UTBK: Kisah Impian dan Bisnis Bimbingan

Oleh: Fabian Rangga Putra

Momentum bulan Maret hingga April merupakan tanggal yang penting sekaligus mendebarkan bagi siswa kelas dua belas SMA. Bagaimana tidak? wong pengumuman seleksi SNMPTN dan dibukanya pendaftaran SBMPTN itu deket-deketan. Mereka yang telah lulus melalui jalur SNMPTN pastinya lega untuk saat ini, namun beda ceritanya dengan mereka yang tidak lolos SNMPTN atau bahkan tidak masuk list penjaringan kuota SNMPTN. Mereka yang tidak lulus mayoritas harus banting stir untuk mempersiapkan diri dalam UTBK untuk SBMPTN. Layaknya game battle ground tanpa pintu (dibaca Free Fire), mereka harus bergelut matian-matian menghadapi ratusan hingga ribuan siswa untuk mendapatkan satu kursi di kampus dan jurusan impian mereka. Uniknya di UTBK ada beberapa materi yang tidak pernah diajarkan di kurikulum SMA, contohnya logika kuantor atau bentuk soal Panda yang sempat viral pada UTBK 2020 silam. Dengan adanya materi yang tidak diajarkan tersebut ternyata menimbulkan efek kepada banyak siswa yang mencari tempat bimbingan belajar selain di sekolah. Bimbingan belajar ini pun hadir dengan konsep online maupun offline dengan patokan harga yang bervariasi, mulai dari harga yang sangat terjangkau hingga mematok harga sampai ratusan juta karena memiliki garansi kelulusan. Fenomena inilah yang akan kita bicarakan disini. Lembaga bimbingan belajar kini seolah-olah menjadi ladang bisnis baru yang menjanjikan cuan besar dan tetap eksis hingga tahun ke tahun. Tapi pertanyaannya apakah ini menjadi hal yang baik bagi siswa? atau malah menjadi pemeras kantong siswa dan keluarganya?

Seiring semakin canggihnya zaman kini bimbingan belajar telah berkembang menjadi dua varian mencengangkan yaitu bimbel online dan bimbel offline. Keduanya bersaing saling adu strategi dalam menjaring siswa agar bergabung dengan mereka. Bak penjual provider kartu Smartfren, banyak sekali promosi yang dilakukan pihak bimbel menuju sekolah-sekolah guna menggaet para pelajar baru. Pertama kita akan membahas tentang bimbel offline terlebih dahulu. Bimbel offline sendiri yang kita ketahui bersama sudah malang melintang di Indonesia, bahkan jauh sebelum bimbel online menjadi trending baru-baru ini. Soal biaya, bimbel offline lebih mahal dari bimbel online karena memang fasilitas yang didapat cukup banyak mulai ruang kelas ber-AC, buku, konsultasi langsung, hingga merchandise. Tak tangung-tanggung, mereka pun dengan lantang berani memberi jaminan lulus dengan konsekuensi uang kembali bila tidak lulus. Masalahnya disini adalah branding tersebut. Pihak bimbel offline pasti akan mem-branding dirinya seakan mereka bimbel terbaik, bahkan dalam proses pemasarannya ke sekolah-sekolah terkadang seorang sales sampai sedikit “menyindir” bimbel pesaing lain. Terkadang juga sampai meminta nomor telepon siswa dan setelah mendapat nomor didapat mereka akan melakukan promosi melalui nomor tadi yang bagi sebagian orang merasa terganggu dengan pesan mereka. Dengan adanya promosi yang masif ini, pertanyaannya sekarang ialah apakah menjadi hal yang etis ketika mem-branding bimbel dengan sedemikian masifnya dan menawarkannya kepada siswa-siswa yang tentunya pada waktu itu sedang menghadapi fase dilema, tertekan, dan takut dalam menghadapi UTBK? Dampaknya adalah siswa menjadi semakin bertambah beban fikirannya untuk memikirkan pilihan bimbel yang tepat ditengah beban-beban fikiran lainnya seperti materi yang diujikan, pilihan jurusan, nilai di sekolah, dan sebagainya. Menurut hemat saya, disini bukannya semertea-merta melarang kegiatan promosi. Namun, dengan melihat sebegitu masifnya maka seakan terlihat tidak etis apalagi memiliki dampak pada siswa.

Kemudian kita beralih ke bimbel yang sifatnya online. Bimbel online mulai digemari baru-baru ini dengan munculnya aplikasi bimbel online yang bisa diunduh via smartphone. Biaya yang ditawarkan pun cukup beragam, biasanya disesuaikan dengan durasi berlangganan. Branding-nya pun kurang lebih sama seperti yang dilakukan lembaga bimble offline pada umumnya. Pembedanya terletak pada bimbel online lebih sedikit mempromosikan fiturnya karena memang hanya berbasis digital, tidak ada kelas atau buku-buku yang ditawarkan. Promosi yang dilakukan jangkauannya lebih luas tak hanya di sekolah-sekolah bahkan sampai iklan di TV, YouTube, dan media sosial banyak berlalu-lalang iklan-iklan tentang bimbel online. Efek yang ditimbulkan pun sama akan membuat siswa bingung memilih dan menambah beban pikiran mereka, meskipun ada beberapa aplikasi bimbel online yang menyediakan free-trial. Poin saya pun disini sama halnya dengan sebelumnya, apakah etis melakukan branding sedemikian masifnya dan menyodorkannya pada siswa yang pada saat itu tengah berada pada fase gelisah, takut, dan galau menghadapi UTBK, atau bahkan sedih karena ada masalah pada hidupnya. Bayangkan bagaimana bila pihak bimbel menawarkan produknya tadi kepada siswa yang notabenenya berasal dari ekonomi kebawah dan dia tahu bahwa dia tidak mampu ikut bimbel tersebut namun tetap “diteror” oleh pihak bimbel guna sarana promosi. Betapa tertekannya dia ditengah ekonomi yang sulit, kesulitannya meraih impiannya, dan ditambah promosi-promosi datang yang dia tahu dia tidak mampu membelinya.

Menteri Pendidikan kita saat ini pernah mengatakan bahwa UN sebagai salah satu bentuk diskriminasi kepada siswa, di mana mereka yang memiliki ekonomi lebih akan memiliki chance lebih besar untuk memiliki nilai tinggi karena mampu membeli bimbel. Sedangkan mereka yang ada di ekonomi menengah ke bawah tidak punya biaya untuk bimbel menghadapi UN. Lalu, apa bedanya dengan fenomena UTBK? Framing yang seakan-seakan pula mengharuskan seorang siswa ikut bimbel untuk menghadapi UTBK karena terdapat materi yang tidak diajarkan di sekolah. Poin saya disini bukan untuk meminta agar UTBK dihapus, tetapi apakah tidak ada modifikasi kurikulum yang bisa dilakukan oleh pemerintah, terutama Kemendikbud agar sekolah bisa sedikit mengajarkan materi-materi UTBK agar ketergantungan siswa terhadap bimbel, baik online maupun offline menjadi bsedikit berkurang. Selama ini pelajaran di SMA terutama kelas dua belas hanya terfokus pada bagaimana bisa menghadapi Ujian Sekolah sehingga yang terjadi adalah saat seorang siswa memulai persiapannya menghadapi UTBK, ketergantungannya terhadap bimbel menjadi sangat besar. Ketergantungan inilah yang dimanfaatkan oleh pihak bimbel untuk meraup siswa dan keuntungan sebanyak-banyaknya. Pada akhirnya yang terjadi bukanlah proses belajar, melainkan “its all about business”. Hingga pada akhirnya kita sampai pertanyaan pamungkas yaitu “apakah sekolah juga menjadi ladang bisnis saat ini?”.