Resensi Film “Escape Room”

Judul Film : Escape Room : Permainan mematikan dalam ruangan

Genre : Triller dengan sedikit drama

Sutradara : Adam Robitel

Escape room adalah film yang mengisahakan tentang 6 orang dengan keberuntungan masing-masing dimana mereka bisa selamat dari maut atas insiden tertentu yang menjadi salah satu trauma besar dalam hidupnya. Mereka adalah orang-orang “terpilih” dan “terundang” pada sebuah misi permainan dalam ruang. Permainan atau game ini bukan sembarang game karena permainan akan menentukan hidup dan mati para pemainya. 6 orang yang terpilih bermain pada permainan ini adalah satu-satunya orang yang pernah selamat dari mautnya atas sebuah insiden besar, masing-masing insiden yang pernah dilalui mereka juga berbeda dan tidak ada satupun yang terselamatkan kecuali 6 orang ini. Mereka adalah Ben seorang pekerja serabutan yang sedang butuh uang (Logan Miller), Zoey seorang mahasiswi (Taylor Russell), Jason seorang pengusaha sukses yang sombong dan tega (Jay Ellis), Amanda seorang mantan militer (Deborah Ann Woll), Mike orang tertua diantara mereka (Tyler Labine) dan Danny digambarkan sebagai penggila gadget yang banyak bicara (Nik Dodani).

Film ini menceritakan bagaimana 6 orang dengan latar belakang berbeda yang memiliki keberuntungan di maut pada masa lalunya berusaha menyelamatkan diri “lagi” pada permainan ini hanya untuk mendapatkan US$10.000 Amerika. Mereka dipaksa untuk memecahkan teka-teki unik dan sulit dalam sebuah ruangan yang menggambarkan masa lalu kelam mereka masing-masing. Permainan ini berawal ketika sebuah box kecil yang hanya bisa terbuka pada waktunya dan  entah siapa yang mengirim datang kepada mereka, di dalam box tersebut terdapat undangan. Diwaktu yang telah ditentukan mereka datang ke sebuah gedung seperti gedung perusahaan dimana permainan itu dimainkan. Mereka dikumpulkan dalam sebuah ruangan kerja dan dipersilahkan duduk menunggu tanpa tahu siapa yang mempersilahkan mereka menunggu. Cukup lama dan mereka menunggu dan mereka baru sadar ternyata yang menyuruh mereka menunggu hanyalah sebuah boneka (seperti boneka di annabelle) yang sedang memegang telfon merah yang tidak berfungsi dan disaat itulah mereka sadar bahwa mereka tidak bisa keluar dari ruangan tersebut. Permainan sebenarnya pun dimulai, tiba-tiba suhu ruangan memanas, memanas dan terus memanas mereka harus menemukan cara untuk keluar dari ruangan yang tentu saja akan terbakar oleh suhu ruangan itu sendiri. Untuk keluar dari ruangan level pertama permainan ini dibutuhkan kerjasama yang tepat dan rasio yang benar, diruangan inilah masa lalu yang kelam Amanda di uji. Baru di awal permainan saja film ini telah berhasil membangun ketegangan, trauma Amanda terhadap api pun juga digmbarkan cukup jelas. Dan pada akhirnya mereka semua dapat selamat di level pertama. Permainan ini terus berlanjut, di ruangan ke dua adalah ruangan dengan suhu kutub yang menggambarkan trauma Jason,disinilah pertama kali 6 dari mereka mati, dia adalah Danny, begitu seterusnya game ini berlanjut dari ruang ke ruang hingga ruang ke-6. Tantangan yang berbeda menyebabkan satu per satu dari mereka mati dan hanya satu orang saja yang berhasil selamat, dia adalah Ben, yang awalnya hanya pekerja serabutan tidak punya keahlian dan sering diremehkan serta hanya punya masa kelam dengan sahabat-sahabatnya.

Ide adegan yang tidak saya sangka-sangka adalah ketika Zoey bisa selamat dan berhasil keluar dari permainan, hanya dengan menghancurka cctv di salah ruang permainan tersebut. Zoey berhasil masuk pada ruang keberhasilan. Namun jangan disangka ruang keberhasilan ini adalah akhir dari cerita. Di ruang keberhasilan ini ada salah satu tokoh yang di dalam fim itu disebut-sebut sebagai gamemaster. Dia digambarkan sebagai orang yang tidak mau mengakui kemenangan Ben dan berusaha membunuh Ben yang saat itu kondisinya sangat mengenaskan karena di ruang permainan yang terakhir dia hanya bermain sendiri dan “terjepit oleh ruangan”, meskipun berhasil selamat. Di ruang keberhasilan ini tanpa Zoey mungkin Ben akan mati karena berhadapan dengan sistem. Namun pada akhirnya Zoey dan Ben lah yang justru bisa keluar dari gedung permainan itu meski dengan terseok-seok. Perminan ini dimenangkan oleh Zoey dan Ben berkat cctv yang mengaktifkan Gamemaster sebagai “pemain”. Diakhir cerita film ini menggambarkan akan ada tantangan selanjutnya yang akan dihadapi Zoey dan Ben karena mereka mencoba mengungkit kembali kejadian ini, padahal sudah beberapa tahun berlalu.

Setelah melihat film ini saya bertanya-tanya begitu hebatkah uang dimata manusia, hinggaa manusia buta akan nyawanya sendiri dan sebegitu tidak pentingkah nyawa manusia?. Mereka hidup di tengah-tengah kapitalisme yang menganggap keselamatan orang kelas bawah hanyalah sebuah keberuntungan, tampak sekali ketimpangan disitu. Dan yang lebih ironisnya lagi bahwa kehidupan kapitalis seperti itu membuat manusia tidak lagi menggunakan moralitasnya dalam bertindak, karena kehebatan teknologi dan sistemlah yang bergerak, sehingga pembunuhan sadis menjadi hal yang wajar dan justrun dianggap “permainan” yang menarik dan nyawa manusia dijadikan mainan.