Opini

IMPLEMENTASI FALSAFAH BHINEKA TUNGGAL IKA DALAM MENGUSUT AKAR INTOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DI INDONESIA
Oleh: Aulia Izzah A
Toleransi antar umat beragama menjadi topik yang hangat dibicarakan dewasa ini. Ada yang dengan jelas mengoyak toleransi dengan idealismenya, dan ada juga yang berusaha merajut keharmonisan dalam toleransi. Toleransi menjadi tantangan tersendiri bagi umat manusia dalam aspek terkecil hingga yang paling berpengaruh besar. Salah satunya adalah topik mengenai agama. Agama merupakan aspek fundamental dalam kehidupan manusia. Dari catatan sejarah pun, dapat dilihat bahwa agama adalah ‘identitas’ yang kerap menjadi sumber disintegrasi yang menuai konflik horizontal. Padahal agama manapun mengajarkan cinta kasih antar manusia sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Menurut Henri Tafjel, pencetus pertama teori identitas menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan alamiah untuk membagi dunia sosial mereka menjadi dua, yakni kelompok sendiri (in group) dan kelompok mereka (out group). Kelompok kita (in group) adalah kawan yang harus saling bahu-membahu dalam menghadapi suatu masalah, sedangkan kelompok mereka (out group) dipersepsikan sebagai musuh (Sear, dkk 1994). Lebih jauh lagi, ketika seseorang telah memiliki keterikatan yang kuat terhadap kelompok yang identik dengannya, maka secara psikologis, ia akan sangat terikat dan pada akhirnya akan melahirkan solidaritas dan komitmen terhadap kelompok tersebut. Keterikatan seperti ini dapat menimbulkan dampak negatif yang disebut dengan sikap primordialisme. Primordialisme merupakan suatu loyalitas berlebihan yang lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri dibandingkan kepentingan kelompok lain.Sikap primordial inilah yang membuat intoleransi semakin berkembang dalam masyarakat.
Agama tentu saja memberikan arti subyektif berupa identitas dan potensi solidaritas yang kuat dalam diri individu. Namun, titik tolak permasalahan saat ini adalah apakah dengan melekatnya identitas pada diri individu dapat menjamin terawatnya kebhinekaan di Indonesia? Beberapa konflik yang berkaitan dengan sentiment keagamaan seperti kasus Ibu Meiliana yang mengeluhkan suara adzan yang terlalu keras dan berakhir divonis 18 bulan penjara membuktikan bahwa relativisme budaya dalam beragama masih belum terbangun dalam masyarakat Indonesia.
Salah satu penyebabnya adalah masih rancunya pemahaman antara keimanan dan agama. Keimanan bersifat kasat mata, konseptual, dan merupakan pondasi keyakinan seorang manusia. Keimanan adalah kemampuan manusia untuk menerima segala sesuatu dengan mata batinnya dengan sepenuh hatinya, dimana hal tersebut bersifat surgawi. Sedangkan agama adalah implementasi dari keimanan seorang manusia yang diikuti oleh nilai dan norma tertentu yang harus diikuti oleh pemeluknya. Secara tidak langsung, agama menjadi identitas bagi seorang manusia sesuai keimanannya sehingga agama hanya menjadi pengantar seorang manusia untuk menghayati keimanannya. Namun, kebanyakan manusia menjalani kehidupan agamanya hanya berkutat pada ‘agama’ itu sendiri sehingga belum memenuhi esensi keimanan yang diharapkan.
Mayoritas masyarakat Indonesia mengkultuskan pemuka-pemuka agama tertentu yang dipercaya memberikan ajaran paling benar dalam menjalankan agama sehingga pemuka agama di Indonesia memiliki relasi kuasa yang kuat di tengah masyarakat. Pemuka agama di ranah lokal sekalipun memiliki daya persuasif yang kuat dalam mempengaruhi massa. Namun, hal tersebut kini telah disalahgunakan untuk kepentingan politik bagi beberapa pihak di era populisme saat ini. Penyampaian dakwah yang berbau primordialisme semakin mengentalkan dikotomi identitas yang berbeda antar umat beragama. Hal inilah yang memicu intoleransi dan memupuk fanatisme di benak manusia. Jadi tidak perlu heran apabila konflik sekecil apapun dapat menyulut tendensi dalam masyarakat kita.
Berkaca dari kasus-kasus diatas diperlukan sebuah pengimplementasian yang nyata dari falsafah negara kita yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Pengimplementasian yang dimaksud bukan dengan cara meleburkan perbedaan menjadi suatu kesatuan yang tergenalisir, melainkan dengan cara membentuk suatu identitas baru, yang di mana identitas baru ini terdiri lebih dari satu identitas kultural. Pembentukan identitas ganda ini akan menginzinkan setiap orang dapat mempertahankan identitas aslinya dengan penambahan satu identitas universal dari suatu masyarakat. Identitas universal menempatkan dirinya menjadi identitas yang paling tinggi karena dianggap mampu sebagai landasan penerimaan dan toleransi terhadap identitas asli setiap masyarakat yang berbeda. Untuk mengimplementasikan solusi tersebut, perlu adanya peningkatan efektivitas dialog interaktif antar umat beragama dalam membangun relasi antar aktor agama dengan cara membentuk forum diskusi antar pemuka agama dalam rangka menyamakan perspektif dan meluruskan urjensi keagamaan dalam masyarakat saat ini. Unrtuk menyentuh masyarakat, pemuka agama harus mampu menjadi instrumen dengan menyampaikan dakwah yang berbau nasionalisme untuk meminimalisir sentimen publik serta merawat pluralisme dalam masyarakat.

Resensi Novel “Hujan”

Oleh: Adine

Judul Buku : Hujan
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : Januari 2016
Jumlah Halaman : 320 halaman

Sinopsis
Bermula dengan adanya bencana yang terjadi, berdampak pada seluruh dunia dan memengaruhi sistem kinerja alam. Lail, salah satu anak perempuan yang selamat karena beruntung ada remaja laki-laki bernama Esok, yang meraih ranselnya ketika Lail hampir jatuh kedalam lubang setinggi empat puluh meter. Kedekatan mereka berlanjut karena mereka berada dalam tenda pengungsian yang sama. Sampai akhirnya, Esok diangkat menjadi anak asuh orang penting di negaranya dan Lail menjadi relawan yang sangat berjasa.
Tanpa diketahui, mereka dihadapkan pada situasi krisis yang akan memengaruhi keberlangsungan hidup manusia. Lail, Esok, dan penduduk bumi lain yang berada dibawah pilihan hanya dapat menerima kenyataan bahwa bumi semakin lama semakin tak tertahankan akibat campur tangan manusia.

Kelebihan
Buku ini tidak hanya menceritakan detil kisah romansa antara Lail dan Esok, tapi juga memaparkan gambaran teknologi canggih masa depan yang sangat menarik. Penulis juga menggambarkan bencana alam yang terjadi dalam buku dengan sangat baik karena menggunakan perumpamaan pada tragedi yang pernah ada sebelumnya.
Kekurangan
Meskipun informasi yang diberikan dalam buku sangat baik dan detail, namun plot yang diceritakan masih mudah ditebak. Selain itu, penulis tidak menggambarkan character development secara detail sehingga pada pertengahan cerita masih terasa sedikit membosankan.

Puisi

Apalah Arti Rasa

Oleh: Anonimousfm

Hai kakakku teristimewa
Ingin sekali aku menyapa
Selalu ku cari alasan menyita waktumu
Karena bayangmu mengusik pikirku
Setiap langkah ingat sikapmu
Senyummu selalu mengisi lamunan
Sungguh lembut lantun katamu
Buatku kagum dengan setiap keputusan
Luluhku saat kau bilang sepakat
Menerima segala yang akan aku perbuat
Mungkin sekalipun kau tak berniat
Namun sungguh padamu aku terikat
Aku tak mengerti ini kenapa
Aku tak mampu jelaskan rasa
Aku tau masing-masing ini tak mungkin jadi kita
Aku pun takkan pernah mencoba
Bahagiaku lihat kau dengannya
Rasaku tak akan ada artinya
Aku yakin ini bukan cinta
Tapi aku tak tau apa namanya