Artikel Program Kerja: Pra Studi Ekskursi

Studi ala HIMASIGI
Oleh Ilham Nazri dan Raihan Hikmatullah Adizah
Studi Ekskursi adalah program tahunan yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Sosiologi (HIMASIGI) FISIP Universitas Brawijaya. Studi Ekskursi sendiri adalah sebuah program studi kunjungan atau biasa disebut juga dengan studi banding. Tujuan utama Studi ekskursi ini adalah untuk lebih mengenal budaya jurusan Sosiologi di luar Universitas Brawijaya sekaligus belajar dan mencari poin positif yang kiranya dapat diterapkan di dalam Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya. Selain itu studi ekskursi ini bertujuan untuk dapat meng-edukasi mahasiswa sosiologi dan diharapkan juga bisa untuk menambah memperkuat ikatan relasi.
Studi Ekskursi ini akan dilaksanakan pada tanggal 22 November 2019 sampai 24 November 2019, yang dimana Solo (Universitas Sebelas Maret) dan Yogyakarta (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga) akan menjadi tujuan studi ekskursi tahun ini. Studi ekskursi yang dilaksanakan pada tanggal 22 – 24 November 2019 ini dilaksanakan pada hari libur agar tidak mengganggu jadwal kuliah mahasiswa. Adapun alasan lain mengapa tanggal 22 – 24 November 2019 dipilih, yakni karena tanggal tersebut tepat sebelum berakhirnya kepengurusan HIMASIGI Umiversitas Brawijaya periode 2018/2019.
Nasher Hamdani selaku ketua pelaksana Studi Ekskursi 2019, menyatakan alasan mengapa studi ekskursi tahun ini akan bertolak ke Universitas Sebelas Maret dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, karena HIMASIGI terhimpun sebagai jaringan mahasiswa sosiologi di pulau Jawa atau yang biasa disebut JMSJ (jaringan mahasiswa sosiologi se-Jawa), oleh karena itu seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa tujuan dari SE ini yaitu untuk lebih mengenal jurusan Sosiologi yang ada di luar Universitas Brawijaya dan diharapkan juga dapat menjalin dan memperkuat relasi karena kedua Universitas tersebut memang belum pernah dikunjungi oleh HIMASIGI Universitas Brawijaya. Dengan adanya kunjungan ke kedua universitas tersebut diharapkan dapat memperkuat lagi ikatan antara HIMASIGI Universitas Brawijaya dengan himpunan Sosiologi di kedua universitas tersebut. Studi ekskursi tahun ini tidak berbeda dengan tahun sebelum – sebelumnya yang berkunjung untuk have fun sambil belajar tanpa ada tugas yang membebani peserta SE ini.
Studi Ekskursi yang dilakukan HIMASIGI Universitas Brawijaya tidak hanya melakukan studi banding dan kunjungan ke universitas – universitas di atas, tetapi juga dalam SE tahun ini peserta akan mengunjungi sejumlah tempat wisata yang berada di Yogyakarta, diantara-nya yaitu Lava Tour, Malioboro, Tebing Breksi, dan Museum VreDebrug. Mahasiswa yang mengikuti SE tahun ini dapat menikmati destinasi wisata tersebut dengan tarif yang cukup terjangkau. Mahasiswa/i peserta SE ini cukup membayar Rp. 550.000 untuk bisa mendapatkan akomodasi berupa bus shd, makan 3x sehari, menginap di hotel bintang 3, dan tiket destinasi wisata secara all in tanpa dipungut biaya tambahan.
Ketua pelaksana juga menambahkan perbedaan pada SE tahun ini dengan tahun sebelumnya, yaitu dimana SE tahun ini relatif terbilang lebih murah dibandingkan tahun lalu karena pada SE tahun lalu, HIMASIGI Universitas Brawijaya hanya mengunjungi Universitas Negeri Jember dan dinas pariwisata Banyuwangi dengan biaya diatas Rp. 600.000. Berbeda dengan SE tahun ini yang memiliki tujuan destinasi wisata lebih banyak dengan biaya yang harus dikeluarkan lebih sedikit. Selain itu, ketua pelaksana SE tahun ini menambahkan bahwa peserta SE tahun ini merupakan rekor peserta terbanyak daripada peserta tahun – tahun sebelumnya yakni total 50 orang dengan rincian peserta terdiri dari 4 angkatan, 50% dari angkatan 2019, 10% dari angkatan 2018, 24% dari angkatan 2017, dan 16% dari angkatan 2016.

Artikel Program Kerja: Pasca Anniversary Sociology 2019

PANJANG UMUR SOSIOLOGI !!
Oleh Gustam dan Faiz

Panjang Umur Sosiologi !! Bisa dikatakan sebagai sebuah representasi dari rasa gembira dan juga rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Jumat, 1 November 2019 menjadi hari spesial bagi jurusan Sosiologi Universitas Brawijaya. Kenapa bisa dikatakan spesial? karena pada hari itu bertepatan dengan hari jadi Sosiologi ke-15 yang di elenggarakan di Oura Cafe. Adapun tema yang diusung kali ini seperti yang diungkapkan oleh Candhika Setiawan Putra selaku ketua pelaksana yaitu Dari segala penindasan, kami tetap bertahan. Rangkaian awal dari Anniversary Sociology 2019 adalah dilaksanakannya pemberdayaan dengan media musik reggae kepada narapidana lapas kelas 1A Lowokwaru. Pemberdayaan tersebut dilakukan untuk mengubah stigma masyarakat terkait pandangannya terhadap para narapidana. 
Dalam rangkaian acara puncak Anniversary Sociology 2019 menyajikan penampilan musik, teater dan pemutaran video dokumentasi pemberdayaan di lapas. Acara ini juga dihadiri oleh berbagai elemen seperti Dosen, Mahasiswa,dan Alumni. Walaupun dalam pembukaan acara mengalami keterlambatan karena cuaca yang tidak bersahabat, acara tetap berjalan dengan sebagai mana mestinya. 
Dibalik kemegahan acara Annivsocio2019, terselip cerita suka duka yag menjadi bumbu pewarna keberlangsungan acara tersebut. Candhika menuturkan bahwa duka terbesar yang dihadapi dalam kepanitiaan adalah divisi logistik. “Jujur gue merasa sedih banget sama anak logistik, secara fisik maupun mental terlihat banget anak-anak divisi logistik yang paling capek. Walupun kepantiaan udah membuat rundown yang menyesuaikan biar logistik ga terlalu capek, tapi tetep aja logistik yang paling kena imbasnya”. Namun di balik semua itu, Candhika juga mengatakan dirinya tidak menyangka antusiasme dan euforia penonton pada hari itu sangat meriah.
Euforia penonton semakin terasa ketika malam semakin larut. Dimulai dari penampilan On Project yang mengajak penonton untuk berdendang bersama, Arek Raggae Malang yang membawa penonton menari mengikuti lantunan musik reggae, Roda Tiga yang menyuguhkan musik rock yang kental, dan penampilan band kebanggaan sosiologi yaitu Socikoclogy. Di sela-sela penampilan Socikoclogy, dilaksanakan pula sesi syukuran dengan pemotongan nasi tumpeng yang di wakilkan oleh Ketua Pelaksana Anniversary Sociology 2019 dan juga Ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya sebagai bentuk rasa syukur bertambahnya umur Jurusan Sosiologi Universitas Brawijaya. Tak sampai disitu, penampilan Wake Up Iris! sebagai penutup rangkaian acara Anniversary Sociology 2019 menjadi penenang setelah bernyanyi dan berdendang bersama dari semua penampil sebelumnya.
Diakhir acara Candhika selaku Ketua Pelaksana memiliki harapan kepada teman-teman Sosiologi Universitas Brawijaya. “Jangan terlalu normatif, seharusnya bisa melawan arus utama dan jangan sampai di standarisasi oleh norma dan nilai sosial yang ada kecuali sudah paten budaya tradisinya. Harus sebisa mungkin melawan arus utama itu sudah keren dan berani kalau sekiranya begitu”. Dirinya juga menyampaikan pesan untuk kepanitiaan selanjutnya “Jangan sampai konsep pemberdayaan hilang, konsep ini harus berkontiniu dari tahun ke tahun,” tutur Candhika. Sekali lagi, Panjang Umur Sosiologi !!.

Press Release Kajian

Program Kerja kajian Legalitas Ganja: Paradok in The War of Drugs
Pada tanggal 22 Oktober 2019 telah dilakukan diskusi bersama yang bertempat di gazebo A di depan Gedung A FISIP. Diskusi diperuntukkan bagi umum sehingga siapapun dapat mengikuti kegiatan tersebut. dikusi membahas mengenai legalitas ganja yang saat ini sedang menjadi topik panas di kalangan masyarakat Indonesia. Legalitas ganja menjadi hal yang penting untuk dibahas karena bagaimanapun Indonesia merupakan salah satu negara yang melarang peredaran dan penggunaan ganja, sehingga pelegalan ganja yang sempat menjadi wacana menjadi Gerakan yang banyak memiliki pro dan kontra di kalangan masyarakat Indonesia.
Di lansir dari Kumparan.com (Duhita, 2017) mengatakan bahwa di Indonesia, ganja merupakan salah satu tanaman yang digolongkan sebagai narkotika golongan I, bersama dengan zat seperti heroin, kristal meth atau sabu. Pada dekade kisaran 1960an, ganja akhirnya dicap ilegal oleh pemerintah. Namun, walaupun terlarang, ganja nyatanya merupakan zat terlarang yang digunakan oleh sekitar dua juta pengguna pada tahun 2014. Aturan hukum terkait ganja seimbang dengan aksi pelanggaraan hukum terkait heroin, terlepas dari berbagai argumentasi bahwa ganja tidak berbahaya. Pemakaian ganja memang mampu membawa dampak baik untuk kesehatan. Namun, sayangnya, pandangan masih kerap lebih banyak menyoroti dampak buruk yang terjadi bila seseorang menikmati ganja. Masyarakat Indonesia dalam melihat ganja sebagai sesuatu yang tidak boleh didekati karena dapat membuat orang hilang “kesadaran”. Ganja dan sejenisnya dianggap dapat memberikan dampak buruk kepada orang-orang yang menghirupnya. Padahal negara-negara lain yang lebih maju dari Indonesia telah memberikan pelegalan pada ganja terkait penggunaannya dalam bidang farmasi. Hal ini juga dipengaruhi bahwa mayoritas masyarakat Indonesia mempercayai islam sebagai agamanya. Sehingga aturan-aturan yang ada di Indonesia begitu di dominasi oleh ajaran-ajaran agama islam. Salah satunya adalah mengenai penggunaan benda-benda atau hal apapun yang dapat mendorong manusia hilang akal dan tidak memiliki kesadaran dalam sementara waktu. Ajaran ini diamini oleh hampir sebagian besar oleh masyarakat Indonesia yang menyetujui bahwa ganja dan narkotika jenis lainnya dapat merusak generasi muda Indonesia. Namun di sisi lain, ganja yang dianggap sebagai obat yang dapat merusak generasi muda pada kenyataanya juga memiliki peran besar dalam bidang farmasi dan kedokteran. Ganja dalam bidang kedokteran dan farmasi biasa digunakan sebagai obat bius atau obat penenang kepada pasien. Ganja dalam kadar tertentu justru menjadi obat, bukan menjadi racun. Hanya saja, masyarakat Indonesia lebih sering menyalah gunakan penggunaan ganja. Lantas dari sini, sebenarnya bukan salah ganja apabila dia menjadi racun melainkan salah individunya sendiri yang tidak bijak dalam penggunaannya. Mungkin saja masyarakat Indonesia yang kurang cerdas dalam hal-hal seperti itu. Mereka belum sepandai masyarakat luar yang dapat mengolah ganja sebijak mungkin. Atau bisa saja pemerintah yang memang menghalangi masyarakatnya dalam mempelajari fungsi ganja yang sebenarnya. Buktinya ganja sebenarnya sudah sangat mudah untuk di dapatkkan bahkan dengan kisaran harga yang sangat murah. Lalu sebenarnya pelegalan ini berletak pada hal apa? Jika pada pelegalan peredaran ganja, selama ini ganja sudah dapat di konsumsi oleh masyarakat dan mudah di dapatkan dengan harga terjangkau. Atau pelegalan pada pandangan masyarakat mengenai ganja bahwa sebenarnya ganja dapat dikonsumsi dan menjadi obat jika dikonsumsi dengan batas-batas tertentu.
Pelegalan ganja akan mengalami kontra dan perdebatan yang panjang selama dari masyarakat dan pemerintah tidak memiliki sinkronisasi dalam berpikir. Sebelum adanya wacana atas pelegalan ganja, ganja sudah terlebih dahulu berada dalam perdebatan ketika ganja memiliki dampak yang buruk pada kesehatan individu. Pemerintah selalu mengatakan bahwa ganja tidak boleh dikonsumsi, bahwa ganja memiliki dampak yang buruk pada masyarakat. Cara yang digunakan oleh pemerintah sendiri hanya sebatas advokasi dan seminar-seminar mnegenenai narkotika dan bahaya mengonsumsinya. Tapi pemerintah lupa bahwa, masyarakat (individu) lebih tahu-menahu mengenai kondisi tubuhnya dan batas lemah yang dapat tubuhnya terima. Sehingga dari hasil diskusi terbuka yang dilakukan oleh kami menyimpulkan bhawa apabila wacana pelegalan ganja ingin dilaksanakan, maka yang pertama harus dilakukan adalah penyingkronisasian pemikiran antara masyarakat dan pemerintah. Pemerintah harus menyadari bahwa masyarakat Indonesia tidak sepintar masyarakat luar yang dapat mengolah ganja sebijak dan secerdas mungkin. Begitupun masyarakat juga harus menyadari bahwa ganja tidak sepenuhnya memberikan dampak negatif bagi kesehatan, tetapi tidak memungkinkan juga ganja tidak memiliki dampak positif bagi kesehatan.

Reference
Duhita, S. (2017, maret jumat). Pro-Kontra Legalitas Ganja di Indonesia. Retrieved from Kumparan: https://kumparan.com/maria-duhita/pro-dan-kontra-ganja-di-indonesia