Artikel Program Kerja: Pra Anniversary Sociology 2019

ARTIKEL PRA ANNIVERSARY SOCIOLOGY 2019
Oleh Wira Galuh dan Nadya Afifah
Sociology Anniversary adalah acara peringatan hari jadi Jurusan Sosiologi Universitas
Brawijaya yang akan memasuki usia yang ke-15. Perhelatan tersebut akan diselenggarakan pada
tanggal 1 November 2019 di Oura Cafe. Pada Sociology Anniversary, tiap tahunnya HIMASIGI UB
tidak hanya sebatas melakukan perayaan bersenang-senang tetapi juga ingin mengaplikasikan ilmu
dan berbagi kebahagiaan dengan terjun langsung melakukan pengabdian pada masyarakat. Jika
dilihat dari dua tahun sebelumnya perayaan hari jadi sosiologi dilakukan dengan pemberdayaan
kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA), dan pada tahun ini sosiologi melakukan pemberdayaan
dengan cara yang berbeda yaitu kepada narapidana di Lapas Klas 1 Lowokwaru.
Candhika Setiawan, selaku ketua pelaksana Sociology Anniversary 2019, mengemukakan
alasan mengapa ia memilih untuk melakukan pemberdayaan di dalam lapas bersama warga binaan
yang mana ia harapkan pada tahun ini tidak hanya menghasilkan sebatas materi seperti yang telah
dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan cara memberdayakan para narapidana tentang
musik reggae, ketua pelaksana berpikir walaupun mereka yang secara warga negara sudah berbeda
dengan kita, dalam artian mereka tinggal dalam jeruji besi dan kita bisa hidup bebas di luar, dan
dijeruji secara jasmani. Namun, mereka tidak boleh dijeruji secara rohani. Dengan hal tersebut
mereka bisa menyalurkan pemikiran, dan ekspresi lewat musik. Hasilnya terciptalah masing-masing
satu lagu dari dua pemberdayaan yang sudah dilakukan pada tanggal 14 dan 21 September 2019.
Tidak hanya narapidana saja yang terlibat dalam pembuatan dua lagu reggae bertemakan
“kebebasan” pada saat pemberdayaan, program pemberdayaan ini juga ikut dimeriahkan oleh
partisipan dari Komunitas Arek Reggae Malang, Tropical Forest dan Cozy Republic.
“Aku menemukan kedamaian dan ketenangan didalam penjara saat bercocok tanam.” Itu
yang dikatakan Apip sebagai vokalis band Makaryoman. Ketika ketua pelaksana mendengar hal
tersebut membuat ia berfikir bahwa para narapidana tidak seperti hidup di penjara dan atas dasar
tersebut ia percaya bahwa pemberdayaan yang dilakukan HIMASIGI akan berhasil
diimplementasikan di kehidupan sehari-hari bagi narapidana tersebut. Pada acara puncak Sociology
Anniversary 2019 di Oura Cafe nanti sedang memperjuangkan untuk membawa Makoryaman Band
keluar dari lapas dan ikut berpartisipasi dalam memeriahkan acara dengan membawakan dan
membuat lagu bersama mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya.
Selain itu, ketua pelaksana menambahkan bahwa ia berharap dari pemberdayaan kepada
narapidana tersebut Keluarga Sosiologi Universitas Brawijaya 2019 yang notabennya sebagai
mahasiswa baru dapat membuka pikiran mereka tentang apakah arti dari rebel. Arti rebel yang
dimaksud adalah saat kita berhasil berpikir kritis pada suatu ketimpangan dan kita sebagai agen
perubahan bisa masuk dalam ketimpangan tersebut dan melakukan aksi, bukan hanya duduk diam
dan menjalani yang ada. Aspek penting lainnya, ketua pelaksana ingin tekankan kepada seluruh
keluarga sosiologi mengerti bahwa kemerdekaan paling dasar adalah kemerdekaan secara
pemikiran. Seperti yang ditekankan diawal, narapidana tersebut boleh dijeruji secara jasmaniah
namun tidak dengan rohaninya, batinnya, dan pemikirannya tidak boleh dibungkam dan ketua
pelaksana berharap itu menjadi dasar para mahasiswa sosiologi untuk tidak takut dalam berpipkir
kritis.

Artikel Program Kerja : Goresan Pena Sosial 2019

Oleh : Vania Kartika

Goresan Pena Sosial kembali dilaksanakan dengan rangkaian acaranya yang selalu menarik setiap tahunnya. Diawali dengan presentasi yang dilakukan para peserta lomba essay pada hari Sabtu (28/09/19) lalu. Presentasi dilaksanakan di ruang rapat gedung B FISIP UB lantai 7. Penilaian lomba dilakukan oleh para juri yang merupakan dosen Universitas Brawijaya. Acara dilanjutkan dengan kegiatan field trip ke Kampung Sapi Adventure di Batu yang  diikuti oleh peserta lomba essay dan beberapa panitia. Acara ditutup dengan pelaksanaan seminar nasional keesokan harinya di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya yang menampilkan dua pemateri yaitu founder Loakin-Go Malang dan juga founder café sunyi Jakarta Selatan. Mengusung tema creativepreneur, panitia acara ini memilih founder dua usaha kreatif untuk dijadikan pemateri dalam seminar yang telah dilaksanakan.

Pemaparan hasil karya essay oleh peserta lomba dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 September 2019. Essay yang telah dipaparkan kemudian dinilai oleh dua orang dosen Universitas Brawijaya yang terdiri dari Ibu Ucca Arawinda, S.Sos., MA, dan Bapak Nanang Bustanul Fauzi, S.S., M.Pd. Peserta yang terdiri dari 9 tim dengan jumlah 13 orang menjelaskan satu per satu karya essay yang telah mereka buat. Pemenang lomba essay ini nantinya akan diumumkan pada saat seminar nasional berlangsung. Setelah pemaparan essay selesai, para peserta dan beberapa panitia melanjutkan acara dengan melakukan field trip ke Kampung Sapi Adventure yang berlokasi di Batu sebagai bentuk pemahaman materi creativepreneur secara langsung dengan langsung menuju ke tempat tersebut menggunakan transportasi yang telah disediakan panitia. Acara diakhiri dengan pemberian olahan susu sapi gratis kepada para peserta dan beberapa panitia yang ikut hadir di tempat.

Seminar nasional dilakukan pada hari Minggu, 29 September 2019 dengan creativepreneur sebagai tema pembahasannya. Seminar ini dilaksanakan dalam dua rangkaian utama yaitu seminar yang diisi oleh Muhammad Ali Dhofir sebagai pemateri seminar dan dimoderatori oleh Ibu Genta Mahardika Rosalinna, S.Sos., MA, seorang dosen Sosiologi UB, dan talkshow yang diisi oleh Mario Gultom sebagai pemateri dan dimoderatori oleh Ibu Nyimas Nadya Izana, S.K.Pm., M.Si, yang juga seorang dosen di jurusan Sosiologi Universitas Brawijaya. Sesi pergantian rangkaian ini diisi oleh seorang KOMIKA Malang bernama Dewangga.

Pertama, Founder Loakin-Go Malang, Muhammad Ali Dhofir, menjadi pemateri dalam sesi seminar yang menjelaskan konsep creativepreneur dan bagaimana menerapkannya serta menumbuhkan jiwa entrepreneurship. Selain itu, beliau juga memberikan penjelasan mengenai proses terciptanya Loakin-Go sebagai suatu usaha yang menjadi solusi bagi permasalahan masyarakat khususnya pada permasalahan sampah kertas yang selalu menumpuk. Tidak hanya sampah kertas, Loakin-Go juga mengelola dan menjual sampah daur ulang lain seperti minyak jelanta.

Kedua, Founder Sunyi Café yang berlokasi di Jakarta Selatan, Mario Gultom, menjadi pemateri dalam sesi talkshow mengenai bagaimana menjalankan serta mengelola suatu usaha yang berbasis creativepreneur, sesuai dengan tema yang diangkat. Sunyi Café sendiri adalah sebuah café yang menyediakan berbagai jenis kopi. Mengambil sentimen anak muda yang kini sedang sangat menggandrungi kopi maupun bisnis kopi, founder Sunyi Café ini kemudian memilih kopi sebagai bahan dasar dalam menu yang disajikan. Namun yang membedakan café ini dengan café lainnya yaitu Sunyi Café mengangkat teman-teman difabel menjadi pegawai café. Mulai dari satpam hingga baristanya merupakan seorang difabel. Usaha ini didirikan oleh Mario Gultom yang bekerja sama dengan 4 orang teman-temannya. 

Lalu, Acara diakhiri dengan pemberian vandel kepada pemateri dan moderator yang kemudian dilanjutkan dengan diumumkannya peserta lomba Essay yang diikuti dengan pemberian hadiah beserta sertifikat penghargaan. Diharapkan dengan dilaksanakannya rangkaian acara Goresan Pena Sosial ini dapat memberikan edukasi kepada para mahasiswa akan pentingnya berpikir kritis terhadap fenomena dan permasalahan yang ada di masyarakat yang kemudian dapat diikuti dengan melakukan sebuah usaha untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Opini

Seni Itu Mesti Hidup Bebas di Dalam Hati, Pikiran dan Lapas!

Oleh: Nabil

Seni itu membebaskan! itulah kata yang tepat untuk pemberdayaan yang dilakukan oleh Himasigi dalam rangka Sociology Anniversary. Tidak seperti Sociology Anniversary di dua tahun sebelumnya yang melakukan pemberdayaan pada Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA), Sociology Anniversary 2019 memberikan nuansa baru terkait subjek yang diberdayakan yaitu narapidana. Pemberdayaan yang berlokasi di Lapas 1 Lowokwaru dilakukan pada dua tahap tepatnya pada tanggal 21 dan 28 September 2019. Tujuan dari pemberdayaan ini adalah membangun kembali semangat hidup mereka melalui pengekspresian diri.


Sebagai seorang tahanan, tentunya para narapidana tidak dapat mengekspresikan dirinya secara utuh karena di dalam lapas terdapat aturan yang mengikat dan juga kontrol dari para sipir. Mereka yang terjerat kasus hukum akan diasingkan dari “dunia luar” untuk batas waktu yang telah ditentukan. Pemberdayaan bukan hanya memberikan kesan pada subjek pemberdayaan, tetapi juga si pelaku pemberdayaan. Dari keterlibatan itu, saya mendapatkan pengalaman yang unik. Jika saya narasikan, kira-kira begini kisahnya:
Saya melihat sebuah hal unik terjadi yaitu pada saat seorang narapidana sedang berbicara di depan audience, mengucapkan jokes ringan untuk mencairkan suasana. Sesaat kemudian, ia berhenti mengucapkannya karena ternyata saya melihat ada seorang petugas dari lapas yang mengepalkan tangannya ke atas dan mengisyaratkan sesuatu. Menurut saya, itu merupakan sebuah simbol peringatan. Setelah saya telusuri runtutan peristiwanya, baru saya sadari bahwa petugas lapas tersebut menghentikan jokes yang dilakukan oleh seorang narapidana tadi karena dinilai sudah keterlaluan dalam berpendapat. Saya menangkap poin lain yang disajikan secara tersirat yaitu kebebasan yang dikleim sebagai salah satu hal yang difasilitasi oleh pihak lapas masih bersyarat. Bebas yang masih ada standarnya. Apakah tetap namanya bebas? Tapi syukurnya cukup ditegur dan tidak dipenjarakan kembali atau disiram water cannon.


Saya mengulik dan sedikit “menguping” pembicaraan yang dilakukan antara pelaku pemberdayaan dan seorang napi (pasti setiap volunteer melakukan bonding dengan narapidana *deeptalk) menurut keterangan narapidana, mereka mencoba menyesuaikan diri dengan kehidupan di dalam lapas. Cara yang dilakukan juga beragam tetapi salah satunya adalah seni. Seni menjadi media yang digunakan narapidana untuk mengekspresikan semua yang ada dipikirannya. Dalam acara pemberdayaan tersebut narapidana memperlihatkan kebolehannya dalam bermain musik, menciptakan lagu, membuat kerajinan tangan seperti kaos dan lukisan yang berisi gambar juga kata-kata keluh kesah. Beragamnya karya yang dihasilkan tersebut tidak semata-mata mengekspresikan apa yang ada di dalam pikiran narapidana. Lagi-lagi ini soal kontrol dari para sipir.


Sebelum hasil karyanya ditampilkan, isi karyanya dipilah terlebih dahulu oleh pengawas lapas untuk melihat mana yang boleh dipertunjukan dan mana yang tidak. Karya yang tidak boleh dipertunjukan adalah karya yang mengandung kata-kata kasar, terlalu bebas dan menyalahi norma. Misalnya seperti seorang napi yang dikritik oleh petugas lapas dan meminta agar lirik lagu buatannya diganti dengan kata lain karena dianggap provokatif dan kurang baik padahal menurut narapidana penciptanya, lagu tersebut hanya berisi kata-kata kiasan sarkas yang memang berasal dari dalam hatinya. Aneh memang jika diksi saja diatur sedemikian rupa, terlebih lagi seni itu soal makna. Tentu saja, maknanya bukan milik sipir tapi milik narapidana. Jelas si sipir tidak paham dan ga jago nyarkas! Aku kira si sipir ini asik, ternyata kaku 


Ada hal lain yang dapat saya tangkap mengenai kebebasan aspirasi warga binaan di lapas tersebut selama beberapa kali kunjungan saya. Saya melihat bahwa narapidana yang mayoritas merupakan tahanan kasus penyalahgunaan narkoba menginginkan dan sepakat untuk memperjuangkan legalitas ganja di Indonesia. Para narapidana tersebut menganggap bahwa ganja adalah ciptaan Tuhan yang dikirimkan ke bumi dan pasti setiap ciptaan Tuhan tersebut memiliki kebermanfaatan. Pikiran-pikiran tersebut mereka tuangkan langsung lewat lagu, salah satunya berjudul “legalitas” dan sablon kaos yang bergambar daun ganja. Saya sangat mengapresiasi setiap karya yang diciptakan oleh warga binaan karena di tengah aturan dan hukuman, mereka tak membiarkan diri mereka sepenuhnya dibatasi, salah satunya dengan membiarkan pikiran mereka terus berkembang dan tangan yang terus menciptakan kebajikan.