Pengenalan Program Kerja

Goresan Pena Sosial 2019

Goresan Pena Sosial atau biasa disingkat menjadi GPS merupakan salah satu program kerja Departemen Eksternal Himpunan Mahasiswa Sosiologi yang akan diselenggarakan pada tanggal 28 dan 29 September 2019. Acara ini dilangsungkan setiap tahun dan terdiri dari rangkaian Lomba Essay Nasional dan Seminar Nasional. Berbeda konsep dari tahun lalu, ketua pelaksana GPS, Havilah, ingin membawa sesuatu yang baru, yaitu Lomba Essay daripada mengadakan lomba karya tulis ilmiah seperti yang setiap tahun selalu dilakukan. Ia juga mengatakan bahwa dengan diadakannya lomba essay, peserta diharapkan dapat lebih mengasah kreativitas dalam menulis opini. Tahun ini panitia GPS mencoba mengangkat tema “Creativepreneur” sebagai respons dari kebutuhan masyarakat di era revolusi industry 4.0 dimana kebutuhan pemuda sebagai generasi penerus bangsa untuk melakukan inovasi, mengingat persaingan yang semakin ketat. Selain itu, tema ini diharapkan akan membangun kreativitas dan kepekaan para peserta lomba dan seminar.


Seminar Goresan Pena Sosial akan menghadirkan Mohamad Ali Dofir—founder Loakin Go yaitu usaha yang membuka wadah untuk daur ulang secara online dan juga Mario Gultom—founder Sunyi House of Coffee and Hope, yang membawa inovasi baru dengan memberdayakan teman difabel menjadi waitress dan sebagai barista. Tidak hanya itu, Goresan Pena Sosial juga akan menyajikan hiburan berupa Stand Up Comedy yang akan disampaikan oleh anggota KOMIKA Malang, Dewangga.
Kemudian lomba Essay dari acara ini diikuti oleh 9 tim dengan jumlah 13 peserta yang terdiri dari berbagai mahasiswa se-Indonesia. Penyampaian detail Essay yang mereka kirimkan akan dilakukan dengan presentasi setiap tim yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 September 2019 di Ruang rapat Lt. 7 Gedung B FISIP UB. Acara ini akan dipandu dan diarahkan oleh panitia divisi acara serta dibantu oleh divisi lain. Setelah selesai presentasi essay, para peserta akan mengikuti kegiatan selanjutnya yaitu field trip ke Kampung Sapi di Batu yang akan dipandu oleh beberapa panitia yang telah ditugaskan.


Ketua pelaksana GPS mengakui adanya proses panjang yang dilewati dengan berbagai permasalahan di dalam maupun di luar kepanitiaan namun dengan usaha dan kerjasama antar panitia kemudian berbuah hasil persiapan yang matang dengan angka 90% dari keseluruhan persiapan. Dari mulai urusan pendanaan hingga teknis acara membutuhkan konsentrasi dan fokus yang tinggi dalam penyusunannya serta bantuan sesama panitia dalam menjaga stabilnya komunikasi yang terjalin sehingga meminimalisir adanya kekeliruan bahkan kesalahan informasi. Acara ini berhasil mendapatkan sponsor dari instansi bank dan beberapa usaha yang berlokasi di Malang. Selain itu, promosi acara ini dilakukan dengan membuka stand di area perpustakaan pusat UB dan juga bekerjasama dengan beberapa media partner. Publikasi juga dilakukan dengan menyebarkan poster acara kepada semua fakultas yang ada di Universitas Brawijaya dan menyebarkan foto poster di media sosial setiap panitia karena dirasa efektif dan tidak membutuhkan banyak biaya.

Artikel Program Kerja

KENANGAN YANG TAK CUKUP HANYA UNTUK DIKENANG

Pertemuan akan menghadapi perpisahan, lalu ketika suatu pertemuan berangkat dari sebuah ketangguhan untuk mengabdi apakah perpisahan mampu mempersatukan kembali kepedulian dan kesenangan dalam sepaket kenangan yang dapat mendorong gerakan kebaikan lain?. Berangkat dari sukarela untuk mengabdi, program kerja mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya yang bergerak dalam bidang edukasi pada anak-anak Sekolah Dasar ini telah mencapai puncaknya. Dengan diadakanya “Pasar Murah” yang ditujukan untuk para walimurid SDN Songgokerto 2 menandakan berakhirnya program kerja Sociology Education Care 2019 ini. Pertemuan yang bertujuan menumbuhkan kesadaran terhadap bahaya pelecehan seksual pada anak dan menumbuhkan kepedulian terhadap kesehatan reproduksi ini telah berhasil dilakukan beberapa mahasiswa yang tergabung dalam kepanitiaan Sociology Educatin Care 2019 di 2 sekolah dasar sesuai dengan yang direncanakan. Apresiasi juga didapatkan dari pihak sekolah maupun dari pihak Puspaga sebagai instansi yang bekerjasama dengan kepanitiaan ini dalam menangani sosialisasi bahaya pelecehan seksual pada anak dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi, meskipun di akhir pertemuan program kerja SEC pihak puspaga tidak dapat menghadiri kegiataan karena harus menghadiri acara lain. Namun secara keseluruhan kegiatan ini masih dapat berjalan semestinya dan mendapatkan apresiasi cukup banyak dari anak-anak SDN Songgokerto 2 di akhir eksekusinya pada Sabtu, 14 September lalu.
Program kerja yang tidak asing lagi dengan jargon “tangguh mengabdi” ini, dapat terlaksana di bulan September atas bantuan banyak pihak yang terkait, termasuk beberapa alumni kepengurusan Himpunan Mahasiswa Sosiologi serta ketua dan penanggung jawab departemen kepengurusan Himpunan Mahasiwa Sosiologi tahun 2019 ini. Program kerja andalan mahasiswa sosiologi dalam mengabdi ini telah berhasil dilaksanakan, meskipun belum se-sempurna yang direncanakan. Banyak lika-liku dan hambatan yang telah dilalui oleh panitia serta pihak yang membantu dalam pengabdian ini, evaluasi demi evaluasi terkait dengan kekurangan dan apa yang harus diperbaiki kedepanya juga telah dilakukan panitia di setiap minggunya, temasuk rapat setiap malam jumat sebelum turun lapang dilakukan dengan harapan tidak ada miskomunikasi ketika kegiatan berjalan esok hari. Perjalanan Malang-Batu yang memakan waktu cukup lama membuat panitia di setiap rapatnya harus menyiapkan “penanggung jawab bangun”, selain itu ada kesepakatan panitia yang mengharuskan setiap panitia yang terlambat datang di hari-h menyerahkan 5 buku yang cocok untuk anak-anak yang nantinya buku tersebut dijadikan denda atas keterlambatanya dan buku-buku yang terkumpul dari denda dan donasi sukarela tersebut juga akan diberikan pada sekolah dasar tempat dilakukanya pengabdian, yang dengan hal ini diharapkan tidak ada paanitia yang telambat ketika akan berangkat ke sekolah dasar yang dituju.
Selain mendapat dukungan dari pihak Puspaga, program kerja pengabdian ini juga mendapat apresiasi dari pihak Puspaga. Apresiasi nyata yang diberikan pihak puspaga pada kepanitiaan ini dapat dibuktikan dengan dilibatkannya panitia Sociology Education Care 2019 dalam kegiatan pengabdian lebih lanjut bersama dengan Dinas Pendidikan Kota Batu untuk nantinya bersama-sama mengadakan dan melaksanakan acara pengabdian berbasis edukasi. Kegiatan yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kota Batu ini direncanakan akan diadakan pada Bulan Oktober untuk lingkup siswa dan siswi Sekolah Menengah Pertama se-Kota Batu. Dalam acara yang didakan oleh Dinas Pendidikan Kota Batu tersebut nantinya diharapkan penitia SEC dapat berperan sebagai fasilitator untuk para siswa atau peserta acara tersebut. Hal ini menunjukkan adanya usaha untuk mewujudkan keberlanjutan dalam kegiatan pengabdian berbasis pendidikan ini. Respon yang baik juga diberikan dari aak-anak dari kedua sekolah dasar yang terlibat. Anak-anak yang terlibat sangat aktif dan semangat untuk mengkuti setiap rangkaiannya. Mulai dari mendengarkan instruksi dengan baik, tertib dan sportif ketika mengikuti games hingga akhirnya terjalin ikatan pertemanan yang baik antara fasilitator dengan peserta. Dengan demikian kepanitiaan Sociology Education Care 2019 juga berharap agar nantinya kegiatan pengabdian yang telah dilakukan dapat memberikan manfaat yang signifikan untuk menunjang edukasi yang lebih baik dari waktu ke waktu dan menjadi pendorong gerakan pengabdian-pengabdian lain tanpa melupakan edukasi “printilan” yang tidak kalah pentingnya diberikan di usia dini, seperti edukasi tentang bahaya pelecehan seksual pada anak dan tentang kesehatan reproduksi ini.

Puisi

Sajak diatas Duka
Oleh: Shila R

Aku tahu matamu tak pernah berheti bersikap teduh
Karena sejatinya aku tahu itu rumahku
Kini sejauh jarak yang mencoba mengukur
Aku tahu sejatinya itu hanya uji bagiku
Jujur otakku tak pernah terlipur
Mengingat kisahmu hanya membuat mataku sendu
Ukiran duka di sudut cahaya kelopakku
Melukiskan luka diatas senandung peru
Ingatkah jumpa kala itu?
Mata kita tak pernah absen bertemu
Cuplikan memori itu cukup untuk membuatku sekedar tahu
Bahwa sebaik-baiknya tempat berpulang dan berpaling itu dekapmu
Bahwa seindahnya tutur adalah kalimat penenangmu
Aku tenang
Aku tentram
Dalam jangkauanmu

23/9/2019

Opini

“GUNDALA” SEBAGAI PROYEKSI PATRIOTISME & BENTUK MORAL YANG TELAH MATI DI INDONESIA

Oleh : Wisnu Wardhana


Sudahkah insan sineas melihat film “Gundala Sang Putera Petir”? Jika belum, film ini terbilang recommended bagi kita yang mendambakan munculnya karakter Superhero setelah berakhirnya film Avengers. Terlebih, ketika tahu bahwa film ini merupakan film Superhero garapan negeri sendiri, sehingga ada kebanggaan ketika menontonnya. Kita pun juga sepatutnya mengangkat topi dan sejenak mengapresiasi bahwa industri perfilman Indonesia sudah naik level dan dapat dikatakan tidak kalah dengan standar film Hollywood. Kembali pada film Gundala, di mana saya di sini tidak ingin memberikan review dan penilaian terkait mekanisme film ini, yang menurut saya sudah banyak dilakukan orang lain. Hal yang mengarah pada performa aktor/aktris yang bermain serta peran mereka masing-masing dalam film, ataupun hal lain seperti proses penggarapan film secara detail. Sekali lagi, saya tidak tertarik membahas hal itu.


Bagi saya, terdapat hal lain yang sepatutnya menjadi bahan pembahasan yang tidak kalah pentingnya dari hanya melakukan penilaian mekanis terhadap film ini. Hal tersebut mengarah pada latar belakang sosial di film, yang banyak sekali diangkat. Selama 123 menit, dimulai dari awal hingga akhir film, saya seperti diperlihatkan kondisi sosial Indonesia. Sekali lagi, saya harus memberikan kredit tersendiri pada Joko Anwar, terkait bagaimana pada akhirnya Gundala diperlihatkan sebagai seorang pahlawan yang tidak “melulu” menjadi Superhero karena memiliki kekuatan super, tapi juga mencoba menjadi pahlawan di tengah realitas bangsa yang “semrawut”. Menurut pandangan saya, secara umum terdapat beberapa konteks sosial yang diangkat dalam film ini.
Kemiskinan dan Eksploitasi Anak. Konteks pertama ini sangat lekat pada diri Sancaka di saat masa kecilnya. Ayahnya merupakan buruh pabrik, sementara ibunya harus menggantikan posisi ayahnya setelah meninggal, dengan mencari pekerjaan hingga ke luar kota (meskipun tidak spesifik diceritakan profesinya). Sancaka dan orangtuanya pun tinggal di suatu rumah petak di dekat pabrik tempat ayahnya bekerja. Kondisi rumahnya? Kumuh mungkin merupakan kata yang pantas disematkan untuk hal ini. Dalam periode masa kecilnya, Sancaka seakan diperlihatkan sangat lekat dengan konteks kemiskinan itu sendiri. Hal ini diperparah saat ibunya tidak kunjung pulang ke rumah, hingga membuat Sancaka nekat meninggalkan rumah dan menjadi gelandangan. Pada termin waktu ini, kemiskinan diperlihatkan semakin nyata. Hal yang difokuskan adalah pada anak-anak yang terlantar dan menjadi gelandangan, yang harus menghidupi diri mereka sendiri di jalanan. Apakah hal yang menimpa anak-anak ini hanya terjadi di film? Sayangnya tidak! Banyak dari mereka yang saat ini masih berusaha untuk bertahan hidup di jalan. Tidur hanya beralaskan trotoar, dengan kardus dan koran menjadi selimut mereka.


Bagi sebagian besar masyarakat, kemiskinan adalah momok menakutkan. Ironisnya, kemiskinan terjadi turun temurun dalam satu keluarga, sehingga sampai kapan pun garis keturunan suatu keluarga akan tetap miskin. Kemiskinan menjadi mendarah daging, tatkala juga membuat anak-anak menjadi korban paling nyata. Mereka dijadikan alat pencari uang untuk membantu kondisi keluarganya, dengan tidak jarang juga dipaksa oleh orangtua mereka untuk mencari uang. Dengan tampang polos dan hanya bermodalkan botol bekas, ataupun kadang kayu kecil yang ditambahkan tutup botol minuman kaca, anak-anak ini melakukan pekerjaan mereka sebagai pengamen. Selain itu, banyak pula anak-anak kecil maupun balita yang dibawa seseorang yang menjadi pengasuh mereka, ataupun yang menculik dan menjual mereka untuk dijadikan pengemis dan pengamen jalanan. Kemiskinan telah tumbuh menjadi ajang eksploitasi anak untuk mencari pundi-pundi uang.


Kekuasaan elit & Praktek KKN (Korupsi, Kolusi & Nepotisme). Konteks ini tergambar jelas, ketika menyoroti segmentasi wakil rakyat yang diperlihatkan dalam film. Seperti menggambarkan secara sarkas, bahwa Indonesia “memang” memproduksi hal-hal tersebut dari para wakil rakyatnya. Kekuasaan elit diperlihatkan, ketika musuh Gundala bernama Pengkor hadir di tengah-tengah wakil rakyat untuk menumbuhkan kuasa bagi diri dan golongannya,. Membunuh dan menghilangkan orang-orang yang berlainan idealisme dan upaya mengatur pemberitaan melalui semua lini media massa merupakan contoh konkret. Praktek KKN pun muncul, dengan membayar sejumlah oknum untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kepentingan pribadi, membangun relasi dengan orang-orang dari golongan terpinggirkan untuk nantinya dijadikan kroni-kroni kuasanya, serta menjadikan orang-orang terdekat untuk memiliki posisi strategis untuk kekuasaannya diperlhatkan dari sosok Pengkor. Hal yang unik bagi saya pada film ini adalah, Pengkor bukan satu-satunya pihak yang digambarkan melakukan semua kejahatan tersebut.


Terdapat pihak-pihak lain, yang meskipun sangat sedikit diperlihatkan, namun sudah cukup menjelaskan karakter masyarakat terkait dua konteks yang ada. Upaya pemilik pabrik menyogok dan memberikan sejumlah uang kepada teman-teman dari Ayah Sancaka, agar menghentikan aksi demonstrasi dan menyusun rencana membunuh Ayah Sancaka pada awal film merupakan contoh lain. Seperti tidak cukup, menjelang akhir film ketika banyak ibu-ibu hamil menginginkan obat atau serum untuk para bayi mereka juga cukup menjelaskan. Bagian yang saya fokuskan, adalah ketika terdapat beberapa suami yang memberikan sejumlah uang sogokan kepada petugas medis, agar mendahulukan istri-istri mereka terlebih dahulu untuk mendapatkan obat atau serum tersebut. Dengan banyaknya imbalan, petugas medis tanpa berpikir dua kali langsung menyanggupi. Sungguh luar biasa, ketika uang dapat membeli segalanya termasuk harga diri.


Ketika melihat lebih jauh, hadirnya para wakil rakyat dalam film bagi saya juga merupakan bentuk sindiran nyata terkait kehadiran sosok-sosok wakil rakyat yang sesungguhnya di Indonesia. Wakil rakyat hanya julukan, bagi mereka yang hanya menginginkan jabatan tinggi dan harta berlimpah. Wakil rakyat juga hanya kedok, bagi mereka yang di dalam isi kepalanya hanya mengarah pada kekayaan semata. Lantas di mana posisi mereka sebagai wakil untuk rakyat yang sebenarnya? Tanpa arah, ditelan bumi, lalu kemudian hilang. Masyarakat akhirnya hanya dapat meratapi nasibnya, dengan tetap menaruh rasa percaya dan harapan yang tidak kunjung tiba dan akhirnya mati dengan harapan yang tetap dibawa hanya untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Ironis. Terkait hal ini, mungkin saya setuju dengan ucapan Pengkor dalam film yang mengatakan, “Pada dasarnya, Dewan Rakyat hanya bekerja dengan bermodalkan mulut besarnya saja”.


Pemberontakan & Penjarahan. Konteks ketiga ini diperlihatkan, dengan hampir terlihat di semua adegan menegangkan dalam film. Bagian pemberontakan sudah terlihat di awal film, dengan banyaknya buruh dan pekerja pabrik yang menuntut keadilan dengan memberontak kepada pemimpin pabrik terkait upah mereka. Kemudian, diperlihatkan pada pemberontakan yang dilakukan para aliansi pedagang pasar, yang tidak terima dengan banyaknya preman pasar dan rencana penggusuran lahan tempat berjualan mereka. Lalu, pemberontakan para buruh kelapa sawit yang memberontak kepada Ayah Pengkor terkait jam kerja yang tidak manusiawi, yang berakhir dengan terbunuhnya Ayah dan Ibu Pengkor dengan cara dibakar. Tidak berhenti di situ, kali ini pemberontakan dilakukan Pengkor dan teman-temannya ketika dimasukkan ke dalam asrama dengan membunuh semua orang dewasa di asrama tersebut. Terakhir, dilakukan oleh massa yang lebih banyak dengan mengarahkan pada masyarakat secara umum untuk melakukan pemberontakan berwujud demonstrasi terkait produksi obat atau serum untuk ibu-ibu hamil. Semua digerakkan dengan satu alasan yang sama, yaitu ketidakadilan. Alasan yang sama digunakan untuk penjarahan, namun terjadi oleh orang-orang yang menjadi korban. Ketidakadilan dialami para pedagang dan pemilik toko yang mayoritas merupakan Etnis Tionghoa, ketika barang dagangannya diambil dan dijarah secara paksa oleh orang-orang yang mengaku “pribumi”. Suatu kejadian yang sampai saat ini dikenang sebagai peristiwa “Kerusuhan Mei 1998”.


Jika sebelumnya kekuasaan selalu identik dengan para elit kuasa dan wakil rakyat, maka pemberontakan selalu identik dengan rakyat itu sendiri. Pemaknaan rakyat yang digambarkan akan selalu memberontak, ketika muncul ketidakadilan bagi mereka. Hal yang pada akhirnya selalu dijadikan role model, bagi orang-orang yang mengarahkan pada kepentingan pribadi namun menggunakan “embel-embel” rakyat untuk menarik simpati. Penggunaan rakyat juga pada akhirnya tidak hanya berbentuk penarikan massa untuk melakukan sesuatu, namun juga menjadi identitas bagi sebagian golongan untuk menyelaraskan kepentingan pribadi mereka. Namun di dalam film, justifikasi dari rakyat masih digunakan sebagai upaya memberikan keadilan bagi pihak-pihak yang ditindas, dan dari sinilah hadir sosok Gundala untuk menyelesaikan permasalahan terkait penindasan. Dalam beberapa adegan, Gundala selalu menggunakan kata “rakyat” ketika ditanya mengenai identitasnya, ataupun terkait tujuannya untuk melawan musuh. Penggunaan kata “rakyat” menjadi bentuk legitimasi yang dibutuhkan oleh masyarakat, untuk melawan ketidakadilan dan memperjuangkan hak-hak orang kecil, dan itu semua diarahkan pada sosok Gundala.


Kemunculan Gundala yang dihadirkan sebagai bagian civil society, atau tepatnya bagian dari rakyat Indonesia juga terbantu dengan zaman yang diperlihatkan dalam film. Zaman akhir dari masa Orde Baru hingga awal Reformasi dimunculkan sebagai latar dalam film ini. Hal ini menjadi terhubung, ketika sebelumnya kita membicarakan tentang tiga konteks sosial yang telah muncul, yaitu yang mengarah pada Kemiskinan, Praktek Kuasa & KKN, serta Pemberontakan & Penjarahan. Dalam artian lain, bagi saya sosok Gundala memang sengaja dipersiapkan pada zaman seperti ini. Latar belakang Sancaka yang lahir dari keluarga miskin, dengan harus selalu bertahan hidup dari kondisi serba kekurangan dan ketidakadilan, hingga menjadi sosok pahlawan yang memperjuangkan hajat hidup orang banyak dari penindasan elit kuasa menjadi bumbu tersendiri dalam film. Hal ini karena, kita tidak akan pernah mengerti akan arti dari penindasan, jika tidak merasakan sendiri rasanya ditindas. Kita juga tidak akan mengerti arti dari kekuasaan, jika tidak merasakan sendiri rasanya menjadi penguasa. Dari sinilah muncul dua narasi besar sebagai pesan dalam film ini.


Sebagai manusia yang hidup dalam lingkungan masyarakat, kita akan selalu dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, hidup sebagai manusia yang hanya peduli dengan diri sendiri dan tidak harus mengurusi urusan orang lain. Kedua, hidup sebagai manusia yang menjadi pembeda, dengan peduli dengan sesama dan menjadi pembela dari kaum-kaum yang lemah. Dua pesan ini pada dasarnya dimunculkan dalam bentuk pertanyaan bagi setiap penonton film Gundala, apakah akan memilih hidup sebagai manusia versi pertama ataukah kedua? Hal inilah yang menjadi dilema bagi Sancaka, ketika harus menjalankan hidupnya. Pertentangan besar dalam diri, dengan menanyakan haruskah membantu sesama dari penindasan, ketika pada akhirnya akan lebih baik jika hanya mengurusi dan peduli dengan diri sendiri? Kedua narasi besar ini pada akhirnya juga membentuk karakter Gundala sebagai seorang patriot, alih-alih sebagai seorang Superhero. Dikatakan sebagai seorang patriot, karena Gundala diharuskan untuk menghentikan kelahiran bayi-bayi yang nantinya akan membentuk generasi yang amoral. Hal ini memunculkan pertanyaan bagi saya, mengapa dari sekian banyak alasan Joko Anwar menggunakan alasan “generasi yang amoral” dalam kelahiran bayi-bayi yang terinfeksi serum berbahaya?


Jika saya tarik dari momen akhir masa Orde Baru, masyarakat yang menginginkan adanya perubahan menganggap bahwa pergantian masa Orde Baru menjadi Reformasi penting dilakukan. Dengan reformasi, setiap penindasan dan praktek KKN para penguasa akan hilang, kebebasan bagi masyarakat akan muncul, kesejahteran setiap individu manusia akan lebih terlihat, keamanan negara akan semakin terjamin. Tapi pertanyaannya, apakah hal demikian benar-benar ada ketika masa Reformasi diterapkan sampai saat ini? Sayangnya tidak! Harapan-harapan agar masa Reformasi bisa lebih baik, pada nyatanya hanya menjadi angan belaka. Para aktivis ’98 yang dulu menyerukan keadilan, pada nyatanya sekarang banyak yang menjadi wakil rakyat yang ironisnya malah tutup telinga dengan semua ketidakadilan masyarakat kecil. Para pihak yang dulu jelas-jelas tersangkut kasus HAM, sekarang malah menempati posisi-posisi penting di pemerintahan. Masyarakat yang tergabung dalam gerakan dan ormas yang dulu berujar Pancasila, sekarang ini malah ingin membuat negera tanpa adanya Pancasila itu sendiri. Anak-anak muda yang dulu berujar dikekang kebebasannya, sekarang ini malah menjadi anarkis dengan kebebasan yang sudah kelewat batas.


Lantas, bagi saya segmentasi waktu perpindahan masa Orde Baru menjadi Reformasi yang dimunculkan dalam film ini menjadi penting untuk dibahas, ketika dihubungkan dengan karakter moral bangsa. Masyarakat Indonesia masih amoral, dengan ditandai bahwa Reformasi bukan jawaban dari klaim-klaim tentang masa pemerintahan yang baik bagi bangsa ini. Hal itu menjadi poin kritikan paling krusial dalam film ini, untuk menggambarkan bahwa sebenarnya karakter individu-individu manusia di Indonesia masih tidak bermoral. Pada akhirnya, dari film “Gundala Sang Putera Petir” ini, dari ditarik beberapa kesimpulan yang juga menjadi pesan bagi para penontonnya. Hal ini terkait kondisi sosial Indonesia yang belum mengalami perubahan signifikan, karakter bangsa yang masih amoral, dan harapan akan kemunculan seorang pahlawan sebagai pembawa semangat patriotisme di negeri ini. Tentu kita menunggu sembari menerka, sosok Superhero seperti apa yang akan dibawakan pada sekuel lanjutan dari BumiLangit Universe. Tapi satu yang pasti saya yakini, sosoknya akan mengarah pada zaman atau masa selanjutnya setelah Reformasi, namun dengan menguak latar belakang sosial yang lebih tinggi dari sebelumnya. Kemudian tentu, mencoba menggambarkan realitas sebenernya dari karakteristik bangsa ini secara keseluruhan, sehingga tidak “melulu” hanya terfokus pada konteks Superhero. Sebagai penutup, saya ingin mengutip ulang satu kalimat penting dari dialog film Gundala, yang berbunyi:
“Ketakutan terbesar manusia adalah kebenaran yang ditutupi.”