Review Buku “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”

Ditulis oleh: Rizky Adha Mahendra
Judul Buku: Sekali Peristiwa di Banten Selatan
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer

Seperti pada karya-karya Pram lainnya, unsur realis dalam karya fiksinya seolah memaksa saya–atau mungkin kita–merasakan apa yang terjadi pada masa lampau. Membuat saya merasa karya fiksi Pram sebagai sebuah saksi bisu sejarah yang jauh dari kata naif. Salah satu karyanya adalah (kisah banten selatan).

Buku ini membahas bagaimana kondisi gejolak politik Indonesia di era awal kemerdekaan. Disaat pemberontakan-pemberontakan kerap terjadi di berbagai daerah, salah satunya yang terjadi di kawasan Banten bagian selatan. Darul Islam (DI) yang kala itu melakukan pemberontakan mampu menjadi salah satu faktor munculnya penderitaan-penderitaan yang menimpa masyarakat. Mirisnya, penderitaan tersebut tumbuh di atas tanah yang suburnya bukan main. Tanah yang disebutkan oleh Pram sebagai tanah yang kaya raya.

Seorang pria barang berusia hampir empat puluh tahun bernama Ranta menjadi salah satu korbannya. Dia bersama beberapa orang lain menjadi korban dari penghisapan, perampasan, pencurian, dan penindasan yang dilakukan oleh pemberontak DI. Mereka dipaksa oleh residen DI mencuri sumber-sumber kekayaan yang menurut hemat saya akan dipergunakan untuk menunjang dana perang melawan pemerintah. Komplotan DI memang kerap melakukan hal-hal buruk terhadap masyarakat Desa, seperti mencuri; menyakiti; dan menghisap sumber daya masyarakat.

Namun nasib baik menimpa Ranta, pria berbadan besar tersebut akhirnya berani mengumpulkan keberaniannya untuk balik melawan penindasan yang menimpa dirinya. Ranta yang sudah bosan dengan rasa takut akhirnya memutuskan untuk melawan Juragan Musa, yang menjadi residen DI. Dibantu dengan beberapa kawan senasibnya, mereka memberanikan diri mengajak komandan dan pasukan republik untuk menumpas DI dari Desa mereka.

Nasib baik menimpa Ranta dan kawan-kawannya. Dengan semangat gotong-royong dan kerjasama yang tinggi mereka bisa bersama-sama melepaskan diri dari belenggu binatang buas yang tanpa pandang bulu melibas siapa pun menghadang jalannya. Setelah melalui beberapa konfrontasi dan kontak fisik dengan simpatisan DI, Ranta dan masyarakat Desa berhasil benar-benar menumpas perlawanan DI dan Ranta diangkat menjadi lurah sementara menggantikan lurah lama. Karena lurah sebelum Ranta terlibat dalam jaringan DI.

Dengan semangat gotong-royong pula akhirnya masyarakat Desa berhasil membangun peradaban yang lebih baik. Membangun waduk, membangun jalan, berkebun, dan membangun pendidikan. Semangat gotong-royong yang dimiliki masyarakat Desa merupakan muara dari kesadaran akan pentingnya hidup menuju arah yang lebih baik. Pram juga menambahkan, semangat kerja dan terus bekerja bahkan untuk anak cucu dan generasi setelahnya. Karena dari kerja itu lah api semangat hidup dihasilkan. Jauh sebelum Jokowi menabuh genderang semangat bekerja, beberapa dekade silam Pram telah melakukannya.

Sampai sini saya ingin mencoba mengambil intisari dari karya Pram tersebut. Pertama, perang merupakan sebuah kegiatan yang kerugiannya tidak hanya dirasakan oleh pihak yang bertikai. Namun makhluk-makhluk yang berada di sekitarnya tidak akan luput menjadi korban. Korban jiwa, korban harta, korban kemeredekaan, mereka menjadi korban dari binatang buas serakah yang haus dengan darah. Kedua adalah pentingnya semangat gotong-royong dalam masyarakat. Di era kepemilikan pribadi ini–khususnya masyarakat Kota–saya melihat memudarnya semangat gotong-royong yang ada, bahkan dalam hal terkecil sekalipun seperti membersihkan selokan maupun merapihkan jalan. Mereka lebih memilih membayar tenaga seseorang untuk melakukan itu. Dalam karya Pram tersebut nampak kerja sama kolektif selain mempermudah pekerjaan, pula menjalin relasi sosial antar masyarakat. Ketiga adalah semangat bekerja, meskipun bukan untuk diri sendiri. Artinya ketika kita bekerja dan hanya memikirkan isi perut kita, lesu lah api semangat bekerja kita. Bekerja lah untuk generasi yang akan datang, sebagaimana generasi sebelumnya bekerja untuk kita.