IDEOLOGI ISLAM TRANSNASIONAL dan ASWAJA

  1. Ideologi Transnasional

Ideologi Transnasional mengacu pada pergerakan ideologi global yang melintasi batas-batas negaradan bangsa. Ideologi tersebut bukan hanya penyebaran faham/dakwah atau kampanye keyakinan beragama, akan tetapi juga gerakan politik untuk memasuki dan mempengaruhi suatu kebijakan politik sebuah negara.

Garis besarnya, Ideologi Transnasional terbagi menjadi dua yaitu Ideologi Kiri(liberalisme) dan Ideologi Kanan(fundametalisme). Dari agama apa pun dan dari mana pun ancaman liberalisme dan fundamentalisme selalu mengintai dengan tajam eksistensi negara dan agama di Indonesia. Karena hakikatnya bangsa Indonesia sudah mempunyai ideologi yakni Pancasila. Maka dari itu dalam rangka menghadapi ancaman dari dua arus besar diatas, masyarakat Indonesia harus selalu mempertegas Pancasila sebagai Ideologi nasional dan Ahlussunah Wal Jamaah yang menganut konsep wasathoniyah(pertengahan) sebagai ideologi agama islam.

Ideologi Kiri(liberalisme)

Update, Liberalisme Barat mengancam agama khususnya Islam dan negara. Gerakan liberalisasi agama dapat ditengarahi dari munculnya islam liberal. Kelompok tersebut memahami islam dengan pendekatan-pendekatan yang bebas, sudah pasti tidak sesuai dengan ahlussunah wal jamaah. Karena dalam kelompok tersebut menempatkan akal diatas segalanya, islam liberal lebih lanjutnya memahami agama islam menggunakan heurmenetika yaitu segala berakar pada pemikiran filsafat dalam menafsirkan syariat agama. Dalam agama islam tidak melarang untuk menggunakan pemikiran filsafat dalam memahami dan mentukan suatu keputusan akan tetapi tidak diperbolehkan keluar dari nash naqly (dalil al-quran) yang berseberangan dengan akal. Maka dalam hal tersebut yang harus diambil adalah nash naqly sebagai suatu kebenaran absolut karena wahyu yang di imani oleh seorang muslim.

Di Indonesia ideologi ini kian mencuat semenjak berdirinya organisasi Jaringan Islam Liberal (JIL) pada 21 Februari 2001 yang rata-rata dideklarasikan para intelektual muda dengan nama-nama yang sudah tidak asing di dengar oleh telinga. Faktor berdirinya JIL ini awalnya sebagai penanding terhadap gerakan islam fundamentalis di Indonesia, akan tetapi dari bertambahnya usia JIL yang semakin matang dalam pengorganisasian, ia malah membuat suasana kegaduhan dengan mengkritik dan mendestruksi syariat. Puncaknya ketika Ulil Abshor yang menulis artikel tertentu di harian kompas 18 November 2002. Slogan dari JIL “Menuju Islam yang ramah, toleran dan membebaskan” cepat tersebar karena jaringan dimiliknya. Resah sudah masyarakat yang melihat dan mendengar JIL dan segala operasinya di Indonesia.

Liberalisasi juga mengancam sistem perekonomian di Indonesia yang berlandaskan ekonomi kerakyatan, bahkan sudah menginjak sosial-budaya. Dengan berbagai bukti yang salah satunya paling jelas dilihat adalah bergesernya tatanan kehidupan masyarakat Indonesia menjadi Individualis. Ideologi liberalisme-kapitalisme dengan AS sebagai komandonya membuat dunia menjadi gundah, resah, gelisah sampai merana, disebabkan berlangsungnya perang, konflik dan agitasi yang tanpa henti. Afganistan, Irak, dan Palestina menjadi korban arogansi ideologi tersebut.

Ideologi Kanan(fundamentalisme)

Sedangkan dilain pihak juga sudah berdiri dengan kokoh kelompok islam fundamentalisme, radikalisme, ekstrimisme. Kelompok ini dengan tegas menyuarakan dengan lantang formalisasi syariat dan terbentuknya khilafah islamiyah. Padahal apabila kita semua mengerti bahwa menerapkan syariat tidak perlu adanya khilafah islamiyah, sebab hal yang paling mendasari adalah bagaimana mengembangkan nilai-nilai islam dalam perilaku berbangsa dan bernegara. Dan hal ini sudah terbukti dalam piagam Madinah yang di setujui sendiri oleh rosulallah yang dimana piagam tersebut berisikan 12 pasal dan tidak ada satu kata pun yang mengharuskan negara islam. Karena pada dasarnya adalah isi dari sebuah negara yang selalu mengembangkan nilai-nilai islam di Indonesia. Menjadi sebuah impian bagi setiap muslim dengan yang namanya negara islam, namun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti Indonesia harus memperhatikan kehendak dari pemeluk agama lain, karena walaupun mayoritas bergama islam namun suatu umat beragama dilarang memaksakan kehendaknya sebab agama tidak boleh memaksa.

Sebagai contoh dari metode kelompok islam radikal yang dikomandoi oleh kapten Osama bin Laden yaitu dengan cara kekerasan delam memerangi Ideologi liberalisme-kapitalisme yang dikapteni AS, seperti pengeboman gereja, tempat-tempat wisata,tempat-tempat maksiat bahkan sampai pada bom bunuh diri. Menurut Yusuf Qordlowi, segala perilaku ekstrem ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya pandangan terhadap hakikat agama yang lemah, cenderung tekstual dalam memahami nash-nash, sibuk mempertentangkan hal-hal sampingan seraya melupakan problem pokok, pemahaman kliru terhadap beberapa pengertian, serta mengikuti yang tersemar dan meninggalkan yang jelas (Islam Ekstrem,Yusuf Qordlowi, 1989 :51-80). Kelompok fundamentalis itulah yang lahir dari perilaku ekstrem sebab ia berpegang teguh pada orisinalitas tradisi dan paradigma tersebut tidak lepas dari pola pikir yang tekstualis, formalis, skriptualis dan final.

Penulis melihat bahwa saat ini banyak bermunculan faham-faham keagamaan yang keras/radikal dan apabila di jabarkan disini dari mulai madzab dan sejarah perkembangannya mungkin akan memakan waktu yang lama. Faham yang radikal tersebut melihat umat yang tidak sefaham dengan tatapan kebencian, di Indonesia hal tersebut dibuktikan dengan peledakan bom-bom yang terjadi mulai bom bali, bom kuningan, dan bom di gereja. Hal tersebut berdampak pada kerugian materi dan psikologi bagi bangsa Indonesia. Selain itu juga pengrusakan tempat-tempat hiburan sampai tempat ibadah, dsb. Kemudian juga ada kelompok yang mengkafir-kafirkan kelompok lain, menyatakan sesat, dsb. Hal inilah yang dikatakan mengancam sendi-sendi berbangsa dan bernegara dan berpotensi memecah NKRI. Munculnya faham dan gerakan radikal tersebut juga dikarenakan menyatakan diri sebagai kelompok yang paling benar dan kelompok yang lain salah. Dengan paradigma seperti ini umat islam akan masuk pada jurang dogmatisme dan fanatisme yang sangat dalam, dan pada akhirnya termanifestasikan dalam sikap yang intoleran dan anti keragaman dari umat islam.

  1. Ideologi pertengahan (tawasuth)

– Ahlussunnah wal jamaah

Menurut KH. Yusuf Hasyim, ideologi transnasional baik barat maupun timur sama berbahayanya. Karena liberalisme dari barat maupun islam ideologi dari timur juga sama merusak tatanankehidupan agama islam di Indonesia dan bentuk negara Indonesia.

Moderatisme merupakan paham yang selalu mencari jalan tengah dari dua paham diatas, tidak condong ke kiri dan tidak cenderung ke kanan. Oleh karena itu salah satu profesor di Jepang (Gus Mus, 2006) memprediksi bahwa paham transnasional moderat indonesia akan menjadi meanstrem ideologi dunia ditengah bertambahnya dan meningkatnya dua ideologi dunia yang sangat menyeramkan. Faham aswaja menganut pola pikir jalan tengah (moderat), antara faham ekstrem’aql (rasional) dan ekstrem’naql (skriptualis). Dalam hal moderat diwujuidkan oleh warga NU yang tidak hanya bertumpu pada al-quran dan hadis, akan tetapi di tambah dengan kemampunan berpikirnya akal dalam mencerna permasalahan yang selalu terjadi di setiap waktu secara empirik. Pandangan dari warga NU tersebut bertumpu pada madzab-madzab yang dianut yakni di bidang landasan teologis Abu Hasan al-As.ary dan Abu Mansur Al-Maturidi, kemudian di fiqih dengan empat madzab yaitu imam Syafi’i, imam Hanafi, imam Hanbali dan imam Maliki, serta di tasawuf mengikuti imam junaid al-baghdadi dan imam al-Ghozali.

Faham tawasuth akan membawa orang pada watak yang fleksibel dan akomodatif termasuk pada budaya lokal. Salah satu doktrin yang relevan ialah muhakamah yaitu tradisi yang berkembang dimasyarakat menjadi landasan dan sumber penetapan hukum, dalam praktisnya mengakui budaya lokal dan memberikan sentuhan sinaran keagamaan jika ada yang bertentangan dengan ajaran agama islam. Dalam satu ritual budaya ada nila dan universalitas ajaran islam yang bersinergi dan terinternalisasi dalam budaya tersebut. Inilah islam ahlusunah wal jamaah yang berkarakter nusantara. Dalam konteks tersebut, muhakkamah menjadi bukti kepedulian islam terhadap pelestarian budaya laluhur dengan strategi islamisasi budaya, bukan penghapusan budaya lokal, dengan memunculkan budaya murni arab yang tidak diterima warga setempat. Salah satu aktor integrasi keislaman ialah Sunan Kali Jaga yang menggunakan wayang dengan perombakan seperlunya, gamelan dsb, yang sekarang menjadi budaya lokal masyarakat indonesia.

Kesimpulanipun, ideologi islam transnasional baik dari barat maupun dari timur yang sama-sama ekstrem, satunya liberal dan satunya fundamental merupakanm sebuah hal yang membahayakan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara terlebih lagi dalam beragama. Maka dengan faham islam Aswaja ideologi tawasuth, islam akan jauh dari kesan gerakan islam garis keras tapi lebih pada wajah gerakan islam moderat, toleran dan inklusif. Dan Pancasila tidak bertentangan dengan hal tersebut karena Aswaja ruh dari Pancasila itu sendiri. NKRI harga mati !

 

Penulis : M. Burhanuddin (mahasiswa sosiologi 2014 yang tiba-tiba ingin nulis ideologi transnasional ☺)

MASYARAKAT MAU ENAKNYA SAJA?

Tulisan oleh Aldzah Fatimah Aditya

Fenomena bentrok antar kedua belah pihak transportasi umum menjadi ramai beberapa hari ini. Walaupun dalam berita online tempo Menteri Perhubungan Iganasius Jonan mengatakan bahwa Ojek Online masih belum dapat dikategorikan sebagai kendaraan umum karena tidak adanya landasan hukum yang kuat. Tetapi hal ini telah terjadi. Ojek online telah berdiri dan bersinggungan dengan pihak angkutan umum lain.

Apabila kita pandang dari bagian satunya yaitu angkutan umum seperti taxi, angkot, bus kota dan lain lain, mereka bekerja dengan sistem setoran. Sistem ini menuntut para supir untuk memenuhi standar setoran perhari sehinggga adanya beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum kita mengkritik bagaimana kinerja mereka. Sebagai masyarakat umum kita harus mengerti sistematika setoran yang diberlakukan oleh kendaraan umum yang tidak berbasis online. Dengan sistem setoran tersebut para supir angkutan umum melakukan segala hal untuk memenuhi tuntutan jumlah uang yang harus dikumpulkan. Hal ini berimbas pada kurangnya kepedulian terhadap konsumen. Sistem setoran bersifat tetap sehingga jumlah yang harus disetorkan tidak memiliki hitungan persenan dari keseluruhan penghasilan.

Melihat dari sisi angkutan umum online, mereka berusaha mengisi kekurangan dari sistem angkutan umum biasa yaitu dengan menarik hati atau minat dan memfokuskan pada kepuasan konsumen. Seperti misalnya kemudahan dalam mendapatkan angkutan, keramahan pengemudi dan juga biaya yang murah. Hal ini tentu saja berhasil membuat masyarakat menarik diri dari angkutan umum biasa ke yang berbasis online. Namun, tidak dapat kita pungkiri bahwa para pengemudi ojek online bukan menjadi pusat dari sistem angkutan online karena mereka menggunakan kendaraan pribadi bukan sistem sewa seperti taxi, angkot atau bus kota, sehingga mereka harus memiliki modal awal yang cukup besar yaitu kendaraan pribadi. Mereka juga di wajibkan untuk membeli bahan bakar, seragam dan helm secara mandiri dengan sistem cicilan dari uang yang dihasilkan. Selain itu, ojek online memang tidak memiliki sistem setoran, namun tarif angkutan diatur oleh perusahaan. Perusahaan angkutan umum online memang memerikan bonus apa bila pekerjanya melebihi batas tertentu.

Dalam melihat ataupun menilai sebuah fenomena kita memiliki kewajiban untuk memahami sistematika kerja kedua belah pihak. Sehingga pada akhir penilaian, kita tidak bersifat memihak. Ketidakberpihakan ini otomatis akan memunculkan solusi dari diri pribadi untuk berusaha memperbaiki situasi.

Apabila dilihat sisi dari masyarakat angkutan online memang jauh lebih besar menguntungkan karena banyaknya tawaran kemudahan yang diterima. Namun, kemudahan yang kita dapatkan itu jangan dijadikan alasan diri kita hanya melihat kesisi yang menguntungkan diri sendiri. Masyarakat wajib mengerti apa yang menguntungkan dan merugikan orang lain sehingga munculnya komunikasi yang baik dan membuahkan hasil yang menguntungkan semua pihak.

sumber :
http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=3489&coid=1&caid=34&gid=5

https://www.google.com/search?ie=UTF-8&source=android-browser&q=ojek+online+di+amerika+ada+tidak

BERITA KRISIS AIR

BERITA KRISIS AIR
(Dikutip dari laman website kbknews.id)

Tahun 2040, Ratusan Juta Anak akan Kekurangan Air Bersih

Oleh Larawana Intan Sari Widuri pada Maret 22, 2017 12:41

JAKARTA – Hampir 600 juta anak-anak, atau satu dari empat di seluruh dunia, akan tinggal di daerah dengan sumber daya air yang terbatas pada tahun 2040.

Laporan tersebut ini dirilis Selasa (21/3/2017) malam oleh Dana Darurat Anak Internasional PBB (UNICEF).

UNICEF memperingatkan ancaman terhadap kehidupan anak-anak karena kurangnya air bersih dan bagaimana perubahan iklim dapat memperburuk masalah dalam rangka Hari Air Sedunia.

“Air adalah unsur. Tanpa itu, tidak ada yang dapat tumbuh. Tapi seluruh dunia, jutaan anak-anak tidak memiliki akses ke air yang aman dan itu membahayakan kehidupan mereka, merusak kesehatan mereka, dan membahayakan masa depan mereka,” kata Direktur UNICEF ​​Executive Anthony Lake.

Laporan ini memperingatkan bahwa pertumbuhan penduduk serta peningkatan konsumsi dan permintaan lebih banyak dibanding ketersediaan air, sedangkan sekarang kriis air sudah terjadi di 36 negara.
Untuk saat ini, 663 juta orang tidak memiliki akses yang memadai untuk sumber air dan lebih dari 800 anak-anak di bawah usia lima tahun meninggal setiap hari akibat diare terkait dengan air yang terkontaminasi dan sanitasi yang tidak memadai dan kebersihan.

“Krisis ini akan tumbuh kecuali kita mengambil tindakan kolektif sekarang,” tegas Lake, seperti dilansir Indian Express.

Sumber : http://www.kbknews.id/2017/03/22/tahun-2040-ratusan-juta-anak-akan-kekurangan-air-bersih/