Review Film

Review film “The New Rules of the World”

Oleh: Rizky Adha Mahendra

            Hal pertama yang terbesit ketika saya menonton film tersebut hingga tuntas adalah timbulnya asumsi bahwa sistem roda perekonomian dunia kita saat ini telah diatur secara struktural oleh segelintir orang. Dalam artian bahwa hanya para elit-elit global  yang terlibat di dalamnya. Seperti pemerintah, pemilik modal, pasar, dan industri modern. Bahkan sebuah perusahaan multinasional memiliki kekayaan yang melebihi sebuah negara. John Pilger, selaku pembuat film tersebut seolah ingin menyadarkan penonton bahwa dunia yang kita tempati saat ini sedang tidak baik saja. Bahwa kemiskinan yang terjadi di dunia ini tidak semata-mata lahir begitu saja, yang secara teologis dipandang sebagai takdir tuhan. Tapi, kemiskinan tanpa sadar telah dipelihara dan dirawat dengan baik oleh beberapa oknum. Kemudian para oknum tersebut melakukan kebohongan publik. Perihal pembangunan dan kesejahteraan bersama.

            Melalui sistem pembangunan yang dinamakan modernisasi (globalisasi), industri besar yang berada pada negara dunia pertama banyak memasuki negara dunia ketiga. Meskipun dalam perkembangannya, konsep modernisasi terdapat unsur politis di dalamnya. Seperti yang dikemukakan Rostow, seorang ekonom Amerika Serikat. Mengatakan bahwa pada dasarnya dikembangkan dalam konteks perang dingin serta membendung pengaruh sosialisme (Fakih, 2013:55). Dalam konteks film tersebut adalah Indonesia, selaku negara dunia ketiga menurut “konsep modernisasi” yang menjadi salah satu rumah produksi bagi perusahaan-perusahaan besar multinasional. Indonesia menjadi salah satu sasaran empuk untuk rumah produksi tersebut dikarenakan Upah Minimum Regional (UMR) nya yang rendah. Pendapatan per kapita yang rendah dan angka kemiskinan juga menjadi faktor pendorong untuk menarik minat perusahaan multinasional berinvestasi di Indonesia. Angka kemiskinan yang tinggi merupakan sebuah implikasi dari angka pengangguran yang tinggi, maka dari itu dibutuhkan sebuah lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat miskin. Dari realita itulah masuk perusahaan multinasonal ke Indonesia. Dalam film tersebut juga dijelaskan bahwa upah yang diperoleh seorang buruh tidak mencapai upah standar yang telah ditetapkan pemerintah. Bukan hanya upah yang minim, namun jam kerja yang tinggi diluar standar kode etik kerja juga dirasakan oleh para buruh. Mereka harus bekerja selama dua belas jam atau bahkan lebih. Namun, bagi parah buruh tidak ada pilihan lain selain mengikuti regulasi yang telah ditetapkan perusahaan. Hal tersebut dianggap lebih baik daripada menjadi pengangguran dan hidup terus menerus dibawah bendera kemiskinan. Namun nyata nya tidak jauh berbeda ketika mereka harus bekerja seperti budak. Dengan upah rendah yang diberikan kepada para pekerja nya,  maka dengan ini jelas perusahaan tidak pula memperhatikan kesejahteraan para pekerja nya. Hal tersebut dibiarkan terjadi dengan perlindungan pemerintah dalam bentuk Undang-Undang. Kemiskinan dipelihara agar para pekerja bisa bekerja lebih lama lagi untuk memenuhi produksi barang bagi perusahaan tersebut.

            Film tersebut disajikan menggunakan pendekatan konsep Marxis melalui konflik antar kelas nya. Bagaimana terjadi dikotomi dan polarisasi antara kelas pemilik modal dan kelas pekerja. Terlihat bahwa terdapat kesenjangan yang sangat jauh antara para pemilik modal dan pekerja. Di gambarkan dengan jelas bagaimana para pekerja hidup memprihatinkan dengan rumah yang terbuat dari bahan-bahan seadanya yang bisa hancur kapan saja. Sanitasi yang buruk juga terjadi di pemukiman para pekerja sehingga muncul masalah sosial seperti masalah kesehatan yang muncul, salah satunya penyakit demam berdarah yang sempat menjangkit John Pilger tatkala proses pembuatan film tersebut. Upah minim yang diterima para pekerja juga menyebabkan para pekerja makan dengan bahan pangan yang minim akan gizi, kembali hal tersebut menjadikan para pekerja tidak memiliki gizi yang baik. Ditambah dengan selama jam kerja, para pekerja terus berdiri dan berada di dalam ruangan yang dipenuhi lampu dan dengan temperatur mencapai 40 derajat celcius. Modernisasi yang diharapkan mampu menjadi model pembangunan yang merata justru sebaliknya. Melihat realita yang ada justru menimbulkan fenomena dimana yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Sehingga pemerataan ekonomi hanyalah sebuah wacana penuh kepalsuan.

            Kemudian peran media dan pemerintah sebenarnya penting dalam membongkar kebohongan publik yang terjadi. Namun nyatanya media lebih mementingkan profit melalui pasarnya dengan menyajikan pemberitaan-pemberitaan fana tentang dunia yang mulai tumbuh kearah yang lebih baik dan sejahtera. Kenyataannya kata ‘sejahtera dan baik-baik saja’ bukan representasi dari masyarakat secara keseluruhan melainkan hanya segelintir pihak. Terutama pada masa rezim orde baru, dimana media benar-benar diarahkan oleh pemerintah. Media menggiring opini publik bahwa pembangunan berjalan dengan baik. Investasi dengan skala besar tidak akan masuk ke Indonesia seandainya Soeharto berkuasa. Karena pada masa orde baru lah ‘selangkangan’ Indonesia benar-benar terbuka selebar-lebarnya untuk investasi asing masuk. Tentu melalui kudeta yang sudah direncanakan oleh pihak eksternal.

            Saat ini dunia memasuki golden era bagi kapitalisme, dimana tanpa sadar kapitalisme sudah memasuki relung-relung perekonmian dunia dengan menciptakan sistem pasar global. Bahkan dari perekonomian skala kecil semacam UMKM pun sistem ekonomi diterapkan. Seperti jam kerja yang tidak tentu dengan SOP (standar operasional kerja) yang bias antara pemilik dan pekerja. Tanpa banyak propaganda, kapitalisme bisa tumbuh dan berkembang melalui sistem yang telah beroperasi saat ini. Penulis sendiri memiliki solusi bagaimana setidaknya mengurangi penghisapan yang terjadi pada pekerja. Dengan cara mengurangi perilaku konsumtif individu terutama untuk membeli barang-barang dari perusahaan brand ternama, mulai membeli sesuatu berdasarkan kebutuhan bukan keinginan. Kemudian lebih mengoptimalkan produk lokal dengan membeli barang hasil produksi dalam negeri. Sehingga lambat laun akan menciptakan sebuah kemandirian ekonomi bagi pelaku usaha lokal.

DAFTAR PUSTAKA

FAKIH, M. (2013). RUNTUHNYA TEORI PEMBANGUNAN DAN GLOBALISASI. YOGYAKARTA: PUSTAKA PELAJAR DAN INSIST PRESS.

Pilger, J. (Sutradara). (2002). The New Rules of the World [Gambar Hidup].

Resensi Novel

Resensi Novel

Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)

Oleh: Rizky Adha Mahendra

Saya ingin mencoba melihat bagaimana novel Bumi Manusia dipandang melalui sudut pandang sosiologis. Hal pertama yang terlintas dalam benak saya adalah mengenai stratifikasi yang tercipta dalam struktur masyarakat Indonesia—di kisah ini, konteksnya Jawa Timur—pada masa akhir abad ke 19. Tercipta empat jenis kelompok masyarakat berdasarkan tingkat stratifikasi tertinggi, yakni pertama adalah masyarakat Totok (Eropa); masyarakat non-pribumi asing (seperti Arab dan Cina); Indo (campuran antara Pribumi-Belanda). Setiap kelompok tersebut dalam novel Bumi Manusia digambarkan memiliki hak-hak yang berbeda, seperti hak mendapatkan pendidikan; hak bekerja di suatu instansi tertentu; hak politik; dan lain-lain. Serta bagaimana diskriminasi-diskriminasi yang terjadi antar kelompok masyrakat tersebut yang semakin termarjinalkannya salah satu kelompok yang ada diantara empat lapisan kelompok tersebut. Digambarkan dengan sangat gamblang bagaimana ketidakadilan perlakuan yang didapatkan oleh kelas Pribumi. Dalam novel itu seolah mereka digambarkan sebagai keals terendah dalam mendapatkan hak-hak maupun perlakuan lainnya di dalam struktur masyarkat.

Bumi Manusia dalam perspektif saya secara garis besar merupakan sebuah kisah cinta antara pria Pribumi bernama ‘Minke’ dengan wanita Indo yang sangat cantik jelita bernama Annelies. Namun kisah cinta yang diangkat bukan hanya kisah cinta tentang dua muda-mudi yang menganggap seakan dunia hanya milik mereka, tidak, dunia bukan milik mereka, dunia milik manusia dengan segala kompleksitasnya. Didalam kisah cinta mereka berdua terdapat banyak sekali nilai-nilai humanis yang coba diangkat oleh Pram selaku penulis. Menurut saya, nilai humanis pada konteks Bumi Manusia mengarah kepada bagaimana kolonialisme di bumi Hindia Belanda pada akhir abad 19 masih berlaku dan sangat tidak memperlakukan manusia sebagaimana semestinya ia menjadi manusia. Dengan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang, konteks sosial, dan perspektif yang berbeda menjadikan cerita Bumi Manusia menjadi salah satu novel terbaik yang saya pernah baca.

            Dimulai dari bagaimana seorang pria Pribumi bernama Minke, merupakan siswa H.B.S (sekolah SMA Belanda) kerap mendapat diskriminasi karena ia adalah Pribumi yang bersekolah di sekolah Belanda. Bahkan salah satu kawannya sendiri kerap memandang sebelah mata seorang Minke. Keluarga Minke masih memegang teguh nilai-nilai Jawa. Minke tinggal di semacam asrama milik mantan pasukan Belanda yang sempat berperang di Aceh bernama Telinga dan menjadi pekerja di tempat pelitur kayu milik Jean Marais, anak buah dari Telinga ketika dahulu mereka berperang dengan masyarakat Aceh. Minke menganggap sosok Jean Marais merupakan sosok yang bijaksana, terpelajar, dan sekaligus menjadi guru bagi Minke. Dialah sosok dibalik kalimat yang kira-kira berbunyi “Kau terpelajar, kau sudah harus adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”. Hal tersebut terlontar sebab Jean melihat Minke termakan oleh pendapat umum yang menyatakan bahwa seorang Nyai atau gundik merupakan manusia dengan derajat susila yang rendah, kehidupannya adalah kehidupan birahi dengan hanya bekerja melayani nafsu tuannya, dan hal-hal buruk yang menjadi stigma masyarakat kala itu.

            Namun seorang Nyai bernama Nyai Ontosoroh—nama aslinya Sanikem—mampu merubah pandangan Minke tentang seorang Nyai. Nyai Ontosoroh merupakan ibu kandung dari Annelies, seorang gadis yang sangat cantik jelita namun kurang pergaulan karena ia hanya diperkenankan di rumah saja dan mengurusi pabrik yang dikelola oleh Nyai Ontosoroh—dahulu dikelola oleh Herman Mellema, ayah kandung Annelies. Annelies merupakan hasil perkawinan tidak resmi antara Nyai Ontosoroh dan tuan Herman Mellema, seorang totok (Belanda tulen) yang dalam kisah Bumi Manusia menjadi seorang yang sangat depresi karena mendapat ancaman dari anak hasil perkawinan resminya di Belanda bernama Maurits Mellema, seseorang yang saya anggap dalam novel tersebut sangat berjiwa kolonialisme.

            Kemudian saya juga melihat adanya cukup banyak konflik yang terjadi dalam perjalanan cerita Bumi Manusia, mulai dari skala makro hingga yang mikro. Dalam skala makro terlihat jelas bahwa adanya konflik antar kelompok/kelas dalam masyarakat. Namun berbeda dengan konsep Karl Marx yang menitikberatkan konflik kelas karena faktor materi, konflik kelas dalam Bumi Manusia tercipta karena adanya semacam rasa superioritas berlebih dalam diri salah satu kelas dan memandang kelas lain secara inferior—atau masyarakat subordinat. Yang muaranya seperti yang sudah disebutkan pula, terdapat perbedaan hak-hak yang di dapat oleh setiap lapisan masyarkat. Tentunya seorang Totok (Eropa) mendapat hak yang jauh-jauh-jauh—jauh sampai tiga kali karena memang terdapat ketimpangan yang sangat besar—berbeda dari masyarakat pribumi. Kemudian dalam skala mikro terlihat bahwa konflik terjadi dalam ranah keluarga—terjadi pada keluarga Annelies. Dimana para anggota keluarga yang terdapat di dalamnya memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat ‘Minke’.

            Saya memberi rating 9/10 untuk novel ini sebab substansi dari novel ini terasa sangat luar biasa. Selain penuh dengan kata-kata bijaksana, Pram mampu membuat seolah novel fiksi ini seperti sebuah literatur non fiksi. Sebab penggambaran kondisi sosial di masa itu sangat padat dan seperti seolah kita dibawa pada masa akhir abad 19 itu. Lalu novel ini juga bersifat emansipatoris dengan menggambarkan bahwa sebuah kolonialisme telah menjelmakan dirinya menjadi sebuah iblis yang merenggut kemanusiaan dari muka bumi. Tidak luput, gaya penulisannya yang konfrontatif juga menjadi daya tarik sendiri bagi saya untuk mencintai novel ini. Mengenai substanasi dan alur cerita alangkah baiknya pembaca langsung membaca sendiri bagaimana jalan cerita dari novel Bumi Manusia ini. Saya menyarankan, bagi kalian yang menyukai isu tentang perjuangan; pertarungan kelas; dan kemanusiaan untuk membaca novel ini agar disuatu saat pembaca dapat mendiskusikan karya luar biasa ini dengan saya secara bersama. Karena bisa jadi pembaca sekalian memiliki perspektif yang berbeda dengan saya mengenai novel ini.

Cerpen

PERJUANGAN KELUARGA PETANI

Penulis : Moreno Kelana

            Di suatu desa bernama Tegalsari hidup sebuah keluarga petani dengan dengan beranggotakan bapak, ibu, beserta tiga anaknya. Keluarga ini merupakan sebuah keluarga yang menggantungkan kehidupan mereka pada pertanian yang merupakan pekerjan mayoritas di Desa Tegalsari. Sang bapak bernama Idrus menjadi tulang punggung keluarga sebagai petani yang memiliki lahan persawahan seluas kurang dari 1 hektar. Sedangkan Sang ibu bernama Asih hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sesekali membantu bapak dalam mengelolah pertanian selain buruh tani lain yang biasa diperkejakan bapak Idrus. Anak pertama mereka bernama Dewi baru menginjak bangku SMA kelas dua. Kemudian Anak Kedua bernama Rian baru saja memasuki pendidikan Sekolah Menengah Pertama. Terakhir ada Si Bungsu bernama Lisa yang masih balita.

            Kehidupan Keluarga ini begitu harmonis sebagaimana keluarga lainnya di Desa Tegalsari. Di pagi hari sebelum fajar terbit tepatnya pada setiap jam 4 pagi, Pak Idrus membangunkan seluruh penguni rumah dan mengajak mereka beribadah bersama di Masjid yang ada di desa. Pak Idrus melakukan hal ini dengan harapan dapat mengajarkan pada keluarganya agar mendahulukan beribadah kepada tuhan sebelum memulai aktivitas sehari-hari. Bahkan Pak Idrus sendiri sering menjadi imam sholat di masjid.memang Pak Idrus ini terkenal sebagai pribadi yang religius di kalangan warga desa. Sehari-hari Pak Idrus pergi menuju sawahnya setelah mengantarkan anak-anaknya bersekolah. Biasanya Pak Idrus menghabiskan waktu seharian di sawah dan pulang pada sore hari sebelum fajar terbenam. Di malam hari, Pak Idrus selalu mengajari anak-anaknya untuk mengaji kemudian dilanjutkan berkumpul dan bencengkrama dengan keluarga sambil membahas aktivitas masing-masing orang di siang harinya.

            Namun tak ada suami hebat dalam membina rumah tangga tanpa kehadiran istri yang mendukungnya. Bu Asih merupakan sosok yang selama ini membantu dan memelihara sebuah keharmonisan keluarga yang dibentuk oleh Pak Idrus. Bu Asih adalah sesosok istri yang penurut dan setia terhadap suami. Setiap hari Bu Asih memperisapkan segala kebutuhan bagi penghuni rumah mulai dari sarapan hingga segala pekerjaan rumah lainnya. Bahkan Bu Asih selalu menyempatkan waktu mengantar rantang makan siang suami ke sawah. Bu Asih juga sangat penyanyang dan selalu menjadi tembok penghalang kemarahan Pak Idrus ketika anak-anaknya melakukan kesalahan. Walau begitu Bu Asih, tapi ia tak lupa memberikan nasihat kepada anak-anaknya agar tak melakukan kesalahan dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang.

            Tetapi sebahagia apapun keluarga akan terasa hambar bila tak ada anak-anak yang menjadi pelengkap sebuah keluarga. Dewi si anak sulung merupakan gadis yang pintar dan juga memiliki sifat kepemimpinan yang bijak, terutama jika dia dimintai mengurus adik-adiknya. Bisa dibilang sifat kepemimpinan yang bijaknya ini mengikuti sifat ayahnya, Pak Idrus. Hal ini tak terlepas dari statusnya sebagai anak tertua yang diharapkan oleh orang tua mampu membimbing adik-adiknya. Anak kedua yang bernama Rian ialah seorang anak laki-laki dari pasangan Pak Idrus dan Bu Asih. Rian memiliki sifat hiperaktif dan juga nakal. Namun kenalakan Rian ini lebih ke sifat jahil sebagaimana anak laki-laki lainnya. Meski begitu Rian ini juga memiliki sifat kepedulian yang tinggi terhadap keluarganya. Anak ketiga yang juga masih kecil yakni Lisa berifat periang dan supel. Ia mudah kenal dengan orang yang baru ditemuinya.

            Pada mulanya keluarga petani ini hidup bahagia meskipun dari segi ekonomi, keluarga ini tergolong kelas menengah. Hal ini tak terlepas dari faktor kepemilikan lahan sawah Pak Idrus yang tak begitu besar sehingga hasil dari pertanian juga tidak terlalu besar namun cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari ditambah biaya pendidikan anak. Namun kebahagiaan itu seakan sirna ketika ada peritiwa besar negara, yakni tragedi 71. Memang tak hanya keluarga ini saja yang merasakan, bahkan hampir seluruh warga Desa Tegalsari juga merasakan. Tragedi 71 ini memang tak melibatkan warga desa Tegalsari dan termasuk keluarga Pak Idrus secara langsung. Tetapi dampak yang dihasilkan sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

            Dengan adanya peristiwa besar negara, tragedi 71, timbul sebuah isu dimana adanya sebuah partai bernama “Golongan Sekuler Indonesia” (GSI) merupakan dalang dibalik peristiwa pembunuhan terhadap beberapa ulama besar Indonesia. Kemudian tentara dibawah pimpinan Jendral Soeharno melakukan pembumihangusan terhadap partai GSI dan juga simpatisannya. Atas jasa-jasanya dalam membumihanguskan partai GSI, Jendral Soeharno kemudian diangkat menjadi presiden menggantikan presiden sebelumnya yang dianggap memiliki simpati terhadap partai GSI. Alhasil sejak Soeharno menjadi presiden apapun yang berbau GSI dilarang di negara Indonesia ini. Bahkan tentara yang menjadi bawahannya diperintah untuk melakukan pengadilan di tempat bagi siapa saja yang terlibat dalam partai GSI.

            Adanya peristiwa besar negara tersebut, menjadikan isu bernama GSI sebagai senjata utama pemerintahan dalam menegakkan legitimasinya atas warga negara. Akhirnya pada tahun 75 terjadi invasi dari pihak pemerintahan di Desa Tegalsari terhadap sebuah lahan besar bernama “Tanah Persad”. Tanah Persad sendiri merupakan sebuah lahan persawahan yang digunakan warga Desa Tegalsari dalam mencukupi kehidupan sehari-hari sebagai petani. Tanah tersebut direbut secara paksa oleh pemerintahan dengan tujuan untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit demi memenuhi kebutuhan ekspor negara. Adanya kebijakan ini membuat banyak Warga Tegalsari menjadi kehilangan mata pencahariannya termasuk juga keluarga Pak Idrus. Apalagi ada isu yang mengtakan bahwasaanya siapa saja yang melakukan perlawanan atau pemberontakan terhadap pemerintah akan di cap sebagai GSI.

            Kemudian Tanah Persad ini dikelola PTPK yang merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah. Bahkan PTPK ini oleh pemerintah dilengkapi pasukan keamanan khusus yang berasal dari tentara. Adanya tentara disini digunakan untuk melindungi Tanah Persad dari perlawanan dan pemberontakan warga Desa Tegalsari untuk merebut kembali lahan mereka. Alhasil ketika ada pemberontakan dalam bentuk demo dan protes, tentara dapat menindak warga dengan memberi cap GSI dan diperbolehkan dibumihanguskan. PTPK ini sebenarnya juga menawarkan memperkejakan Warga Tegalsari di perkebunan kelapa sawit mereka. Tetapi Pak Idrus dan para tetua desa lainnya menolak dengan alasan tidak mau harga diri mereka diinjak-injak.

            Dikarenakan warga kehilangan mata pencaharian mereka, lambat laun mereka semakin terjerat dalam kemiskinan. Bahkan beberapa keluarga petani seperti keluarga Pak Idrus harus merelakan anaknya putus sekolah karena tidak ada biaya untuk membayar keperluan sekolah. Berbagai usaha juga telah dilakukan oleh Pak Idrus dan warga lain agar mereka bisa menyambung hidup. Pemanfaatan lahan sekitar rumah untuk ditanam bahan pokok sehari-hari tidak bisa menutupi kebutuhan keluarga. Keadaan ini membuat Pak Idrus dan Keluarganya harus benar-benar berhemat dlam pengeluaran sehari-hari. Bahkan Keluarga Pak Idrus ini sering makan sehari hanya sekali makan demi mengurangi biaya pengeluaran.

            Kemudian Pak idrus dan juga warga akhirnya beralih mata pencaharian menjadi pemburu hewan-hewan liar, lalu menjual bagian tubuh hewan buruan sebagai cinderamata atau bahan kerajinan. Mereka berburu hewan seperti babi hutan, ular, dan hewan-hewan lain yang sekiranya anggota tubuhnya memiliki nilai jual. Ternyata salah satu hewan buruannya, yakni babi hutan membawa berkah karena bertindak sebagai hama dari perkebunan kelapa sawit. Kemudian warga menawarkan jasa kepada PTPK sebagai pembasmi babi hutan di perkebunan kelapa sawit. PTPK pun memberikan akses bagi warga untuk masuk perkebunan kelapa sawit untuk berburu. Akan tetapi hal ini tak mengubah banyak kondisi perekonomian warga Tegalsari.

Dengan keadaan yang semakin sulit akhirnya Pak Idrus akhirnya mengambil inisiatif untuk melawan PTPK bersama warga yang dilakukan secara diam-diam dengan tujuan mengambil alih lahan. Mereka menggunakan cara dengan membiarkan populasi babi hutan yang kemudian digunakan sebagai perusak pohon sawit. Selain itu mereka juga mencoba mencuri buah sawit dan mereka jual secara pribadi. Perlawanan yang dilakukan Pak Idrus dan Warga Tegalsari ini akhirnya tercium oleh Tentara yang menjadi petugas kamanan PTPK. Selang beberapa hari kemudian beberapa Tentara mendatangi kediaman Pak Idrus serta warga Tegalsari lain yang berjuang bersama Pak Idrus. Para tentara diperintahkan menangkap para Warga Tegalsari termasuk Pak Idrus dengan tuduhan mencuri dan berusaha membangkitkan partai GSI kembali.

Akan tetapi sebelum Pak Idrus digiring paksa oleh tentara, ia berpesan pada istrinya, Bu Asih agar segera meninggalkan Desa Tegalsari bersama anak-anak demi keselamatan mereka. Pak Idrus berpesan kepada Bu Asih untuk menuju desa Sumberwilangun dan menemui kakaknya yang bernama Adi. Bu Asih disuruh menceritakan semua yang telah terjadi di Desa Tegalsari kepada Adi oleh Pak Idrus. Pak Idrus menitipkan secarik kertas yang hanya boleh dibuka oleh Pak Adi. Di dalam secarik kertas itu berisikan pesan untuk Adi agar menjaga Bu Asih, Dewi, Rian, dan juga Lisa. Kemudian sejak penangkapan Pak Idrus oleh tentara suruhan PTPK, sejak itu pula tak ada yang mengetahui keberadaan Pak Idrus dan juga warga Tegalsari lain yang entah dipenjara atau diapakan oleh tentara.

Bu Asih yang begitu penurut terhadap Pak Idrus menceritakan semuanya terhadap Pak Adi ketika sampai di Desa Sumberwilangun.Bu Asih menceritakan secara detail sambil sesekali terisak-isak menitihkan air mata yang tak sanggup lagi ia bendung. Tangisan Bu Asih pun diikuti oleh semua anaknya. Bahkan Rian sebagai satu-satunya anak laki-laki mengeluarkan suara tangisan paling keras dibanding kedua saudarinya. Akhirnya Pak Adi mengabulkan permohonan dari adiknya, Pak Idrus, dengan meminjami rumah lamanya kepada Bu Asih sekeluarga untuk tempat tinggal serta memberi pekerjaan Bu Asih sebagai buruh tani di sawah milik Pak Adi. Diketahui bahwa Pak Adi, kakak dari Pak Idrus memiliki sawah seluas hampir 3 hektare.

Dimulailah kehidupan baru Keluarga Pak Idrus meski berat hati mencoba melepaskan dari bayang-bayang Pak Idrus. Sekarang Bu Asih yang bertindak sebagai kepala rumah tangga sekaligus ibu rumah tangga dan bekerja sebagai buruh tani. Kemudian si anak sulung, Dewi akhirnya bekerja menjadi burhu di pabrik rokok dengan bantuan koneksi dari Pak Adi. Rian melanjutkan sekolahnya dengan bantuan beasiswa dari pemerintah provinsi. Sedangkan Lisa sudah mau memasuki  bangku sekolah dasar. Kehidupan keluarga Pak Idrus mulai membaik meskipun masih belum bisa melupakan trauma atas peristiwa yang menimpa Kepala Keluarga mereka.

Tahun ke tahun berlalu, pemerintahan pun sudah berganti. Namun perubahan aktor politik tidak membawa kesejahteraan bagi keluarga petani. Krisis moneter dunia ikut merembet ke Indonesia. Harga-harga bahan pokok makin melambung tinggi. Banyak terjadi PHK di berbagai perusahaan demi menutupi biaya pengeluaran agar neraca keuangan tetap stabil. Pembangunan infrastruktur yang menggusur rumah warga yang dilalui oleh jalan tol. Diperparah dengan kebijakan impor beras saat petani sedang masuk masa panen raya. Sejumlah hal ini akhirnya berdampak pada keluarga petani seperti Keluarga Pak Idrus ini.

Kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah membuat usah pertanian Pak Adi kolaps. Beras hasil panen kurang laku di pasaran dan kalah bersaing dengan beras impor. Apalagi lahan pertanian Pak Adi terkena pembangunan jalan tol seluas hampir 1 hektare. Memang Pak Adi mendapat uang ganti rugi dari pemerintah, namun karena Pak Adi memang orang yang besar dari pertanian dan hanya mengetahui cara bertani maka uang ganti rugi ini dibelikan tanah kembali. Namun yang menjadi masalah adalah orang-orang tahu bahwasannya Pak Adi ini baru mendapat ganti rugi, sehingga mereka menaikkan harga tanah setinggi langit melebihi uang ganti rugi. Melihat kondisi ini, Pak Adi tak jadi membeli tanah dan justru menyimpan uang ganti rugi.

Dengan berkurangnya lahan pertanian Pak Adi, juga memengaruhi pendapatan Bu Asih sebagai buruh tani. Apalagi Dewi, si anak sulung baru saja kehilangan pekerjaannya akibat bersih-bersih perusahaan dia bekerja. Tak lama setelah diberhentikan akibat krisis moneter, Dewi mengikuti jejak ibunya menjadi Buruh Tani di lahan milik Pak Adi. Rian yang baru lulus sekolah melanjutkan pendidikan di universitas negeri dengan beasiswa bidikmisi. Rian yang mengerti kondisi keluarganya memilih kuliah sambil bekerja demi membiayai hidupnya di perantauan selama kuliah. Ternyata Rian dikit-demi sedikit mengumpulkan uang yang kemudian ia belikan kamera untuk menyalurkan hobinya.

Terkadang ekspetasi tak sesuai dengan ralita. Hal itulah yang terjadi di keluarga Pak Idrus ini. Alih-alih perjuangan kerasnya membuahkan hasil dengan kehidupan yang layak, tetapi nasib berkata lain. Setelah ujian kehidupan menimpa berkali-kali, kali ini datang lagi ujian yang lebih berat. Anak Bungsu dari Bu Asih yang bernama Lisa, mendadak mengalami gagal ginjal. Hal ini membuat satu keluarga syok berat apalagi biaya operasi ginjal yang tidak murah. Dengan penyakitnya ini, Lisa sering mengalami drop yang mengharuskannya dirawat inap di UGD.

Keadaan Lisa yang mengalami gagal ginjal ini membuat Ibu dan Kakaknya sulungnya bekerja lebih giat dalam mencari uang. Tapi meski bekerja lebih giat dengan mencari lahan persawahann lain yang butuh untuk digarap, uang yang di hasilkan masih sangat kecil karena memang upah dari buruh tani tidak seberapa. Pekerjaan sebagai buruh cuci pakaian keliling juga coba dilakukan Bu Asih dan Dewi. Tak hanya disitu, mereka bahkan rela mencari hutang ke tetangga-tetangga demi membiayai operasi ginjal yang mahal. Kakak laki-laki Lisa, Rian tak tinggal diam. Dia menambah porsi kerja sambilan yang ia lakukan hingga sering kali tidak mengikuti perkuliahan. Bahkan dia menggunkan kameranya untuk digunakan sebagai mata pencaharian sebagai fotografer lepas untuk ikut membiayai operasi si bungsu.

Lisa yang dikenal dengan sifatnya yang periang dan supel, mendadak menjadi penutup dan mudah putus asa. Dia merasa menjadi beban bagi keluarganya. Bahkan sempat terbesit dipikirannya daripada merepotkan keluarganya, lebih baik dia mati saja. Sebuah pemikiran yang sempat ia lontarkan kepada kakaknya Rian dan Dewi. Hal ini mengejutkan kakak-kakaknya karena keluar dari mulut adiknya sendiri yang masih di bangku Sekolah Dasar. Di situ sang kakak sulung, Dewi mencoba menguatkan adiknya tersebut dan kembali lagi Rian tiba-tiba meneteskan air mata mendengar ucapan putus asa adiknya.

Akhirnya Si Bungsu, Lisa dapat melakukan operasi pengangkatan ginjal yang membuat ia hanya memiliki hanya satu ginjal. Walau kakak-kakak dan ibunya menawarkan ginjalnya sebagai pengganti, tapi Lisa menolaknya. Ia paham, jika ia menerimanya maka butuh biaya lebih besar lagi untuk operasinya. Setelah operasi tersebut, keluarga petani melanjutkan hidup dengan penuh perjuangan hanya demi memiliki kehidupan yang lebih baik. Hidup bagi mereka hanyalah sebuah perjalanan yang begitu berat dan begitu menuntut mereka untuk terus berjuang.

Resensi Film ‘Smallfoot’

Resensi Film SmallFoot (2018)

Oleh : Vania Kartika

Sutradara : Karey Kirkpatrick, Jason Reisig
Aktor/Aktris : Channing Tatum, Zendaya, Gina Rodriguez
Genre : Fiksi, Animasi, Petualangan, Komedi
Film ini mengangkat genre fiksi dimana tokoh utamanya merupakan seorang makhluk yang menempati gunung es bersalju diatas awan yang disebut Yeti. Film ini berkebalikan dengan film Big Foot dimana sudut pandang pada film ini bukan pada manusia yang melihat makhluk besar yang menempati gunung es bersalju namun sebaliknya, makhluk yang bertempat tinggal di gunung bersalju itulah yang sudut pandang film ini diambil. Film berdurasi 96 menit ini dikemas dengan sajian animasinya yang menarik sehingga dapat dinikmati oleh berbagai usia.
Film diawali dengan narasi yang disampaikan oleh Migo -anak Yeti yang bertugas memukul gong untuk membangunkan warga setiap harinya- bahwa semua yang ada di gunung tersebut tertulis jelas di sebuah batu-batu yang dijaga oleh seorang kepala suku yang disebut Stonekeeper. Salah satu hal yang tertulis di batu tersebut adalah bahwa kehidupan mereka berada di sebuah gunung es bersalju yang terdapat awan di sekitarnya yang di bawahnya ditopang oleh seekor Mamoth dan pada Yeti ini wajib memberi makan Mamoth agar mereka tidak kelelahan menopang gunung es tersebut. Cerita dimulai ketika Migo melakukan latihan untuk memukul gong menggantikan ayahnya, fokusnya hilang karena melihat Yeti perempuan bernama Meechee sehingga ia terlempar jauh ke ujung gunung hingga mendekati awan-awan yang mengelilingi gunung, tiba-tiba ada sebuah pesawat mendekat ke arahnya dan terjatuh tepat di depannya. Migo pun penasaran dengan apa yang ada di dalam pesawat tersebut yang ternyata adalah seorang manusia. Migo yang kaget dengan spontan mengangkat kaki manusia tersebut karena menurutnya itu adalah sesuatu yang lucu. Namun, ia menyadari sesuatu bahwa Smallfoot yang dijelaskan di batu benar-benar ada. Hal ini memicu kemarahan sang Stonekeeper karena Migo dianggap meragukan batu-batu yang dianggap benar dan tidak boleh diragukan. Jika dikaitkan dengan keadaan di sekeliling kita, kondisi ini sama persis seperti adanya sebuah agama yang memiliki ayat atau dogma atau hukum tertentu yang tidak bisa diragukan kebenarannya dan jika ada yang menentangnya maka tentu akan ada sanksi sosial yang berlaku kepada orang tersebut yang dalam konteks film ini digambarkan dengan pengusiran.
Selanjutnya, saat Migo diusir, ia berjalan sendirian menjauhi perkampungan Yeti dan ia malah bertemu dengan sekelompok Yeti yang juga tidak mempercayai legenda yang selama ini diceritakan oleh Stonekeeper bahwa Smallfoot tidak ada dan hanya mitos belaka. Kelompok ini percaya bahwa ada kehidupan lain di bawah awan sehingga mereka mulai mencari bukti-bukti untuk meyakinkan hal tersebut. Migo pun tertarik dan bergabung mencari bukti bersama-sama hingga pada suatu hari, ia mencoba turun ke bawah awan untuk membuktikan bahwa memang benar ada kehidupan lain di bawah sana. Betapa terkejutnya Migo saat mengetahui dan melihat langsung bahwa kehidupan di bawah awan memang benar-benar ada. Migo pun menelusuri rumah-rumah warga yang berakhir dengan penangkapan Migo oleh warga setempat karena postur tubuhnya yang tinggi besar dianggap meresahkan dan mengancam keselamatan warga. Migo yang ketakutan dan bingung akhirnya berusaha kabur untuk kembali ke tempat asalnya. Saat sedang melarikan diri, Migo bertemu dengan Stonekeeper yang sudah mengetahui aksinya untuk terjun ke bawah awan. Tentu saja Migo kaget dan heran, sebab Stonekeeper sudah pasti mengetahui bahwa kehidupan di bawah awan benar-benar ada, namun hal ini bertentangan dengan penjelasan batu yang selama ini dia agung-agungkan.
Setelah kejadian tersebut, Migo hanya bisa diam di tempat asalnya karena ia masih merasa ketakutan akan perilaku manusia saat ingin menangkapnya dan juga kemarahan Stonekeeper serta warga perkampungan lainnya yang mengharuskan Migo untuk diam. Namun, Migo tetap memikirkan mengapa ini bisa terjadi dan bagaimana solusinya. Hingga pada suatu hari Stonekeeper mengakui bahwa ia berbohong akan penjelasan batu-batu karena mereka memiliki pengalaman masa lalu yang buruk dengan manusia. Menurutnya, manusia hanya bisa merusak dan manusia itu jahat yang akhirnya membuat mereka untuk mengasingkan diri di sebuah gunung es bersalju yang tidak dapat dicapai manusia. Akhirnya Migo dengan kelompok Yeti yang telah bekerjasama sebelumnya mencoba untuk memberikan solusi agar manusia dan para Yeti tersebut bisa hidup berdampingan. Menurut Migo, masasalahnya terletak pada komunikasi antara manusia dan Yeti yang sangat buruk dan tidak saling mengerti satu sama lain sehingga terciptalah kebencian satu sama lain bahkan hingga harus hidup secara terpisah. Di akhir cerita, para Yeti dan manusia akhirnya berusaha berdamai dengan memperkenalkan lingkungan masing-masing satu sama lain dan terjadilah kerukunan diantara keduanya.
Pesan yang diangkat oleh film ini sebenarnya sangat sederhana dan mendasar yaitu bahwa kita sebagai makhluk hidup harus memiliki rasa toleransi akan perbedaan yang ada di sekitar kita dengan belajar untuk saling memahami satu sama lain. Menurut saya, film ini sangat unik karena pesan moral yang sangat dalam bisa disajikan dengan menarik melalui animasi-animasi serta tokoh Yeti yang lucu.

Opini

Berpikir “Nakal” Tentang FISIP yang tidak enak di pandang

Oleh: Adyasthareynara

            Sebagai penghuni negara dunia ketiga (berpikir untuk tidak munafik) sepatutnya kita mencurigai pembangunan yang ada di sekeliling kita yang tujuannya tidak terlalu penting tapi terlihat gamblang untuk ditelusuri. Berperan menjadi mahasiswa tingkat lanjut membuat saya berkeinginan untuk segera pergi dari FISIP Universitas Brawijaya sini karena hunian yang sempit dan tidak enak dipandang. Dalam konteks ini, pembangunan hunian alias kampus bukan jadi tanggung jawab kita. Namun, semestinya kita mengetahui alasan dibalik adanya pembangunan infrastruktur. Permasalahannya adalah pembangunan memerlukan ruang yang seharusnya perlu ditata rapih agar tidak mengganggu kenyamanan hunian. Terlebih lagi, pembangunan ini mempersempit ruang publik yang memang sudah sempit dari awal. FISIP memang suka memaksakan pembangunan di lahan yang sudah semestinya sempit. Mungkin, ini adalah usaha pencarian keuntungan kapitalis dari banyaknya penerimaan mahasiswa dari tahun ke tahun yang berdampak pada ruang publik yang semakin sempit. Persoalan ini tak perlu dibahas ruwet  dan hanya memerlukan rasa curiga. Jadi mari kita sedikit berpikir “Nakal” untuk curiga terhadap pembangunan hunian kita.

Awal saya menduduki hunian ini FISIP UB tepatnya pada tahun 2016 pernah terjadi gerakan sosial “Noice Polution” yang dimana saat itu saya mengikuti sosialisasinya. Usut punya usut ternyata menurut para aktor gerakan sosial ini, pembangunan gedung C sangat tidak kondusif! Berisik dan menangganggu aktivitas belajar mengajar. Bayangkan saja Anda sedang berada di kelas lalu mendengar suara macam perang menggunakan pedang. Suara besi berbenturan dan memantul terdengar sampai ke telinga Anda. Selain itu, saat di kelas Anda dapat berjumpa dengan panorama crane yang sedang membawa tong semen menuju lantai paling atas gedung C. Bisa jadi itu mengalihkan perhatian Anda manakala dosen begitu membosankan menjelaskan materi yang di sampaikan. Di negara dunia ketiga, masyarakat memang selalu tertarik dengan adanya pembangunan yang jadi solusi segala macam persoalan. Jadi bukan salah saya lebih suka memperhatikan crane dibanding dosen! Lebih baik mengurangi jumlah mahasiswa dibanding membangun gedung yang harus memakan tempat.

Gerakan sosial Noice Polution tidak mematahkan jahilnya Tuan Rumah untuk terus melakukan pembangunan kapitalisme. Awal ajaran 2019, saya dikagetkan dengan pembangunan “Tembok Ratapan” di gazebo bawah ruang LSO dan LKM FISIP UB. Bagaimana tidak? Itu menghalangi pemandangan saya untuk mengamati siapa teman-teman saya yang nongkrong di gazebo itu! niat saya untuk merokok dan nongkrong sebelum kelas jadi terhalangi karena tembok ratapan yang tidak berfungsi. Beberapa hari kemudian, tembok ratapan ini diperparah dengan proses pemasangan pagar. Muke Gile! Ini hunian mau bikin garasi apa gimana sih? Masa iya ruang publik dikasih pagar begitu? Awas aja sampe dikasih asbes plastik dan digembok pake ada isu jam malam. FISIP UB udah kaya kos putri muslimah watugong aja! Anehnya, kalo diperhatikan para oknum pembangunan ini selalu melakukan prosesnya saat tahun ajaran sedang berlangsung. Mungkin mereka juga butuh libur jadi mager buat ngerjain sesuatu hehe maunya duit doang.

Ada lagi nih penambahan kios-kios jajanan di kantin yang pembangunannya dilakukan ketika orang sedang makan! Woy pak, itu ada kaca dibawah meja makan bikin orang celaka. Debunya juga bisa bikin makanan terkontaminasi. Situ mau ganggu orang makan? Ga takut di revolusi sama orang-orang yang kelaperan? Kantin semakin sempit aja bentuknya, jangan sampe deh orang makan mesti berdiri. Isu-isunya juga biaya penyewaan kios naik dari tujuh juta ke sembilan juta ya? Bener gat tuh? Jangan mau pak, bu, kantinnya sempit yang jual juga makin banyak! Deuh bukannya semakin banyak harganya semakin murah ya?

Sejujurnya, saya sebagai mahasiswa mengatakan pembangunan tembok ratapan beserta pagarnya, penambahan kios jajanan dan isu jam malam FISIP UB benar-benar tidak penting! Eet tunggu dulu, itukan menurut saya tapi menurut Tuan Rumah bisa jadi penting buat korupsi. Ya gak? Sekarang mari kita telaah simbol-simbol korupsi yang ada di FISIP UB. Mari kita telusuri ruang kelas tempat kita bertemu dosen-dosen kesayangan kita. Coba bayangkan di kelas ada dua teknologi pengantar angin dengan masing-masing jumlahnya dua biji. Dua kipas dan dua Air Conditioner. Astaga buat apa gitu fungsinya ditaro dua gitu? Mana kadang nyala kadang engga! Ini mau bikin mahasiswa masuk angin apa gimana? Kalo AC yaa AC aja gitu lebih dingin dan semriwing dibanding kipas. Ya suka-sukalah apa aja asal jangan dua gitu, ngabis-ngabisin duit eh taunya masuk kantong. Sama halnya dengan jendela di kelas. Dipakuin dong bos! Terus apa fungsinya jendela gitu kalo kaga di buka? Malahan panas sinar matahari yang masuk ga bisa keluar lagi karena terpantul. Ohiya paham, mungkin logikanya sengaja nih jendelanya dipakuin agar sinar matahari ga bisa keluar terus ditarolah itu empat pengantar angin biar adem! Masuk sih masuk.

Menurut saya ini simbol yang aneh karena pada akhirnya benda-benda yang dibeli itu jadi tidak berfungsi. Buat apa ada kipas kalo AC lebih sering dipake karena suara kipas terlalu berisik? Berdasarkan buku sosiologi korupsi Syeid Hussein Alatas ada tujuh tipologi korupsi, tapi dalam konteks ini kita pake dua aja yang cocok untuk kasus ini:

Kasus pembangunan tembok ratapan, kantin dan benda-benda yang ada di kelas itu. Ini merupakan tipologi korupsi autigenik yang maksudnya ada kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari pengetahuan dan pemahaman atas sesuatu yang hanya diketahui sendiri. Misal nih: pembangunan tembok ratapan beserta pagarnya dan isu jam malam merupakan pengetahuan dan pemahaman Tuan Rumah karena anak-anak FISIP sering mabok rapat hingga larut malam. “biar kaga pada mabok rapat sampe pagi mending ane bangun pager aja biar pada ga bisa masuk terus kasih kawatdah biar yang bisa masuk luka-luka”. Makanya kalo Tuan Rumah kaga transparan, wajar dong kita curiga? Katanya Alatas loh itu, bukan saya 😢

Satu lagi! Katanya bener nih ada isu bagi-bagi hadiah setiap bulan bagi dua LSO dan LKM terbaik senilai 1 juta rupiaaah!! Dibagi dua jadi lima ratus ribu-lima ratus ribu. Sedikit rugi tapi yaudahlah yaa. Ini adalah situasi memicu semangat berorganisasi dan patungan mabok berprestasi. Kalo isu ini ternyata praktiknya itu benar, isu ini masuk ke tipologi korupsi suportif yang maksudnya memicu penciptaan suasana kondusif untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan mempertahankan keberadaan tindak korupsi. “Biar orang-orang kaga curiga ane korupsi mendingan ane sedekahin aja tuh duit. Siapa tau bisa dapet pahala memperbaiki nama baik biar orang-orang kaga curiga sama pembangunan”. Anehnya, isu bagi-bagi duit ini baru muncul ketika pembangunan tembok ratapan dan kantin berjalan. Coba kalo dilakuin dari dulu, saya ga bakalan curiga nih sama yang beginian.

Jadi pada intinya saya ingin mengatakan dengan a’rif dan bijaksana, “curigalah terhadap apa yang tidak enak di pandang karena sejatinya itu adalah rekayasa”. Kelebihan dari penghuni negara dunia ketiga adalah rasa curiga. Jadi curigalah selagi masih ada di FISIP kampus.