Resensi Novel ‘Maryam’

Resensi Novel ‘Maryam’

Resensi Novel Maryam (Okky Madasari)

Oleh : Nabilah Prinary

Apa salahnya untuk menjadi berbeda jika tujuan dan makna yang sebenarnya tetaplah berarti sama. Perbedaan bukan lah sebuah penyimpangan dalam kehidupan sosial. Namun pernahkan kamu terusir dari rumahmu sendiri karena kamu dianggap berbeda? Perbedaan yang kamu miliki terkait dengan suku, ras, dan agama. Tapi kenapa hal itu tetap bisa terjadi di negara yang “seharusnya” memiliki toleransi tinggi yang sebagaimana seluruh masyarakatnya sudah mengetahui bahwa negara ini merupakan negara yang di dalamnya hidup masyarakat dari ribuan suku, beberapa agama dan beberapa jenis ras. Tetapi nyatanya, ketidakpahaman mengenai menerima perbedaan belum bisa terealisasikan dengan baik di Bumi Pertiwi.

Okky Madasari mencoba untuk menggambarkan bagaimana bentuk penolakan untuk menerima toleransi di tanah Lombok melalui tokoh utamanya yaitu Maryam. Diceritakan bahwa Maryam adalah sebuah perempuan yang terlahir dari keluarga Ahmadi dan tinggal di sebuah desa kecil bernama Gerupuk. Ahmadi dianggap sebuah kelompok ajaran sesat sehingga warga desa tersebut memilih untuk mengusir kelompok minoritas tersebut tanpa memikirkan aspek kemanusiaan. Selepasnya SMA, Maryam pergi merantau ke Surabaya untuk melanjutkan pendidikan tingginya dan ia dititipkan oleh kedua orangtuanya untuk tinggal bersama sebuah keluarga Ahmadi. Maryam melalui hari-harinya dengan normal sampai akhirnya ia pindah ke ibu kota untuk bekerja sebagai karyawan di salah satu bank dan ia menjalin hubungan dengan seorang pria hingga ke jenjang pernikahan. Maryam melepas status Ahmadinya demi menikahi lelaki tersebut. Orangtuanya di desa tidak mengetahui jika ia telah menikah dan keluar dari Ahmadi. Pernikahannya gagal karena Maryam tak kunjung memiliki anak dan status mantan Ahmadi yang melekat pada dirinya tetap tidak bisa diterima keluarga sang suami.

Maryam kembali ke desa untuk menemui orangtuanya yang telah bertahun-tahun ia tinggalkan tanpa kabar. Kembalinya Maryam ke Gerupuk dihadapi kenyataan bahwa orangtuanya telah dipindahkan ke Gegerung karena telah terjadi kerusuhan untuk mengusir kelompok Ahmadi yang dimana dianggap akan membawa dampak buruk bagi warga sekitarnya karena dinilai akan memancing kemarahan Tuhan. Kelompok Ahmadi tersebut tinggal di pengungsian selama bertahun-tahun hingga dapat beranak-pinak.

Alur cerita yang diberikan Okky Madasari memperlihatkan kita bahwa toleransi masih menjadi sebuah hal yang utopis. Perbedaan bukanlah sebagai pemersatu melainkan menjadi pengkotak-kotakan dan berujung pada konflik berkepanjangan. Dibalik keindahan Indonesia yang dapat membius siapa saja yang memandang terdapat sisi gelap yang tak lagi indah seperti kekejaman masyarakat mayoritas yang selalu mementingkan golongannya sendiri.