Pohon Komersil

Oleh : Wandi*

Pohon merupakan makhluk hidup yang tinggal di bumi bersama kita umat manusia. Dalam semua ajaran agama pohon sebuah symbol dan sumber kehidupan umat manusia, relief – relief yang ada di candi Borobudur, prambanan, serta candi-candi lainnya melambangkan pohon sebagai sumber kehidupan kita (Joga & Antar 2009 : 19).

“Pohon adalah pembentuk ruang yang paling dasar (akar dan tanah = lantai, batang = tiang, ranting dan daun = atap) yang menciptakan keteduhan agar manusia dapat melakukan aktivitas di bawahnya” (Joga & Antar 2009 : 19). Ini menjadi bukti bahwa pohon adalah sebuah sumber kehidupan umat manusia, karena pohon memberikan kita sebuah tempat berteduh, bahkan  pohon sendiri bermanfaat bagi kehidupan kita, pohon bisa menjadi pondasi rumah dan sebagainya.

Tetapi pada zaman sekarang ini pohon semakin banyak ditebang bahkan tidak dilakukan reboisasi atau penghijauan, sehingga pohon semakin berkurang dari tahun ketahun. Selain itu pohon juga menjadi bagian dari alat pemasaran suatu barang dan jasa. Seperti poster – poster yang ditempel di pohon dengan paku yang dapat merusak pohon.

Bagaimana salah satu pohon di kota malang menjadi alat atau sarana promosi. Karena harga yang murah bahkan mungkin tidak perlu izin kepada pemerintah jadi memasang poster atau panflet di pohon sangat menguntungkan bagi para pengusaha. Poster yang ditempel di pohon tersebut adalah salah satu promosi penjualan rumah yang ada di Kota Malang

Pohon adalah bagian dari ruang publik yang seharusnya milik semua orang dan tidak di eksploitasi untuk komersil. Pohon yang menjadi bagian dari rang publik yang dimiliki oleh pemerintah menjadi tempat promosi barang dan jasa swasta. Apakah ini bagian dari privatisasi? Bisa saja karena menurut Asropi “Privatisasi mengandung pengertian adanya transfer fungsi-fungsi dan asset yang dilaksanakan dan dimiliki pemerintah kepada sektor swasta, dengan privatisasi maka peran swasta makin meningkat sedangkan peran publik makin berkurang” (Asropi 2008 : 2).

Pohon yang ada di pinggir – pinggir jalan umum merupakan milik publik yang dikelola oleh pemerintah, peran pemerintah dalam merawat dan menjaga pohon – pohon umum yang ada di tengah jalan menjadi sangat kurang. Bisa dilihat masih ada saja orang – orang melakukan Tree Spiking. Menurut Meijaard Tree Spiking is “the insertion of metal, concrete, or ceramic spikes into trees (tree spiking)(Meijaard 2001 : 1). Tree Spiking adalah penyisipan logam, beton, atau paku keramik ke pohon.

Seperti yang sudah dibahas di atas bahwa pohon – pohon umum yang ada di jalan-jalan umum banyak yang mengalami tree spiking, dengan tujuan komersil, pemasaran, dan promosi barang dan jasa. Permasalahan ini sudah diatasi oleh pemerintah dan masyarakat, dengan melakukan pencabutan poster – poster yang tertempel di pohon dengan paku. Tetapi pada akhirnya masih tetap ada saja yang memasang poster dengan paku kembali di pohon – pohon umum. Peran pemerintah bisa dikatakan semakin berkurang dengan melepas poster – poster yang sudah ada di pohon, tetapi setelah itu mereka kembali memasang poster di pohon dengan paku. Harga yang murah dan kurang tegasnya pemerintah dalam menindak para  perusahaan barang/jasa yang menempel poster tersebut.

Selain itu perebutan – perebutan ruang juga terjadi antar sesame pengusaha dalam mendapatkan tempat – tempat reklame yang sudah disediakan pemerintah. Seperti yang ada pada gambar di bawah ini. Bagaimana ada saja pohon yang tetap digunakan sebagai alat promosi,

Ini karena perebutan perebutan ruang reklame yang terjadi antar para pengusaha bisnis yang mengakibakan mereka mereka yang tidak mendapatkan ruang untuk memasang reklame terpaksa memasang di pohon – pohon umum yang ada di pinggir jalan.

Selain itu biaya yang diterapkan pemerintah untuk pemasang baliho atau reklame pada tempat yang sudah disediakan juga lumayan mahal. Itu menyebabkan hanya beberapa perusahaan – perusahaan besar saja yang bisa menyewa atau membayar pajak untuk pemasangan baliho/reklame.

Biaya – biaya yang dibutuhkan untuk memasang reklame/baliho pada tempat yang sudah disediakan bisa dibilang cukup mahal. Di kota malang sendiri biaya reklame dibedakan dari kelas kelasnya. Dikutip dari SPP Badan Pelayanan Perijinan (Perijinan.malangkota.go.id : diakses pada 14 Juni 2015) Terpadu Kota Malang tarif pajak dibedakan berdasarkan kelasnya masing – masing dan ukuran serta luas lahan yang digunakan juga menjadi perhitungan dalam penentuan pajak.

jadi akan terjadi perebutan ruang guna mendapatkan tempat reklame/poster yang sudah diakui oleh pemerintah. Jadi para perusahaan – perusahaan barang dan jasa yang mau memasang iklan reklame ataupun poster yang diakui oleh pemerintah mereka harus mendapatkan izin yang tidak murah.

Pohon yang ada disekitar kita, yang ada di jalan – jalan umum kota malang menjadi alat atau sarana mencari keuntungan dengan memasang poster atau reklame iklan dengan paku pada pohon. Karena tanpa mengeluarkan biaya dan tanpa perlu perijinan dari pihak pemerintah.

Dengan memaku pohon maka membuat lubang pada pohon tersebut, dengan adanya lubang pada pohon tersebut membuka lapisan kulit pohon yang melindungi pohon pohon dari kuman dan bakteri – bakteri yang mengganggu pohon tersebut. Artinya dengan melakukan tree spiking sama dengan merusak lingkungan hidup khususnya kehidupan pohon. Apalagi dengan paku yang sudah berkarat akan tambah menyebabkan pohon yang dipaku menjadi mudah terinfeksi penyakit.

“Perkembangan ruang publik menghadapi masalah jumlah ruang yang merosot dalam ukuran, kuantitas, dan kualitas, kondisi yang tidak layak guna, sumber daya lahan yang langka, pertumbuhan penduduk yang pesat sedangkan luas lahan yang tetap, dan lahan – lahan strategis yang berada dalam pengawasan  institusi nonpublik” (Joga & Antar 2009 : 26).

Hal itulah yang menyebabkan pohon menjadi lahan pemasaran atau menjadi alat/sarana komersil bagi para pengusaha – pengusaha yang kesulitan mendapatkan lahan/ruang iklan yang sudah diakui pemerintah. Akhirnya pohon menjadi salah satu alat yang mudah dan murah, bahkan tanpa izin dari pemerintah. Cukup menempelkannya dengan paku maka iklan sudah dipasang. Tetapi mereka tidak memperhatikan akibat yang mereka lakukan kepada lingkungan hidup khususnya pohon.

Daftar Pustaka

Joga, Nirwono & Antar, Yori. 2009. Bahasa Pohon Selamatkan Bumi. Jakarta : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Meijaard, Erik. 2001. Jurnal Recommendations Regarding the Use of Tree Spiking as a Legal Tool to Combat Illegal Logging in Indonesia. Australian National University

Asropi. 2008. Menilik Kerja Privatisasi : Perbandingan Malaysia dan Indonesia. Jurnal Administrator Borneo

SPP Badan Pelayanan Perijinan. 2008. Perhitungan Pajak Retribusi/ Reklame Insidentil Dan Reklame Tetap/Permanen Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 4 Tahun 2008. diunduh pada tanggal 14 Juni 2015 di (http://perijinan.malangkota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=93:izin-pemasangan-media-reklame-isidentil&catid=46:bidang perekonomian&Itemid=91)

*Anggota Departemen Internal Tahun 2015

Antara Aku, Kau dan Kesibukanku.

Sibuk. Banyak yang harus dikerjakan, dipikirkan, begitu pula yang ditinggalkan

Sibuk. Bukan sekedar terpaku pada komitmen, pekerjaan menuntut adanya tanggung jawab. Banyak yang dipikul, banyak yang dijinjing.

Sibuk. Pelarian dari sebuah kenyataan, berjalan diatas keresahan, menyelam dalam aktifitas bisu sambil menghirup gelembung mimpi.

Sibuk. Pembenaran atas sejengkal langkah tak bertuju, sebaris kata tak bermilik, sepintas akal tak logis, sebersit lamunan mimpi tak terbangunkan.

Berbahagia lah nak, peluh sibukmu meredakan ilusi tengah malam. Bersedihlah nak, pening sibukmu mengaburkan namanya dalam doamu.

Biar dentang jam dinding mengantarmu dalam pelukan malam, menepis kesadaranmu lantas hanyut hingga lupa kepada siapa kamu bersandar.

 

Oleh : rahadirey

Pergi Tanpa Pesan

Perlahan semakin dekat, terdengar suara langkah kaki yang sedang menuju ke arahku. Dalam hatiku aku bertanya-tanya “siapakah itu yang akan datang menemuiku? Apakah aku mengenalnya?” pintu yang ada di depanku perlahan-lahan di buka dan akankah aku dapat melihat siapa orang yang membuka pintu itu. Ternyata dia seorang perempuan tapi tak jelas wajahnya, lampu-lampu sorot yang berwarna putih memancar, kearahku dan itulah yang membuat aku susah untuk mengenalinya.

Tanganku bergerak untuk mengurangi silaunya cahaya lampu itu lalu aku bertanya “siapa kamu?” orang itu tak menjawab dia hanya tersenyum kearahku. Perlahan-lahan aku mulai terbiasa dan mulai bisa melihatnya akan tetapi hanya senyumnya yang bisa aku lihat. Senyuman itu begitu manis, ketika aku ingin menanyakan sekali lagi siapa dirinya.

Perlahan wanita itu membalikkan tubuhnya dan meninggalkanku dengan sebuah senyuman yang manis. Lalu ia pergi berjalan menjauhi diriku, tak tahu apa yang harus aku lakukan diam saja duduk di sofa ini atau haruskah aku lari untuk mengejar dan menanyakan namanya? Aku tak tahu aku mulai berfikir perempuan itu semakin jauh. Ketika keputusanku sudah ada untuk mengejarnya dia sudah tak ada ia pergi meninggalkanku tanpa pesan.

 

Oleh : Dimas Sinatrio

Wamakaru Wamakarallah

Sendiri ?
Jika terlintas kata sendiri

Tak asik dan membosankan memang

Tapi itu pasti yang ada dipikiran kita

Di dunia ini siapa yang mau sendiri ?

Bukan aku pastinya

Kuharap juga bukan kamu tentunya

Karena apa ? kita hidup untuk saling mengisi dan melengkapi

Tapi saat ini aku lebih memilih sendiri

Biarkan kesendirianku ini menjadi saksi

Saksi perjalanan ku memperbaiki diri

Dalam kesendirian ini

Bukan berarti aku menyerah

Bukan berarti aku telah kalah

Namun kesendirian ini adalah perjuangan

Perjuanganku memantaskan separuh agamaku

 

Oleh : Zidny Ziaulhaque