Opini: Kesetaraan Atau Kesamaan Gender Oleh A Sep

Jadi akhir-akhir ini aku punya hobby baru buat jadi perempuan beneran, karena kata mereka sih aku “kurang cewek”. Sekarang makin aku menyelami hal-hal berbau perempuan, makin aku sadar bahwa jadi perempuan itu bukan dari tampilan fisik tapi dari hati dan akal budi. Nah terus aku nemuin secercah cahaya (yaelah) namanya Equality Gender. Beruntungnya lagi equality sohib banget sama Feminisme, isme yang butuh perjuangan besar buat exist di negeri patriarki ini.

Lalu obrolan tentang kesetaraan gender pun di mulai, dari pas di warkop sebelum corona menyerang, chatan random malem-malem, sampai-sampai pas nongski online di g**gle meet setelah ngerjain UAS teori yang subhanallah bikin tegang satu angkatan dan pas banget di malem jumat. Random emang teman-temanku ini. Dengan ampas UAS yang masih anget di otak, tiba-tiba muncul pertanyaan:

Kenapa ada gerbong khusus wanita di KRL?

Katanya kesetaraan gender, tapi kok ngebelainnya cewek doang?

Kalo di sosmed cewek centil ke cogan boleh, tapi giliran cowo kok dibilang pelecehan?

Mungkin ga sih gerakan feminis yang sekarang malah mendominasi balik, gantiin patriarki?

Aku bakal coba bahas di sini karena belum semua pertanyaan mereka terjawab, walau sedikit ngampas, dengan ngejawab perosalan yang paling dasar. Apa bedanya kesetaraan dan kesamaan gender?

Kesetaraan itu memperjuangkan sesuatu sesuai porsinya, koridornya, untuk mendapat kesempatan yang sama dan menjadi dirinya sendiri tanpa paksaan atau diskriminasi oleh orang lain dalam memenuhi hak dan kewajibannya, jadi adil. Sedangkan kesamaan cenderung membagi sesuatu secara rata, tidak memandang porsi dan kebutuhan masing-masing. Ibaratnya pake baju gimanapun bentuk tubuhmu akan dikasih ukuran L semua, padahal belum tentu pas. Sampe sini faham?

Yaudah yuk lanjut, jadi kenapa di KRL ada gerbong khusus perempuan? Yuk balik lagi ke paragraf sebelumnya, kan kesetaraan sesuai porsinya. Contohnya ibu hamil, ibusui, atau membawa anak kecil. Kebayang ga sih kalo di kereta desak-desakan mereka ga dapat tempat duduk? Apalagi kalo ketemu orang yang pura-pura tidur kalo dikodein buat ngasih kursi prioritasnya, rasanya pengen dihantam biar sekalian ga bangun lagi. Oh iya jangan lupa sama perempuan yang lagi datang bulan. Nggaksembarangan loh ya sakitnya, awas aja kalo pas baca ini bilang “yailah cowo kan juga sunat, sakitan mana?”. Kene tak tapok cangkemu! Coba aja kamu rasakan sunat tiap bulan. Itulah makanya kesetaraan sesuai porsinya, bukan berarti perempuan lemah dan laki-laki kuat, atau malah bilang laki-laki kan juga lelah seharian kerja, masa duduk aja gaboleh.Terserah deh, no komen.

Lalu kaum-kaum kepala batu saat baca ini akan bilang, tuh kan bela cewek terus, double standard nih. Nanti dulu belum selesai Malih. Justru kesetaraan gender ini mendukung hilangnya standar maskulin dan feminim juga. Sadar nggak sih selama ini laki-laki juga dikendalikan standar patriarki? Laki-laki gak boleh menangis, harus kuat, agresif, maju duluan, dan kelihatan lebih “tinggi” daripada perempuan. Laki-laki dipaksa untuk gak boleh kalah supaya wibawanya gak jatuh di hadapan perempuan, memendam semua emosi sendirian. Kasihan. Jadi jika perempuan boleh jadi petinju, montir, atau bodyguard, maka laki-laki juga boleh jadi koki, desainer, atau MUA. Jika ibu boleh berkarier, maka ayah juga boleh jadi stay at home dad, why not?

Dan lagi yang terpenting, pada tiap korban kekerasan dan pelecehan seksual baik itu lelaki ataupun perempuan tetap harus mendapat perlindungan dan pertolongan yang terbaik. Begitupun pelaku pelecehan, dimulai dari catcalling seperti kasus di sosmed itu. Cowok-cowok yang berkomentar vulgar dinilai tidak pantas, begitupun cewek-cewek yang bilang “rahimku anget mas”, “sama dede aja yuk bang”, dan komentar sejenis yang udahlah ga usah dilanjutin nanti kalian gumoh wkwk. Hal seperti ini seharusnya juga tidak pantas diucapkan untuk menggoda laki-laki. Ada juga statement yang bilang perempuan diperkosa karena gabisa jaga diri, lalu gak berharga, sampah. Sedangkan laki-laki kalo diperkosa namanya rezeki. Gak gitu konsepnya Malih. Trauma gak kenal gender.

Jadi apakah dengan kesetaraan gender ini bakalan mendominasi balik patriarki? Mungkin iya, atau nggak. Jadi inget doi bilang ini sama kayak teori kelasnya Marx, kesetaraan intinya menciptakan dunia tanpa kelas dimana laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, atau sebaliknya. Tapi bagaimanapun suatu konsep, teori, atau bahkan isme pasti punya mazhabnya sendiri-sendiri. Kalo teori Marx yang dikembangkan Lenin bisa sebegitu kerasnya, maka Feminisme juga bisa jadi sebegitu kerasnya melawan patriarki. Tapi aku tetap percaya dan berharap layaknya Marhaenisme (Marxisme yang disesuaikan Bung Karno dengan kondisi Indonesia) maka feminisme juga disesuaikan dengan budaya Indonesia, kurang lebih kita udah pelajari itu sebagai emansipasi wanita ala Kartini. Jadi aku harap kembali pada tujuan awalnya untuk memperjuangkan keadilan gender, maka proses kesetaraan ini akan mendamaikan polemik laki-laki vs perempuan menjadi laki-laki dan perempuan.

Artikel Program Kerja: Buletin Vol. 13

[ BULETIN HIMASIGI VOL. 13 ]

– Covid x Kita –

Halo teman-teman sosiologi!👋🏻
Gimana kabarnya? Sehat? Sehat dong pastinya!😅

Buletin vol. 13 kali ini terbit dengan kumpulan-kumpulan karya dari teman-teman sosiologi. Buletin vol.13 mengusung tema seputar pandemi covid-19 yang menjadi perhatian khusus di tahun 2020.

Seperti apa buletin vol.13 kali ini? Penasaran kan? Yuk baca dan cek dibawah ini ya!😉🎉