaftaran.”jawabnya kembali

Wanita itu menghela nafas panjang, membicarakan beberapa hal kecil, dan hanya ditanggapi sri dengan helaan nafas panjang dan beberapa kalimat singkat tanda ia mengerti.

“apa lagi sekarang ?” Tanya Sri dalam suatu malam saat ia mulai kebingungan menyusun beberapa lembar kertas yang akan ia masukkan ke dalam map warna merah jambu.  Kembali ia mengobrak abrik map-map lainnya yang sebelumnya sudah ia susun sedemikian rupa untuk dimasukkan kembali dalam laci lemari. Matanya hampir menangis, menahan perasaan gelisah dan emosi.

“apa lagi yang kurang?” Tanya lelaki berusia 39 tahunan yang memiliki wajah sangat mirip dengannya.

“aktanya nggak ada pak. Tadi itu disini, sudah tak susun. Tapi sekarang nggak ada.” Jawabnya dengan keras. Ayahnya yang sering ia panggil dengan panggilan babe itu melonjak kaget. Tidak mengira anak sulungnya bisa membentak hanya karena masalah sepele.

“yo, bapak itu nggak tau! Makanya kalau buth apa-apa itu langsung disiapin, ggak usah bikin orang lain ikut bingung kayak gini.” bentak ayahnya dengan keras.

Ah, kelabu, biarkan bulan menangis, merintih mendengar setiap lara. Esok matahari kan benar-benar membakar setiap kulit yang mencari rejeki, menerpa setiap nyawa yang berteduh di gubug tepi kali. Oh, badai, datanglah saja mala mini, jangan esok pagi. Ucapkan salam perpisahan, karena esok perjalananku dimulai…… begitulah sepoton tulisan yang Sri tinggalkan di lembaran terakhir buku diarinya. Perjalanan hidupnya akan diawali kesok pagi. Menginjakkan kaki di kota orang yang akan ditempatinya empat tahun mendatang.

Sri masih menangis, mengingat bentakan kasar yang ia lontarkan pada ayahnya. Saat itu, diperjalanan menuju terminal Cepu, ia memeluk pinggang ayahnya dengan erat sambil mengucapkan maaf. Tak sadar, beberapa butir air mata yang sudah disimpannya sejak sholat fajar itu meleleh begitu saja.

“nggak papa nduk, yang penting kamu disana belajar yang rajin, jangan lupa sholat, jangan kebanyakan main, jadi orang pinter ya, biar bisa ngangkat derajatnya bapak ibukmu yang Cuma lulusan SD ini” kata bapaknya menenangkan.

Keduanya hening kembali,. Malang, kan tetap kuingat pesan bapakku. Jadilah perantauan yang menyenangkan, kan kunikmati setiap detikku beramamu, dengan segala impian yang ayah dan ibukku torehkan, bersahabatlah denganku.

by : yuni