Opini

Bemelodi dengan Arus Informasi
Oleh : NS Pertiwi

Awal sekaligus akhir tahun yang penuh dengan drama dunia maya membuat sepanjang berita yang muncul dengan segala headline didalamnya menuai banyak perbincangan publik sekaligus masa pencarian objek pelampiasan masyarakat, karena telah muak dengan informasi yang masuk. Bagaimana tidak?, Derasnya berita yang muncul, hampir semua terkait dengan informasi terkini seputar kerusakan, kegagalan, kecurigaan, kecelakaan, bencana, penyakit dan seputar kabar buruk saja yang kemudian dikemas dalam bentuk pemberitaan dan dipertontonkan sebagai konsumsi publik. Ketidaksiapan masyarakat golongan tertentu dalam menerima dan menangkap informasi yang masuk menjadi salah satu penyebab semakin kuatnya strata yang merujuk pada ketidak setaraan penerimaan informasi. Ketidak setaraan dalam menerima informasi dalam masyarakat ini lah yang pada dasarnya akan menyebabkan munculnya pro-kontra. Bukan masalaha besar jika pro dan kontra ini tidak menjadi konflik yang berkepanjangan dan menimbulkan rasa ketidak percayaan, namun kembali lagi pada realitas ke-Indonesiaan ini ‘apakah kemudian masyarakat kita siap untuk menjadi masyarakat yang profesional dalam mengolah informasi beserta arusnya?’.
Alih-alih menjadi warga negara yang informatif, ketidak siapan itu justru seakan-akan membuat kita tampak acuh atas informasi tersebut dengan cara mencari pelampiasan atas berita-berita tidak mengenakkan yang masuk. Hal ini dapat dilihat dengan cara ‘netizen’ yang mencoba menumpuk atau dalam bahasa halusnya mengalihkan berita dan informasi tersebut dengam cara memunculkan headline-headline lain yang dianggap lebih menghibur dan dapat dinikmati, salah satunya adalah headline yang diciptakan oleh mereka yang dikenal dengan sapaan ‘sobat ambyar’. Selain pesatnya perkembangan ‘#Ambyar’ (hastag ambyar) tersebut, kembali viralnya penggunaan aplikasi tt juga berpengaruh dalam perkembangan arus berita yang masuk sebagai alternatif warga net mengambil sikap ketika menghadapi berbagai hantaman kabar buruk. Headline yang terkenal dengan ‘#Ambyar’ (hastag ambyar) dan kembali viralnya penggunaan aplikasi tt ini menjadi salah satu bentuk pelampiasan warga net dalam menerima dan mengolah banyaknya informasi negatif yang masuk karena ketidak siapan mereka yang berujung pada ketidak setaraan penerimaan informasi. Ketidak setaraan penerimaan informasi yang merujuk pada strata dalam penerimaan dan pengolahan informasi seperti ini merupkan sebuah hal yang seharusnya dihindari namun tidak bisa dipungkiri. Dan ironisnya tidak ada yang bisa, dan tidak ada pula yang perlu disalahkan dalam menghadapi fenomena demikian. Hanya saja, dengan melanggengkan hal ini tentu akan melestarikan pemeliharaan arus informasi yang tidak pasti.
Headline sobat ambyar dan kembali viralnya penggunaan aplikasi tt ini merupakan salah satu cara warga net menghibur diri atas derasnya arus informasi yang masuk secara bertubi-tubi dan menimbulkan kecurigaan serta kekhawatiran. Namun sangat disayangkan ketika headline ini muncul dan dipergunakan oleh beberapa oknum tertentu untuk sengaja menghapus berita dan informasi yang kemudian muncul sebagai permasalahan baru yang seharusnya menjadi sebuah hal urgent dan lebih penting untuk segera dicarikan solusinya. Permaslahan-permasalahan tersebut perlu diperhatikan karena memang memprihatinkan, seperti halnya lambatnya deteksi virus *a yang belum tau disebabkan oleh kelalaian siapa, kasus agama musuh terbesar pancasila dan lain sebagainya yang menimbulkan banyak pro dan kontra dan bahkan perdebatan berkepanjangan. Hal-hal tersebut sebenarnya dapat diminamalisir ketika arus informasi yang masuk adalah informasi satu arah (tidak ada strata penerimaan informasi), jelas dan dapat dipertanggung jawabkan oleh pihak manapun, baik pihak yang mengeluarkan maupun pihak yang menerima. Sehingga media dan arus informasi yang datang maupun keluar tidak semata-mata menjadi sebuah alunan melodi yang dapat dinikamati saja namun bisa menjadi sebuah alunan bersajak retorika yang solutif.

Book Of The Month

Resensi Buku

Dunia Anna
Penulis : FR

Tuhan menciptakan dunia berserta isinya, tetapi tuhan juga mengetahui bagaimana dunia akan berakhir. Bagaimana bentuk dan kapan dunia berakhir, masih menjadi misteri hingga saat ini yang terus muncul di benak setiap orang di dunia.

            Pada buku ini, diceritakan oleh seorang perempuan bernama Anna. Latar terjadinya dalam cerita ini cukup kompleks dan bila mengikuti dan membaca hingga akhir akan terlihat mudah dipahami. Anna dalam buku ini hanyalan gadis biasa yang hidup di daerah perdesaan. Hal yang paling menarik perhatian Anna adalah berita-berita dunia seperti pemanasan global atau “Global Warming” dan perubahan iklim. 2 hal tersebut yang menjadi pusat perhatian anna dalam buku ini.

            Di sisi lain ada gadis yang bernama Nova yang situasi latar yang cukup unik dari latar seting Anna, yaitu Nova berada pada tahun 2082… benar nova berada di waktu yang berbeda dengan Anna. Scenario yang tergambar di zaman Nova berada pada zaman dimana scenario terburuk problematika alam seperti Pemanasan Global dan Perubahan Iklim berada pada titik dimana scenario terburuknya.

            Seiring berjalannya cerita, perlahan-lahan buku ini akan membawa pembaca dimana 2 gadis tersebut Anna dan Nova dipertemukan. Itulah momen dimana pembaca akan mengetahui bila Nova adalah cucunya Anna. Bila latar waktu Nova berada pada tahun 2082 artinya yang di dapat oleh Anna mengenai berita-berita alam pada masanya menjadi kenyataan dan berkembang menjadi sebuah bencana di masanya Nova.

            Kesimpulan sederhananya, buku ini menjelaskan bila segala tindakan yang dilakukan pada saat ini juga mampu memberi pengaruh kepada masa mendatang.

Kelebihan dan Kekurangan buku ini:

Kelebihan, Buku ini mengajarkan kepada pembaca untuk berpikir panjang dan menerapkan rasionalitas. Artinya setiap tindakan yang diambil akan memberi dampak pada masa depan.

Kekurangan, Perpindahan antar karakter dalam buku ini cukup sering sehingga pembaca termasuk penulis sulit mengaitkan seting karakter ketika cerita berlangsung kembali.

Buku ini sangat menarik apabila pembaca ingin belajar mengenai Ilmu filsafat dari tingkat yang mudah.

Penulis: Jostein Gaarder, (Penulis Dunia Sophie)

Judul Buku: Dunia Anna

Jumlah halaman: 248

Movie Of The Month

Judul Film : Ford v Ferrari

Genre : Action, sport, biografi, dan drama

Sutradara : James Mangold

Oleh Rahman

Ford v Ferrari adalah sebuah film kisah nyata yang mengisahkan ambisi dari Ford Motor Company, dipimpin oleh Henry Ford II (Tracy Letts) untuk mengikuti ajang balap 24 Hours of Le Mans untuk mengalahkan Ferrari setelah di tolak oleh Enzo Ferrari untuk menjual perusahaan kepadanya. Henry Ford II tanpa berfikir panjang, ia memerintahkan Lee Lacoca (Jon Bernthal) untuk membuat tim balap yang akan menyaingi Ferrari nantinya. Lee Lacoca langsung menghampiri Caroll Shelby (Matt Damon) untuk mengajak Shelby untuk membentuk tim balap dalam ajang 24 Hours of Le Mans tahun 1966 yang pada saat itu Shelby sudah pensiun dari dunia balap dan mempunyai perusahaan Shelby American Inc. sebagai juara 24 Hours of Le Mans pada tahun 1959, Caroll Shelby sangat mengerti bahwa jika ingin memenangkan balapan seperti 24 Hours of Le Mans, harus mempunyai seorang pembalap yang sangat mengerti mobil. Ken Miles (Christian Bale) menjadi salah satu pembalap yang diinginkan Caroll Shelby dalam ajang balap 24 Hours of Le Mans, karena Caroll Shelby sudah melihat Ken Miles dalan mengemudi sebuah mobil dan membangun sebuah mobil balap dalam tim Shelby American. Istri dari Ken Miles, Mollie Miles (Caitriona Balfe) sempat tidak setuju saat Ken Miles pergi dengan Caroll Shelby melihat mobil balap yang akan digunakan untuk balapanan nantinya. Tetapi setelah perdebatan dalam mobil, Ken Miles membuat istri berubah pikiran saat ia memberi tahu gaji yang akan diberikan oleh Ken Miles. Selama masa perancangan mobil balap, ada beberapa kendala yang menghambat Ken Miles untuk menjadi pembalap di karenakan menurut Leo Beebe (Josh Lucas), Ken Miles tidak menggambarkan sesuai pasar Ford Company, alhasil Ken Miles sempat tidak mengikuti balapan yang di adakan sebelum 24 Hours of Le Mans. Caroll Shelby tidak diam karena kejadian ini, ia mengajak Henry Ford II untuk ke dalam mobil balap yang akan digunakan dan membujuk agar Ken Miles bisa mengikuti ajang balap 24 Hours of Le Mans. Setelah melakukan beberapa perbandingan, akhirnya Henry Ford II mengabulkan permintaan dari Caroll Shelby dan akhirnya Ken Miles ikut menjadi pembalap Shelby American. Dalam selama balapan berlangsung tim Shelby American yang sempat dikemudikan oleh Ken Miles, sempat saling salip menyalip antara tim Ferrari yang dikemudikan oleh Lorenzo Bandini (Francesco Bauco) yang merupakan harapan terakhir dari tim Ferrari. Sempat terjadi ketegangan antara Ken Miles dengan Lorenzo Bandini, akhir tim Ferrari terpaksa harus kalah dikarenakan terjadi kerusakan mesin di mobil Lorenzo Bandini. Karena ini Tim Shelby American sempat unggul, tetapi ia harus menunggu tim Ford Company lain untuk finish secara berbarengan yang akhirnya Ken Miles tidak mendapatkan juara dalam ajang balapa 24 Hours of Le Mans 1966. Setelah satu tahun berlalu, Ken Miles menutup umurnya diakibatkan kecelakan yang parah dan membuat mobil Ken Miles saat dilakukan tes itu meledak. Film ini meraih 2 piala Oscar dalam penghargaan “Best Achievement in Film Editing” dan “Best Achievement in Sound Editing”. Setelah melihat film ini yang saya dapatkan dimana adanya pengalaman yang banyak dapat membuahkan hasil yang nanti tidak akan sia-sia dan kemenangan bukan lah segalanya, yang terpenting adalah kita bisa merasakan pengalaman tersbut yang pastinya tidak akan bisa kita ulang kembali.

Bicara Dengan Semesta

KETIKA UNIVERSITAS TAK RAMAH DISABILITAS

Manusia memiliki hak dan kewajiban yang senantiasa menjadi suatu kebutuhan yang melekat dalam diri manusia, terutama kebutuhan hak yang mana manusia akan berusaha untuk memenuhi hak mereka. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 telah menjelaskan tentang tujuan dari terbentuknya Indonesia, salah satunya adalah untuk memajukan kesejahteraan umum. Amanat tersebut mengandung sebuah makna yang mana negara memiliki kewajiban untuk mensejahterakan kehidupan setiap warga negaranya dengan penyelenggaraan pelayanan publik. Pelayanan publik itu sendiri menurut UU 25 Tahun 2009 adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang- undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Pemerintah pada hakekatnya adalah pelayan dari masyarakat, karena itu pemerintah berkewajiban untuk memenuhi dan memberikan pelayanan yang baik kepada rakyatnya.

Perlindungan dan jaminan hak tidak hanya diperuntukan kepada warga negara yang memiliki kesempurnaan fisik dan mental. Perlindungan ini juga perlu ditingkatkan bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, yang mana mereka juga memiliki hak yang sama dengan kita. Disabilitas di dalam UU No. 8 tahun 2016 Pasal 1 ayat (1) menjelaskan bahwa “setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental dan/ sensorik dalam jangka waktu yang lama yang dalam berinterkasi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dalam dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak”[1].  Hal ini jelas bahwa masyarakat disabilitas memiliki kesamaan hak dengan warga negara lain tetapi mereka tidak dapat mengoptimalkan hak mereka.

Penyandang disabilitas juga berhak mendapat fasilitas layanan publik, kesehatan, pekerjaan atau bahkan hak untuk mengakses pendidikan. Seperti yang kita ketahui bahwa para penyandang disabilitas dianggap sebagai “objek” perlindungan, mereka ditempatkan terpisah dengan masyarakat pada umunya seperti sekolah khusus yang kita kenal dengan SLB (Sekolah Luar Biasa), layanan kesehatan, transportasi dll[2]. Dalam hal ini mari kita memfokuskan pada akses pendidikan untuk para disabilitas terutama pada lingkungan kampus, penerapan kurikulum yang tepat, proses pengajaran yang baik dan fasilitas-fasilitas di lingkungan kampus perlu ditingkatkan, agar proses pendidikan berjalan efektif bagi mereka. Di Universitas Brawijaya terutama memiliki jalur masuk khusus bagi para penyandang disabilitas yakni Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD), hal ini telah memberikan kesempatan bagi para penyandang difabel untuk mengenyam pendidikan di ranah Perguruan Tinggi. Pemberian kesempatan ini seyogyanya diikuti dengan fasilitas dan layanan pendukung lainnya yang ramah difabel, seperti trotoar, tangga masuk gedung, tanjakan, bahkan toilet khusus untuk difabel. Fasilitas ini telah kita temui di lingkungan Univeritas Brawijaya, yang mana standar aksesibilitas jalur pemandu bagi penyandang difabel atau guiding block telah diterapkan, pembuatan toilet ramah difabel, dan tanjakan bagi pengguna kursi roda telah banyak kita temui.

Pembuatan fasilitas tersebut tidak hanya fokus pada pemberian fasilitas saja setelah itu tidak lagi diperhatikan , tetapi perlunya perawatan dan perhatian yang lebih pada fasilitas ramah difabel ini perlu ditingkatkan, seperti trotoar yang rusak dan berlubang yang dapat kita lihat di depan Fakultas MIPA dan Fakultas Ilmu Budaya, serta pembuatan guiding block yang memanfaatkan tekstur ubin pengarah bermotif garis-garis untuk memandu perjalanan yang mana belum diterapkan sepenuhnya di UB, pembuatan jalur pemandu bagi penyandang difabel hanya diterapkan di jalanan tertentu seperti Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Serta standar aksesibilitas jalur pendestrian yang digunakan untuk pejalan kaki atau berkursi roda belum ramah difabel, yang kita temui di lapangan masih banyak trotoar yang belum memiliki tanjakan untuk pengguna kursi roda hingga kondisi trotoar yang rusak dan berlubang sehingga tidak memungkinkan untuk dilewati oleh pengguna kursi roda.

Kenyataan di lapangan sangat memprihatinkan. Foto diatas membuktikan bahwa pemberian layanan dan pemenuhan hak bagi penyandang difabel belum sepenuhnya tercapai. Data menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa difabel di Universitas Brawijaya mencapai 139 mahasiswa. Sebuah angka yang tidak sedikit, tetapi tidak sebanding dengan tidak optimalnya sarana dan prasarana sebagaimana yang mereka butuhkan. Bahkan, di beberapa tempat seperti pada foto diatas, belum difasilitasi dengan guiding block dan jalan untuk kursi roda sudah berlubang sehingga menyulitkan aksesibilitas untuk penyandang disabilitas. Kami berharap, dengan adanya tulisan ini mampu “membuka mata” kepada pihak terkait, bahwa sarana dan prasarana penyandang disabilitas masih sangat kurang khususnya di lingkungan Universitas Brawijaya. Kita harus kembali kepada tujuan negara sesuai apa yang ada di dalam pembukaan Undang Undang Negara Republik Indonesia tahun 1945 alinea keempat yaitu memajukan kesejahteraan umum, dimulai dengan “membuka mata” terhadap mereka, para penyandang disabilitas yang masih membutuhkan kesejahteraan berupa sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan mereka sehari-hari.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia itu wajib hukumnya, bukan Cuma untuk yang “normal” saja.

-Bidang Penalaran & Literasi Departemen PSDM-


[1] Shaleh, Ismail. 2018. Implementasi Pemenuhan Hak Bagi Penyandang Disabilitas Ketenagakerjaan Di Semarang. Kanun Jurnal Ilmu Hukum. Vol 20. No 1. Hal 64

[2] Tarsidi, Didi. 2012. Disabilitas Dan Pendidikan Inklusif Pada Jenjang Pendidikan Tinggi. Telaah Disabilitas Dan Pendidikan Inklunsif. Vol 11. No 2. Hal 145