Book Of The Month : “Hujan Bulan Juni” (Review oleh Farrel, Sosiologi 2018)

Judul : Hujan Bulan Juni

Pengarang : Sapardi DJoko Damono

Penerbit : Grasindo

Tahun Terbit : 1991

Tanah air kembali kehilangan penyair rendah hati, Sapardi Djoko Damono pada Minggu (19/7) pagi. Kepergiannya membuat para pembaca terutama penggemar yang sering membaca karya-karya beliau memposting kembali puisi – puisi yang ia tuliskan pada buku berjudul Hujan Bulan Juni. Buku ini berisi kumpulan sajak puisi Sapardi Djoko Damono yang paling fenomenal, salah satunya yang terkenal dengan judul “yang fana adalah waktu”. Terdapat 102 kumpulan puisi karya yang ditulis bapak Sapardi dari tahun 1964 sampai dengan 1994. Buku karya bapak Sapardi ini sangat direkomndasikan karena dapat membuat anda yang belum mengenal karya beliau dapat mengenal karya-karya puisi beliau yang begitu hebat dan dapat belajar bagaimana bapak Sapardi ini menyampaikan puisi-puisinya yang begitu khas.

PERJALANAN TIKTOK DI INDONESIA, DULU DICEKAL SEKARANG DIPUJA ( Oleh : Deandra Adine, M. Faiz Mumtaz )

Aplikasi yang muncul pertama kali pada tahun 2016 disebut, Douyin, di negara asalnya, Cina. Douyin merupakan aplikasi video pendek yang dikeluarkan oleh perusahaan Cina, ByteDance. Akibat dari banyaknya pengguna aplikasi di negeri bambu ini, ByteDance melakukan perluasan jangkauan aplikasi menjadi aplikasi yang dapat di akses secara global dengan nama Tiktok. Seperti Youtube, yang mendukung kreativitas generasi muda, Tiktok juga memiliki misi memberikan fasilitas video pendek untuk banyak orang agar dapat mengekspresikan kreativitasnya. Zhang Yiming, sosok dibalik Tiktok, mengatakan bahwa di industri konten, teks dan gambar telah berkembang menjadi video, dan konten banyak yang berasal dari pengguna. Hadirnya tiktok dilakukan untuk menjawab kebutuhan di ranah industi tersebut.

Pada tahun 2018, Tiktok hadir di Indonesia sebagai aplikasi hiburan yang menarik perhatian warga net. Di tahun yang sama, Kementrian Kominfo memblokir aplikasi asal Cina, yang dianggap membawa konten negatif untuk anak-anak seperti pornografi, pelecehan agama, dan lain sebagainya. Keputusan pemblokiran ini mendapat respon dari headquarters Tiktok. Mereka terbang ke Indonesia untuk memenuhi persyaratan terkait keamanan dan penyaringan pada kualitas konten. Pemenuhan syarat itu berbuah hasil sehingga Kementrian Kominfo membuka blokir sampai akhirnya aplikasi tersebut dapat digunakan di Indonesia, bahkan sampai sekarang. Tahun 2020, dimana terjadinya pandemi virus corona tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di seluruh dunia, mengharuskan tiap warga negara untuk melakukan karantina dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Konten-konten seperti imitating, tutorial memasak, atau dance yang disuguhkan oleh Tiktok dapat menjadi upaya untuk menghibur diri di kala karantina.

            Tiktok menjadi media platform yang paling viral saat ini di Indonesia. Tak sedikit para selebriti, influencer, para tokoh penting hingga kalangan remaja tanggung tak luput dari demam Tiktok. Jika kita flashback pada tahun 2018, salah satu nama yang akan terngiang-ngiang jika mendengar kata Tiktok maka kita akan tertuju pada sosok Bowo Alpenliebe. Dengan gaya nyentriknya, Bowo mengaet penggemarnya lewat video unggahannya di Tiktok hingga melakukan meet and greet “berbayar” dengan para penggemarnya. Tak jarang, orang-orang pada saat itu memiliki stigma terhadap Tiktok ini. Namun, fenomena Tiktok seakan akan mejadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan modern saat ini. Melalui konten-kontennya, Tiktok menjelma sebagai media platform yang paling banyak digunakan. Bahkan telah diunduh lebih dari 700 juta pengguna pada 2019. Head of User and Content Tiktok Indonesia, Angga Anugrah Putra menyebutkan khusus pengguna Tiktok Indonesia memiliki karakter unik yang senang berbagi dan menggunakan beragam fitur unik dengan ragam kreatifitas.