Menunggu

Menungggu

Menunggu akan kelamnya waktu

Menantikan diri mu terpaku

Menyandarkan keresahan hati yang risau

Mengharap tak ingin berlalu dengan diri mu
Menunggu terkadang membuat kita silau

Melampiaskan kerinduan yang tiada terjangkau

Menghempaskan hasrat dalam jiwa yang membisu

Membakar semua keinginan yang membeku

 

Menunggu datangnya waktu

Menyisakan malam-malam yang kelabu

Merintih pun aku sudah tak mampu

Merindukan suara merdu dari ucapan mu

 

Apakah ini hanya nafsu atau aku tertipu oleh waktu?

Hidup di Dalam Lukisan

Goresan-goresan tinta yang dahulu terlihat sangat indah kini telah memudar dan menjadi usang. Warna merah kini telah berubah menjadi pink dan warna ungu hampir hilang tak terlihat. Kini hidupku tidak ada gunanya lagi, seperti halnya lukisan yang awalnya sangat diperebutkan dengan harga yang tak ternilai namun lama kelamaan akan memudar dengan sendirinya dan tidak lagi mempunyai nilai. Aku kini tak seperti dulu, dulu kemana saja aku bisa sendiri tanpa harus menyusahkan orang lain, tetapi mungkin aku kurang menyayangi apa yang telah diberikan Allah kepadaku sehingga kedua kakiku harus diambil kembali oleh-Nya. Ini adalah cobaan yang berat yang membuatku tersadar tentang apa yang telah aku lakukan selama ini. kejadian ini membuatku terkaget bagaikan dipukul gada oleh malaikat, aku tak bisa lagi menikmati indahnya hidup dengan sempurna, aku bisa jalan-jalan jauh apabila ada yang mengajakku dan sering juga aku bersedih melihat mereka yang meninggalkanku sendiri dirumah dan tidak mengajakku.

Aku berpikir mungkin mereka takut jika nanti aku merepotkan mereka, namun sungguh jauh di lubuk hati ini hati kecilku seperti sudah hancur karena harus menjalani kehidupan yang timpang ini. mengapa engkau tidak sekalian mencabut nyawaku ya Alloh, engkau memberiku kesempatan untuk hidup namun ini menyakitkan bagiku. Berbicara tentang sahabat, kini banyak dari sahabatku dulu yang sudah tidak peduli lagi padaku mereka acuh tak acuh padaku, sempat sesekali bertemu dijalan dan aku menegurnya, namun apa jawaban darinya “Maaf aku terburu-buru ada urusan”, sedikitpun dia tak peduli dengan keadaanku yang telah lama tak bertemu dengannya. Di tengah hidupku yang terpuruk seperti ini bukannya aku tidak punya cinta, rasa cinta itu ada namun aku tidak yakin akan ada cinta yang mau membalas cintaku, aku yang dulunya adalah orang yang sangat percaya diri sekali untuk mengejar orang yang aku cintai dan mengungkapkan perasaanku, namun kini aku seperti kura-kura yang apabila dipegang maka kepalanya akan ditarik masuk kedalam cangkangnya.

Aku takut bila cintaku nanti akan terbalas hanya karena kasihan dan aku ingin cintaku nanti terbalas bukan karena rasa kasihan namun karena rasa cinta yang tulus dari dalam hatinya. Tetapi mengapa hal itu seakan menjadi sesuatu yang tidak mungkin dan bahkan mungkin selamanya akan terkubur dalam jurang yang semakin dalam. Aku hanya bisa hidup di dunia yang fatamorgana yang penuh dengan fantasi dan sangat jauh dengan realita, di dalam ketidakmungkinan itu aku bisa hidup bahagia namun jika aku harus kembali dalam kenyataan aku akan merasa sangat terluka. Mengapa semua ini terjadi, apakah orang sepertiku tidak mempunyai tempat untuk hidup di dunia ini, jika benar namun mengapa aku harus ada. Seperti yang tadi kubilang kalau hidupku adalah seperti lukisan yang usang, kalaupun bisa warna diperbarui lagi namun tidak akan seperti aslinya, dia tidak akan menjadi dirinya sendiri dan hanya akan hidup di dunia fantasi.

Gantung dan Pudar

Di sudut pojok kantin sekolah di sebuah kursi panjang yang kosong aku duduk sambil kunaikkan satu kakiku keatas kursi, dengan ditemani segelas es teh yang kutaruh disampingku. Kepala ini menengadah ke atas sambil memandang langit yang begitu indah dengan awan yang tidak beraturan yang memunculkan karya seni Tuhan yang indah luar biasa, namun meskipun mata ini memandang indahnya langit tetapi pikiranku berkeliaran entah kemana.

“Hey.. Putra, ngapain kamu disitu?” suara Fandi temanku membuyarkan lamunanku

 

“Ohh.. hey nggak ngapa-ngapain kok lagi pengen sendiri aja, kamu sendiri ngapain kesini?” tanyaku

 

“Aku mau ke toilet ini kebelet, emang kamu nggak masuk kelas?” sambil Fandi berlalu menuju toilet

 

Aku pun langsung pindah ke parkiran yang ada di dekat mushola sekolah, entah apa yang ada di benakku saat itu namun aku malas sekali untuk masuk ke kelas. Aku duduk di kelas satu SMA Negeri yang ada di daerahku, belum lama ini aku suka dengan salah seorang temanku sendiri satu kelas, tetapi aku adalah tipikal orang yang sangat pemalu karena aku tidak mempunyai kepercayaan diri dengan fisik yang aku miliki. Aku mempunyai tubuh yang gemuk dan kulitku hitam, itu yang membuatku tidak mempunyai kepercayaan diri untuk mendekati perempuan. Dua bulan berlalu dan perasaan cinta ini masih kujaga, aku mencari tau lebih dalam tentang kepribadiannya dan dari situ aku tau kalau hari ulang tahunnya adalah bulan depan.

Aku berencana untuk memberanikan diri ini untuk mengungkapkan perasaan ini di hari ulang tahunnya, aku akan mencoba untuk menerima semua keputusan darinya. Tetapi seiring berjalannya waktu saat hari yang kutunggu-tunggu itu hampir datang keberanian yang selama ini aku kumpulkan mendadak pudar dan hampir hilang, tetapi aku tidak kehilangan akal, aku meminta tolong kepada saudara keponakanku yang juga satu kelas denganku dan juga merupakan teman dekatnya untuk memberikan kado ulang tahun dariku untuknya. Waktu itu aku tidak mempunyai cukup uang namun demi hari yang spesial baginya itu, aku meminjam uang kepada salah seorang temanku untuk membeli boneka dan sebuah buku diary. Pada bagian buku diary paling depan itu kutulis ucapan selamat ulang tahun dan juga harapan-harapan serta doa-doa terbaik yang aku doakan untuknya. Dihalaman ketiga aku mencurahkan seluruh isi hatiku ini bahwa aku mencintainya.

            Aku tahu aku tidak begitu mengenalmu dan kamu pun mungkin tidak mengenalku, namun beberapa bulan ini aku diam-diam mencari tau tentangmu. Aku tau aku bukanlah makhluk yang sempurna dan aku juga tau aku mungkin tidak pantas untukmu. Tapi ijinkanlah aku mengungkapkan seluruh isi hatiku yang begitu mengagumimu ini. Aku tau banyak orang lain yang suka denganmu dan mereka lebih segala-galanya daripada aku. Aku hanya mengagumimu dengan modal cinta dan kasih sayang yang aku janjikan untukmu. Tetapi aku juga tidak akan memaksamu untuk menerima cintaku, karena keberanian untuk mengungkapkan ini padamu sudah lebih dari cukup bagiku, aku harap kamu tidak akan menjauhiku dan kamu tetap mau berteman denganku jika kau tidak menerima cintaku.

Setelah hari spesialnya itu, besoknya aku sangat gemetar sekali untuk berangkat ke sekolah, aku takut jika nanti ketemu dengannya aku harus ngapain. Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di kelas karena aku tidak mau datang keduluan dirinya, aku langsung duduk sambil bermain komputer yang ada di meja guru di depan kelas sambil menunggu bel masuk berbunyi. Tidak lama kemudian dia datang, ketika sampai di depan pintu masuk dia sempat menoleh kearahku namun kemudian dia berlalu menuju tempat duduknya dan kemudian keluar kelas lagi bersama temannya. Disitu aku gemetaran dan jantungku berdetak tak menentu karena aku takut dia marah padaku, beberapa hari berlalu dan dia seperti semakin tidak memperdulikan keberadaanku, sempat ketika pulang sekolah aku berpapasan dengannya ketika aku berjalan ke parkiran motor, dia diam saja dan hanya sedikit menoleh kearahku dan aku pun juga tidak berani menyapanya.

Aku menyesal kenapa waktu itu aku harus mengungkapkan perasaan ini kepadanya, aku juga berpikir mungkin jika aku tidak mengungkapkan rasa ini padanya waktu itu sekarang mungkin aku bisa mengenalnya lebih dekat seperti halnya teman-teman yang lain. Hampir setahun belalu dia masih juga angkuh terhadapku dan tidak pernah bertegur sapa denganku, namun disisi lain perasaanku ini masih tetap padanya meskipun selama itu aku tau dia sudah berganti pacar sebanyak dua kali, aku hanya bisa berdoa suatu saat aku bisa berada disampingnya. Setahun lebih berlalu dan perasaan ini kini sudah memudar dan aku juga sudah tidak begitu memikirkannya namun jujur, rasa itu sebenarnya masih ada dan akan selalu ada.

Untuk yang telah berlalu, kini, nanti dan selamanya.

Perkembangan Ilmu sosial Akademisi Indonesia

Indonesia mengalami beberapa fase yang dapat ditelusuri secara historis mulai Fase Embrionik menelusuri posisi sebenarnya itu disebut sebagai Indiologi atau lebih tepatnya disebut dengan ilmu sosial koloni. Karena fase ini merupakan proses dimana para sarjana didik untuk mengolah sistem yang terdapat pada daerahnya masing-masing. Dan mereka digunakan sebenarnya untuk mempermudah para koloni untuk mengolah hasil perkebunan guna mensejahterakan dari para koloni saat itu. Serta sebenarnya hal ini digunakan untuk memetakan pola pemikiran para sarjana supaya bisa terkendali dan memahami karakteristik sosial dari masyarakat saat itu.

Setelah ditercetusnya proklamasi pada tahun 1945 serta penetapan dasar hukum negara Pacasila ternyata tetap ada pergolakan politik terjadi. Ditandainya era Orde Baru (Orba) yang dipimpin oleh Soeharto yang mengawalinya proses Embrio yaitu dengan mengumpulkan para pemimpin AD memiliki bertujuan untuk mengembalikan serta memurnikan hukum kepada UUD 1945. Momen merupakan cara yang paling tepat untuk menggulingkan masa Orde Lama (Orla) yang dipimpin oleh Seokarno pada waktu itu. Tentu posisi tidak menguntungkan dialami oleh Soekarno yang didukung oleh PNI & PKI sedangkan Soeharto dengan ditompang dengan kekuatan penuh pemimpinan militer dan para corporate yang memiliki sebutan “Mafia Berkley” tentunya memiliki power yang lebih kuat dalam membuat wacana saat itu diperparah keadaan krisis ekonomi yang dialami Indonesia.

Pada masa Orba mereka memberikan sterotip pemikiran baru kepada para masyarakat mereka harus keluar dari kondisi krisis. Pada masa Orba mereka memfokuskan bagaimana Indonesia harus membuka diri dari yang dulunya pemikiran primodialisme yang masih tradisional harus mulai berfikir kearah pemikiran modern. Terjadi 1950-1960 tak lagi sebagai tempat penelitian sarjana Belanda dan disinilah Fase Developmentalis akan diimplementasikan mulai mengarah pada pola pemikiran Westernisasi (pola kebarat-baratan). Mereka mencoba mencanangkan bahwa pembangunan fisik merupakan cara untuk memberikan solusi terhadap perekonomian saat itu. Mereka dengan menggandeng para corporate untuk menanamkan saham di negeri ini serta supaya mempermudahkan tujuan tersebut mereka juga menjalin kerjasama dengan mereka US mempermudahkan para sarjana untuk mengenyam pendidikan. Pada saat itu masa Orba dikenal dengan triloogi pembangunan yaitu stabilitas keamanan dan politik, pertumbuhan ekonomi, serta pemerataan ekonomi, dan kebijakan itu dengan terpengaruh dari dasar pemikiran Walt Rostow. Motif yang dilakukan jelas untuk mengaman deregulasi negara dari serangan para komunis saat itu.

Hingga muncul Fase Kontemporer yaitu dimana para mereka kaum terpelajar kembali ke Indonesia untuk memberikan warna baru untuk negeri ini. Hingga puncak terjadi penggulingan rezim Soeharto yang menjabat selama 32 tahun semenjak menjadi presiden Republik Indonesia sejak menjabat mulai tahun 1966 bersamaan dengan peristiwa SUPERSEMAR. Masa gulingnya rezim Soeharto bukan menjadi solusi terhadap penindasan HAM yang dialami para akademisi tetapi merupakan babak baru untuk menghadapi pola pemikiran Westernisasi semakin kuat. Sebenarnya ilmu sosial dalam dunia akademisi berkembang dari setiap fasenya tetapi masalahnya bukan dari transfer of knowlarge tetapi bagaimana akademisi ilmu sosial tidak menunjukkan kapasitasnya. Apa yang diharapkan ketika akademisi tidak memiliki kesadaran kapasitasnya sebagai ilmu yang memang benar-benar penting dalam suatu negara.

Kapasitas mahasiswa terkait dengan gerakan politik kini terlihat mati suri. Mengapa harus mati suri? Perjuangan era 98’ memang menunjukkan hasil yang mengagumkan dalam pola gerakan akademisi. Tetapi apakah ini akhir dari gerakan para akademisi dalam mengawal pemerintahan? Nyatanya banyak diantara mereka yang duduk di kursi parlemen adalah orang yang dulunya hebat yang memiliki idealis yang tinggi serta mengumbar ideologi. Tetapi ketika mereka sekarang justru duduk dalam kemapanan hilanglah pemikiran kritis. Tindakan yang mereka lakukan harus berdasarkan segelintir kelompoknya saja. Basis akademisi yang harapannya terbebas dari kepentingan politik serta membangun pemikir yang intelektual penerus bangsa ternyata justru menjadi sayap partai serta lebih sibuk dengan adanya proyek sibuk untuk mengkapital diri mereka masing-masing. Pencideraan ini akankah terus berlangsung dan tak berujung? Jangan menangis ibu lagi ibu pertiwi. Selalu dampingi hati kami diantara mereka.

Tulisan dari BPH Himasigi Universitas Brawijaya.

Pendaftaran Caleg yang Tidak Dibarengi dengan Pendidikan Berkarakter

Pada tahun ini adalah tahun-tahun politik bagi Indonesia. Bulan ini adalah bulan dimana kita mengalami pesta demokrasi yaitu pemilihan calon bupati. Ada banyak calon bupati dan wakil bupati yang mendaftar di tahun ini. Pencalonan anggota eksekutif seakan-akan menjadi suatu pekerjaan yang empuk bagi seseorang yang memiliki uang. Karena ketika mereka memiliki banyak uang kemungkinan mereka jadi adalah sangat besar. Tidak dapat dipungkiri ketika mereka kampanye pasti mereka melakukan money politik. Sesuai dengan pengaduan yang diterima oleh MCW di Malang raya saja mereka mendapat 55 pengaduan indikasi parpol maupun caleg melakukan politik uang. 55 pengaduan ini hanya yang diketahui saja belum politik uang yang belum diketahui.

Modus politik uang mereka pun berbeda-beda diantaranya adalah ziarah wali, pemberian seragam tahlil/lainnya, Pemberian sembako, pengobatan gratis, klaim atas hasil pembanguan, pemberian uang, ini adalah contoh pada tahun lalu dimana banyak calon legislative yang melakukan modus politik lalu bagaimana pada tahun ini yang pada bulan November ini lagi hangat-hangatnya terkait pemilihan bupati dan wakil bupati. Sungguh betapa busuknya politik yang ada di negeri ini. Kekuasaan dapat dibeli dan akhirnya mereka meminta ganti yang lebih tinggi. Dan yang kami sebutkan ini hanya yang di Malang raya saja bayangkan kalau di seluruh Indonesia Raya! Tentunya akan lebih banyak lagi. Para caleg tidak berfikir ketika mereka mendaftar anggota eksekutif adalah untuk mengabdi pada negara. Tetapi mereka memiliki pemikiran ketika mereka menjadi anggota eksekutif hidup mereka akan semakin bahagia karena mereka dapat mendapatkan uang dengan mudah. Dan kita juga harus berfikir kritis ketika dalam masa pencalonan saja mereka berani mengeluarkan banyak uang, apalagi ketika mereka telah menjadi anggota eksekutif. Apakah mereka tidak akan meminta sesuatu ganti yang lebih besar dari yang mereka keluarkan ?

Tentunya mereka akan meminta suatu ganti yang lebih besar. Akhirnya banyak anggota eksekutif yang melakukan tidakan korupsi. Para anggota eksekutif pun kebanyakan tidak memiliki background politik, mereka hanya mengandalkan modal mereka untuk maju menjadi calon anggota eksekutif. Alhasil mereka tidak mengetahui tugasnya di ekekutif dan apa yang dikerjakan di dalam lembaga eksekutif tidak akan maksimal. Bahkan rapat pun tidak akan hadir. Seolah-olah anggota eksekutif ini tidak memiliki moral dan karakter yang baik bagi negara kita, Negara Indonesia ini.

Untuk menghindari hal tersebut baik untuk mengurangi kasus korupsi di lembaga ekekutif maupun untuk menghindari anggota eksekutif yang tidak berkompeten alangkah baiknya jika semua lembaga eksekutif memiliki background pendidikan berkarakter ataupun pernah mengalami pendidikan berkarakter. Pendidikan berkarakter sendiri adalah pendidikan kepribadian yang meliputi pendidikan moral,pengembangan kognitif,pengembangan karakter dan lain-lain. Apabila sejak dini anak-anak telah dibekali pendidikan berkarakter insya Allah Indonesia kedepannya akan menjadi bangsa yang memiliki karakter pula, tentunya karakter yang baik. Pendidikan berkarakter ini dapat diterima dari keluarga, pendidikan dasar maupun pendidikan lanjut, dan pendidikan berkarakter ini seharusnya diberikan terus menerus karena apabila pendidikan berkarakter ini diberikan terus menerus maka akan terpatri dalam hati dan akan menjadi suatu kepribadian. Kalau bisa malah harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di Indonesia.

Apabila pendidikan berkarakter ini diberikan sejak dini kepada semua orang dan telah membentuk suatu kepribadian yang bermoral. Kami yakin insya Allah Indonesia ini kedepannya akan menjadi bangsa yang bersih bangsa yang memiliki karakter yang santun serta bermoral. Semua pejabat negara apabila melakukan suatu kesalahan atau penyelewengan seperti korupsi dan kejahatan lainnya akan merasa malu dan tidak berani melakukan hal tersebut dan akan mengabdi sepenuhnya pada negara. Tidak seperti sekarang, para pejabat tidak memiliki rasa malu sama sekali, ketika mereka melakukan suatu kesalahan seperti halnya korupsi, mereka menganggap itu layaknya suatu trend mereka malah menjadi terkenal dan eksis di media massa. Seolah-olah para pejabat atau katakanlah anggota legislatif ini telah putus urat kemaluannya. Mereka tidak merasa malu ketika memakan uang rakyat dan diketahui semua rakyat Indonesia. Hal ini menurut kami disebabkan karena mereka tidak memiliki karakter serta kepribadian yang kuat dan baik.

Walau pendidikan berkarakter bukan satu-satunya jalan untuk mengurangi kasus korupsi maupun kejahatan yang ada di negara ini, namun dengan pendidikan berkarakter ini setidaknya merupakan salah satu solusi ingat hanya salah satu. Karena menurut kami pemberantasan kejahatan itu akan sulit karena pasti akan banyak factor mereka melakukakan kejahatan. Tapi setidaknya tindakan preventif atau pencegahan lebih baik dan bagus daripada pemberantasan.

Oleh karena itu mengapa kita menginginkan pendidikan berkarakter diterapkan secara efektif dalam kurikulum pendidikan. Karena pendidikan berkarakter ini sangat tepat jika diterapkan dan harus diterapkan mulai sekarang, agar generasi bangsa ini mengalami regenerasi kepribadian yang baik dan berkarakter yang akan membawa Indonesia kedepannya menjadi negara yang bersih, maju dalam berbagai hal. Dan bangsa ini menjadi bangsa yang berkarakter dan dikenal, serta disegani oleh semua negara yang ada di dunia ini.

Sebuah tulisan dari Departemen Advokesma Himasigi Universitas Brawijaya.