Artikel Program Kerja

Membungkus Kepedulian dan Kesenangan dalam Paket “Sabtu yang edukatif”

Ditulis oleh: Nurma, Dept. Jurnalistik 2018
Bukan karena menyandang status sebagai mahasiswa sosiologi untuk bisa megabdi pada masyarakat, namun sukarela dan totalitas tanpa paksaan karena merasa bertanggung jawab untuk memastikan stabilitas masyarakat agar sesuai nilai dan norma menjadi hal yang harus dijunjung tinggi. Hal inilah yang dilakukan beberapa mahasiswa sosiologi Universitas Brawijaya yang tergabung dalam kepanitian SEC (Sociology Education Care). SEC digaungi oleh Departemen Advokesma Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya yang dalam kepanitiaannya juga membuka pendaftaran untuk mahasiswa di luar Departemen Advokesma yang perekrutannya telah dilaksanakan pada bulan maret lalu. Mereka dengan sukarela melakukan pengabdian berbasis peduli edukasi dan terjun ke masyarakat, khususnya pada anak-anak yang duduk di jenjang sekolah dasar beserta guru dan walimurid untuk menumbuhkan kesadaran kesehatan reproduksi dan bahaya kekerasan seksual pada anak. Pengabdian yang telah mendarah daging dan menjadi andalan mahasiswa sosiologi dalam mengabdi pada masyarakat ini memang sudah menjadi program tahunan Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya sejak beberapa tahun lalu yang tentunya telah mendapat dukungan dari pihak jurusan sosiologi Universitas Brawijaya. Selain itu dengan tema “Membangun kesadaran orang tua dan siswa akan pentingnya kesehatan reproduksi” tahun ini, sejalan dengan salah satu program Research Group jurusan yang juga sedang mengkaji mengenai kesehatan reproduksi yang kemudian hal ini diharapkan dapat menunjang dukungan penuh dari pihak jurusan.
Uniknya di SEC tahun ini, meskipun diperkirakan akan memakan banyak biaya tetapi program SEC tahun ini tidak hanya dilakukan di satu sekolah saja, dan justru direncanakan ada 2 sekolah dasar yang nantinya akan menjadi target pengabdian ini, yaitu SD Songgokerto 2 dan SD Sumberejo 3 yang notabenenya merupakan salah dua dari beberapa SD yang berpotensi bermasalah yang berada di lingkungan “hotel murah” daerah Songgoriti. Program yang nantinya akan dilakukan setiap hari sabtu sepanjang bulan September ini bukan hanya sekedar mengeksplor pengetahuan tentang kesehatan reproduksi kepada siswa dan orang tuanya. Namun juga meliputi “Pasar Murah” yaitu pemberian subsidi untuk pembelian sembako murah dan nantinya ditargetkan akan diberikan kepada beberapa walimurid yang dianggap membutuhkan di kedua SD tersebut Tidak cukup dengan memberikan bantuan materi yang diwujudkan dalam bentuk pasar murah, panitia juga menyiapkan peralatan sekolah dan berbagai macam buku bacaan yang cocok untuk anak SD yang akan diserahkan kepada pihak Sekolah Dasar agar nantinya dapat dipergunakan.
Berangkat dari kasus pelecehan seksual yang marak terjadi di lingkungan sekolah formal termasuk kasus pelecehan seksual yang terjadi di SD “x” di Wilayah Malang Raya penting dilakukan tindakan preventif ketat. Mengingat sekolah dasar merupakan media sosialisasi pendidikan formal pertama untuk anak-anak. Hal inilah yang kemudian membuat program ini menggandeng salah satu program instansi pemerintahan, yaitu pihak Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dan anak, dimana pihak Puspaga selama ini telah banyak membantu dalam proses perizinan sekolah dan pembekalan beberapa materi penting untuk panitia. Bekerja sama dengan pihak Puspaga diharapkan dapat membantu proses berjalanya program ini, khususnya dalam mensosialisasikan program ini terhadap orang tua walimurid.
Berdasarkan wawancara yang telah kami lakukan, dalam menjalankan program sukarela ini pihak panitia mengaku bahwa ada beberapa tantangan yang memang harus dihadapi, seperti tempat yang dijangkau lumayan jauh, masalah transportasi, beberapa masalah internal kepanitiaan dan lain sebagainya. Namun sejauh ini ketua pelaksana SEC menyatakan bahwa persiapan yang telah dilakukan sudah mencapai 80% matang. Berawal dari perekrutan panitia yang cukup diantusiasi oleh banyak mahasiswa sosiologi Universitas Brawijaya hingga persiapan yang telah dilakukan panitia sejauh ini, ketua pelaksana SEC 2019 juga berharap agar pengabdian ini tidak berhenti ketika program SEC telah usai, namun akan tetap diterapkan sampai seterusnya dan bahkan akan ada lebih banyak lagi program pengabdian masyarakat seperti SEC yang dapat dilakukan oleh komunitas atau kelompok mahasiswa lain.

Opini

OSPEK Mengajarkan Kita Untuk Berseragam di Tanah yang Penuh Keberagaman

Oleh: Rizky Adha Mahendra

Ospek saat ini seolah telah menjadi agenda wajib hampir di setiap Universitas di Indonesia, tak terkecuali di Universitas Brawijaya. Beberapa hari yang lalu FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) Universitas Brawijaya telah melaksanakan rangkaian pertama Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus). Saya ingin menyentil salah satu peraturan yang saya anggap “tidak ada manfaat” dalam proses “pengenalan” kehidupan kampus. Kalau soal konten yang dihadirkan saya tidak ingin membahas, karena sudah banyak yang membahasnya. Saya ingin membahas mengenai peraturan tentang aturan berpakaian.

Saya melihat dari tahun ke tahun tidak ada perubahan terhadap kebebasan berpakaian mahasiswa baru FISIP UB 2019. Kembali, mahasiswa baru FISIP UB 2019 “dipaksa” untuk mengenakan pakaian seragam saat kegiatan Ospek berlangsung. Seperti mengenakan kemeja putih, celana panjang hitam, rambut laki-laki harus sangat pendek, sepatu hitam, slayer berwarna jingga, dan atribut lainnya yang saya anggap merupakan bagian dari penyeragaman. Bisa dilihat di peraturan PKKMABA FISIP 2019 pada akun Instagram @kesatriafisipub2019.

Kalian tahu tujuannya untuk apa? Silahkan cek di postingan instagram Ospek FISIP UB pada tanggal 5 Agustus 2019. Tertera di sana bahwa tujuan mahasiswa baru mengenakan atribut adalah agar mahasiswa baru FISIP UB tidak dikira mahasiswa fakultas lain (alasan yang sangat rasional kah?). Miris bukan? Di tanah air Indonesia yang penuh dengan keberagaman (suku, ras, agama, budaya, bahasa, dan lain-lain), tetapi dalam kegiatan pengenalan kehidupan kampus mahasiswa baru dipaksa mengenakan pakaian yang seragam!

Bayangkan, rambut mahasiswa putra dipaksa untuk dipendekkan hingga hampir-hampir mirip akademi militer. Coba pikirkan, apa hubungannya “rambut cepak” dengan “pengenalan” kehidupan kampus? HARUSNYA, KALAU MAHASISWA BARU BERAMBUT CEPAK, PANITIA JUGA BERAMBUT CEPAK DONG! Ditambah slayer jingga dan atribut yang sebenarnya tidak terlalu penting. Pasalnya, saya kasihan melihat mahasiswa baru untuk membeli atribut-atribut tersebut yang hanya digunakan saat Ospek. Setelah Ospek entah jadi apa atribut-atribut yang sudah dibeli dengan “uang” itu? Apakah panitia tidak memikirkan itu? Sebuah kesia-siaan yang sangat sia-sia menurut saya.

Padahal sejatinya substansi dari “pengenalan” kehidupan kampus adalah untuk memperkenalkan segala yang ada di dalam kampus. Bukan malah mengatur cara berpenampilan mahasiswa baru yang “dipaksa” untuk seragam. Saya heran, mengapa tradisi yang saya anggap pembodohan tersebut selalu di pelihara dengan baik. Coba pikirkan, apa salahnya panitia Ospek FISIP UB mengajak mahasiswa baru FISIP UB untuk mengikuti kegiatan Ospek dengan berpakaian sebebas mungkin (atau paling tidak “bebas rapi”). Namun dengan substansi “pengenalan” yang sama.

Kembali saya ulang pertanyaan awal, kenapa mahasiswa diajak berseragam di tanah yang penuh dengan keberagaman?