Movie of The Month : Joker (Review oleh Farhan, Sosiologi 2018)

Judul: Joker

Sutradara: Todd Phillips

Genre: Thriller, Drama

Durasi: 2 Jam 2 Menit

Tahun Produksi: 2019

Rilis pada tanggal 4 Oktober 2019, film yang dibintangi oleh aktor-aktor ternama seperti Joaquin Phoenix sebagai aktor utama, Robert De Niro dan Brett Cullen ini menceritakan tentang seseorang bernama Arthur Fleck yang merupakan warga Gotham dimana hari-harinya selalu dipenuhi oleh kesialan dan juga masalah dimana-mana. Arthur, panggilan sapaannya juga diketahui memiliki penyakit kesehatan mental yang sering membuatnya tertawa sendiri sampai harus mengonsumsi obat-obatan untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut. Di sisi lain, Arthur juga merupakan seorang pekerja keras yang tidak menyerah meskipun harus di PHK berkali-kali dan juga merupakan seorang yang setia dan penyayang kepada ibunya sehingga sampai terjadi pada suatu kejadian yang merubah drastis kepribadian dan kehidupan Arthur.

Film Joker tersebut merupakan salah satu film paling laris di tahun 2019 yang juga menuai banyak pujian dari khalayak masyarakat dan juga mendapatkan popularitas dan rating yang sangat tinggi. Pemeran Joker yaitu Joaquin Phoenix juga dianggap sukses memerankan karakter Joker melebihi para pendahulunya seperti Jared Leto di film Suicide Squad (2016), Heath Ledger di film The Dark Knight (2008), Jack Nicholson di film Batman (1989), dan Cesar Romero di serial TV Batman (1966-1968).

Alur film ini diawali dengan kehidupan kota Gotham yang amat suram, konflik dimana-mana, dan suasana yang tidak aman bagi masyarakat. Arthur yang hidup hanya berdua dengan ibunya harus berjuang untuk tetap hidup di kota tersebut. Arthur mengisi hidupnya dengan menjadi badut di jalanan sampai badut di rumah sakit demi mecukupi kebutuhannya dan mencoba melewati rintangan dan ancaman yang muncul terhadap dirinya meskipun diselingi dengan penyakit kesehatan mental yang dialaminya. Sehingga pada suatu kejadian, dirinya menyadari bahwa dia tidak harus berpura-pura untuk bahagia dan juga menerima realita yang sebenarnya terjadi padanya. Film ini cukup berbeda dengan film-film dan komik yang dibintangi karakter Joker sebelumnya dimana diperlihatkan Joker yang terkesan “gila” justru di film ini Joker dibuat terlihat lebih tenang dan dingin tentunya dengan karakter psikopatnya. 

Dari segi cerita, alur serta penokohan, film ini sangat bagus untuk ditonton, tetapi film ini tentunya berlabel dewasa sehingga perlu didampingi orang tua bila menonton film tersebut dibawah umur. Sepanjang film tersebut kita akan disuguhkan adegan kekerasan dan adegan emosional yang dapat menggugah hati kita dan tentunya kita juga akan menemukan kejadian tak terduga di film Joker tersebut sehingga film ini semakin menarik untuk ditonton. Film ini juga banyak mendapat penghargaan sampai menyabet 11 Nominasi dan sang tokoh utama, Joaquin Phoenix juga sukses meraih penghargaan sebagai Best Actor sekaligus di Piala Oscar 2020.

Book Of The Month : “DISGUISED-Sang Penyamar” (Review oleh Shila, Sosiologi 2019)

Judul               : DISGUISED-Sang Penyamar

Pengarang      : Rita La Fontaine de Clercq Zubli

Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama

Kota Terbit    : Jakarta

Tahun Terbit : 2009

Tebal Buku    : 384 halaman

            Buku karya Rita La Fontaine de Clerq Zubli ini dituturkan berdasarkan kisah nyata kehidupan penulis pada saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda. Di dalam buku ini mengisahkan tentang seorang anak bernama Rita La Fontaine de Clerq Zubli yang harus melakukan penyamaran sebagai sosok anak laki-laki. Penulis mengangkat beberapa tokoh dalam karyanya yaitu ayahnya Victor, ibunya Paula, tantenya Tante Suus, dan kedua adiknya laki-lakinya yang bernama Ronald dan Rene. Perebutan kekuasaan terhadap Hindia Belanda yang dikuasai terlebih dahulu oleh Belanda membuat Jepang menggunakan strategi licik dengan menahan para keturunan Eropa termasuk Belanda. Rita sendiri merupakan seorang anak keturunan Indo-Belanda. Penahanan yang dilakukan oleh Jepang berlangsung cukup lama. Di dalam buku ini menceritakan bagaimana Rita dan beberapa tokoh lain yang turut ditawan bertahan dari perilaku bangsa Jepang. Cerita dari bab ke bab disampaikan dengan cukup baik dan terkesan memasukkan pembaca ke dalam dimensi masa itu. Penggunaan bahasa campuran berupa Belanda, Jepang, Indonesia serta beberapa istilah lain membuat buku ini tersaji dengan baik dan menambah wawasan pembaca. Kisah nyata yang disampaikan oleh penulis seakan membuat pembaca semakin tertarik karena berdasarkan sudut pandang pelaku sejarah pada saat itu. Klaim buku mengenai memoar masa perang cukup terasa sampai-sampai pembaca yang menghayatinya akan merasakan atmosfer masa itu. Namun sisi kesejarahan buku ini mungkin bagi beberapa orang yang memiliki dasar ketidaksukaan pada sejarah mungkin akan merasa sedikit bosan. Buku ini memang cocok untuk para penggemar sejarah bangsa terutama yang ingin mengetahui bagaimana kehidupan di masa transisi kekuasaan Belanda dan Jepang. Akan tetapi buku ini menyajikan sudut pandang yang cukup pro Belanda, karena itu buku ini dianggap memiliki tingkat subjektivitas pada tokoh utama yang cukup tinggi intensitasnya.